Articles

Setiap kita mendengar kata filsafat, yang muncul dalam benak kita adalah hal yang melangit dan komentar miring termasuk dari para akademisi yang terkesan tidak paham filsafat. Filsafat sebagai induk dari sains merupakan satu kesatuan holistik antar sains di eranya. Setiap filosof di era itu adalah seorang sastrawan, teolog, dan saintis. Tetapi Ketika sains keluar dan lahir dari filsafat, maka filsafat akhirnya menjadi frame thinking terhadap sains dengan perangkat logika. Di era digital ini, problem filsafat yang memperbincangkan ontologi, epistemologi dan aksiologi sebagai sistematika filsafat telah disebut sebagai filsafat tradisional. Sebagai satu kesatuan, filsafat berpusat pada Prisca Philosophia dan Prisca Theologia.

Filsafat tradisional yang dibahas secara sistematis merujuk pada pandangan Kant. Kant mendefinisikan filsafat dalam pengertian universal dalam kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawabnya: Pertama. Apa yang bisa saya ketahui? Kedua, Apa yang harus saya lakukan? Ketiga, Apa yang bisa saya harapkan? Keempat, Mengapa manusia itu?” Pertanyaan terakhir dijawab oleh antropologi, dan Kant menyatakan: “Pada dasarnya, semua ini dapat dianggap sebagai antropologi, karena tiga pertanyaan pertama berkaitan dengan pertanyaan terakhir.” Dalam mengarakterisasi manusia, Kant terutama menekankan bahwa manusia adalah diri sendiri yang sadar.

Manusia memiliki gagasan “Aku”, mereka adalah orang-orang yang tahu diri, sadar diri dan penyadaran diri melalui semua perubahan secara dialektis. Hal inilah, menurut Kant, yang membuat mereka bebas dan mampu bertindak sebagai agen bebas dengan otonomi tindakannya. Saat ini kita hidup di era digital dan kita sedang mengalami revolusi digital. Teknologi digital secara radikal mengubah bidang filsafat tradisional. Filsafat telah berhadapan dan dimediasi ataupun termediatisasi oleh teknologi Digital. Adanya mediasi dan mediatisasi inilah yang melahirkan Digital Philosophy. Apa Digital Philosophy ? Apa relevansinya Digital Philosophy dengan digitalization.

Tulisan ini merupakan kajian awal tentang Digital Philosophy minimal di lingkungan UIN Sunan Ampel. Ada dua hal mendasar dalam tulisan ini tentang Digital philosophy yang perlu dikembangkan oleh para akademisi. Pertama Digital Philosophy kita anggap sebagai perjumpaan filsafat dengan teknologi digital dan atau teknologi sebagai tools (mediasi) Filsafat secara sistematika. Disini mendialogkan konsep sistematika Filsafat dengan teknologi digital, (Beda pembahasan dan arah kajian dengan Filsafat teknologi). Kedua, Digital Philosophy sebagai sebuah periode sejarah yang kita alami. Filsafat berhadapan dengan problematika digital dalam segala hal.

Perjumpaan filsafat yang termediasi digital ini, maka munculah, pertama, Digital metaphysics/Ontologi yang terdiri dari kajian Digital Theology (Digital religion), Animus Digitus (Homo digitus), Digital Cosmology (Metaverse), Digital Anthropology, digital immortality. Kedua, Digital Epistemology (Cybernetics—Epistemologi terapan), Digital Philosophy of science, Digital Methodology, Logika digital (algoritma dan Matrix); Ketiga, Digital Ethics dan Aestethics. Sedangkan Digital philosophy sebagai bagian sejarah yang kita alami akan berhadapan dengan persoalan digital yang hadir dalam segala bidang, mulai dari persoalan  psikologis, sosiologis, teologis. Tidak kalah penting dari problem digital saat ini adalah menyangkut problematika Transhumanisme, Cybernetics organisme dan Singularity, disamping itu persoalan mind uploading, Brain Computer Interface (BCI), Human Machine Interface dan persoalan generasi milenial asli (native) dengan segala persoalannya.

Digital Philosophy merupakan suatu kajian yang radix tentang realitas dan kesunyataan hidup; interaksi antara kemanusiaan dan digital, baik sebagai extension (kepanjangan) dan Intension dari diri manusia serta dampaknya terhadap cara hidup masa depan umat manusia secara sistematis-kritis, integral-rasional, komprehensif; holistic dan relasionalitas manusia dengan perangkat digital. Karena begitu luasnya kajian digital philosophy, maka disini relevan jika arah kajian pada sistematika digital philosophy dan Sejarah atau periodisasi filsafat di era digital.

Dikalangan PTKIN termasuk UINSA jauh tertinggal. Digital philosophy sudah berkembang menjadi sistem teori pengetahuan sejak pertengahan 2010an, dan sejak 2018 saya memasukkan digital philosