Articles

Digital Research Methods atau Metode Riset Digital memberikan pengenalan berbagai metode penelitian digital termasuk metode numerik, geografis, tekstual, audio dan visual. Perjumpaaan Metodologi termediasi teknologi digital merupakan suatu trend baru dalam ciri ciri dan cara kerja sains. Metodologi sebagai pendasaran epistemologis terhadap teori peneletian merupakan kerangka kerja dari collecting dan analysis data. Collecting dan analysis data dalam pengembangan teori merupakan context of justification, sedangkan dalam penemuan teori merupakan context of discovery. 

Metodologi (metahodos) sebagai context of justification merupakan kerangka epistemologis sedangkan yang mengkhususkan pada prosedur penelitian merupakan metode penelitian. Metodologi merupakan cara kerja ilmu ilmu dalam kerangka logis. Prosedur penelitian merupakan implementasi metodologi yang berkelindan dengan ciri-ciri ilmu. Ciri ciri ilmu menentukan cara kerjanya. 

Istilah ‘digital‘ dalam metodologi digunakan sebagai istilah umum untuk menggambarkan metode penelitian yang menggunakan produk berbasis komputer (teknologi digital dan Internet) untuk pengumpulan dan analisis data, termasuk teknologi online, seluler, lokasi, dan berbasis sensor. ‘Metode penelitian’ sebagai bagian dari metodologi adalah alat dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data. 

Tulisan ini merupakan pengantar dalam mengenal metode riset digital yang sedang berkembang dalam penelitian sains sains humaniora, sosial dan kegamaan. Oleh karena itu, tulisan ini  hanya suatu recollection of meaning atau mencari informasi tentang metode penelitian digital yang belum kita temukan. Pertanyaan diajukan untuk merangsang pemikiran dan refleksi, yang membantu pembaca untuk memikirkan lebih dalam tentang setiap metode dan mencari tahu apakah metode tersebut cocok untuk proyek mereka, disertasi atau pengajaran.

Metodologi (sistem pedoman atau kerangka kerja yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah merupakan teoritisasi epistemologis (Filsafat Penelitian), sedangkan prosedur penelitian atau implementasi metodologi sering disebut sebagai metode. Disinilah kerangka epistemologis dalam penelitian melahirkan apa yang disebut dengan piramida ilmiah dan Siklus Empiris sebagai pedoman dalam merancang bangun penelitian. Setiap proposal penelitian tidak lah lepas dari piramida ilmiah dan Siklus Empiris (Tulisan menyususl).

Digital methodology membahas problematika penelitian yang termediasi atau termediatisasi oleh teknologi Digital. Pertama, Penggunaan teknologi digital sebagai metode penelitian merupakan seperangkat media digital yang dijadikan TOOLS dalam prosedur penelitian seperti survey online, Digital Forum, wawancara online, quick account, survey kepuasan. Teknologi Digital menjadi mediasi dalam penelitian. Kedua, Teknologi digital menjadi objek penelitian dan metodologi sekaligus.

Digital Methodology membicarakan pada metode dan teknik baru yang telah berkembang bersama dengan teknologi digital yang relevan, seperti analisis big data, analisis web, Data mining, analisis key words, termasuk Webometrics (https://uinsa.ac.id/blog/webometrics, 2 Maret 2024), pembelajaran mesin, dan pemrosesan analitik online, termasuk Scientometrics, informetrics, Bibliometrics sebagai obyek penelitian dan metodologi.

Sejak tahun 1960-an, muncul tiga istilah serupa dalam bidang ilmu perpustakaan, filologi, dan ilmu sains, yaitu bibliometrik, scientometrik, dan informetrki, yang mewakili tiga subdisiplin kuantitatif yang sangat mirip. Ketiga istilah metrik dapat membingungkan dan sering disalahgunakan. Informetri dan bibliometrik saling berpenetrasi namun mempunyai aspek yang berbeda dalam objek penelitian, ruang lingkup penelitian, dan satuan pengukuran. Informetri dan scientometri sangat berbeda dalam tujuan penelitian dan objek penelitian, serta ruang lingkup penelitian dan penerapannya. 

Richard Rogers dalam bukunya, Digital Methods beranggapan bahwa Metode riset digital merupakan  metodologi umum yang menggunakan teknologi online dan digital untuk menghasilkan, mengumpulkan, dan menganalisis data kualitatif dan kuantitatif untuk menyelidiki suatu fenomena (Rogers, 2013). ‘Metode penelitian yang dimediasi secara digital’ berarti penggunaan teknologi online dan teknologi digital lainnya, seperti survei online, pesan teks, dan sistem respons suara interaktif untuk tujuan penelitian.

Metode Riset Digital saat ini masih neologisme di kalangan civitas akademika Universitas Islam Negeri termasuk UIN Sunan Ampel. Saat ini kecenderungannya masih mengadaptasi  metode tradisional yang telah dimodifikasi, diubah, atau dibantu oleh teknologi digital, meskipun metode tersebut sendiri mungkin memiliki sejarah pra-digital yang panjang (misalnya visualisasi data, wawancara, kuesioner, dan analisis jaringan sosial). Pendekatan kualitatif dan kuantitatif tercakup di sini, termasuk pendekatan naturalistik, eksperimen dan survei yang dirancang secara ketat, serta pengumpulan berbagai bentuk data non-reaktif, sebagaimana dalam sains ideografis

Banyak Skripsi, tesis, disertasi maupun artikel jurnal di UIN Sunan Ampel yang sudah menggunakan teknologi digital sebagai obyek penelitian, tetapi metodologinya masih menggunakan metode tradisional. Richard Rogers dalam bukunya, The End of the Virtual Digital Methods (2009:1-37) menganggap perbedaan antara metode riset digital native dan digital migrasi dalam melihat obyek kajian peneltian secara ontologis sudah berbeda. yaitu, antara objek, konten, perangkat, dan lingkungan ‘lahir’ di media baru, sebagai lawan dari mereka yang telah ‘bermigrasi’ ke dalamnya. 

Penelitian dosen dan mahasiswa yang menggunakan teknologi digital sebagai obyek penelitian seperti penggunaan cyberspace (Medsos) you tube, FB, Whatapps, atau Big Data, Data mining, analisis web masih menggunakan penelitian tradisional, sehingga terjadi penalaran dan penyimpulan abduksi. Tulisan tentang apapun yang menggunakan data mining atau “BIG DATA” (tulisan tentang ini menyusul) di perpustakaan, atau website sebagai obyek penelitian, maka disini perlu menggunakan metode riset digital.

Kalaupun ada yang menggunakan digital sebagai mediatiasasi, pendekatannya dipaksakan pada studi media dan komunikasi. Medianya yang disoroti dengan teori framming, analisis Isi, wacana kritis, sehingga ketika ada tulisan perjumpaan teologi dan agama dengan teknologi digital, bukan content artikel yang direview, tetapi media digitalnya yang dipaksa ada dalam bodi tulisan. Disinilah kita perlu, literasi penelitian digital. Dawson dalam bukunya, A-z of Digital Research methods (2020) menyebut ada sekitar 60 jenis metode riset Digital.

Metode Riset Digital juga tergantung dari ciri ciri sains, apakah yang bersifat nomotetis ataukah ideografis. Ciri ciri sains menentukan cara cara kerja dalam penelitian. Perangkat penelitian digital dalam sains nometetis lebih mudah dipraktekkan karena cenderung menggunakan aplikasi yang telah siap pakai sesuai algoritma proposal penelitian. Tetapi untuk sains ideografis lebih banyak variasi dan murah termasuk netnografi, disamping metode riset digital lainnya.

Metode riset digital merupakan sebuah bidang penelitian yang memanfaatkan teknologi digital dan internet untuk mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan menghasilkan temuan baru. Penelitian ini dapat dilakukan dalam berbagai bidang, seperti ilmu sosial, ilmu alam, humaniora, dan bisnis. ‘Metode Riset (penelitian) yang dimediasi secara digital’ berarti penggunaan teknologi digital online dan lainnya, seperti survei online, pesan teks, dan sistem respons suara interaktif untuk tujuan penelitian. 

Metode riset yang termediasi teknologi digital mempunyai ciri ciri, pertama; menggunakan teknologi digital, seperti internet, komputer, perangkat lunak, dan media sosial untuk mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan menyebarkan temuan. Kedua, Metode riset  digital sering kali melibatkan analisis data yang besar dan kompleks. Data ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti media sosial, situs web, sensor, dan perangkat wearable. Ketiga, Interdisipliner, yang berarti menggabungkan berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan temuan yang lebih komprehensif.

Referensi

Koraljka Golub and Ying-Hsang Liu, “Digital Research in the Arts and Humanities” dalam Koraljka Golub and Ying-Hsang Liu (ed), Information And Knowledge Organisation In Digital Humanities Global Perspectives. (London-New York: Routledge, 2022) 

Catharine Dawson, A-z of Digital Research methods, (New York; Routledge, 2020)

Bailey J, Mann S, Wayal S, et al. Sexual health promotion for young people delivered via digital media: a scoping review. Southampton (UK): NIHR Journals Library; 2015 Nov. (Public Health Research, No. 3.13.) Chapter 7, Digital research methods and optimum research methodology to evaluate digital interventions. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK326976/

Alves, D., (2014) Introduction: digital methods and tools for historical research. International Journal of Humanities and Arts Computing 8(1):1-12. https://doi:10.3366/ijhac.2014.0116

Ash, J., Kitchin, R., and Leszczynski, A. Digital Geographies. (London: SAGE Publications Ltd., 2018)

Rogers, Richard, The End of the Virtual Digital Methods (London: SAGE Publications Ltd 2009)

Rogers, Richard, Digital Methods. (London: SAGE Publications Ltd., 2013)

Rogers, R., (2019) Doing Digital Methods. London: SAGE Publications Ltd.

Snee, H., et al., (2016) Digital Methods for Social Science. An Interdisciplinary Guide to Research Innovation. London: Palgrave Macmillan.

 

Suhermanto Ja’far

(Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel)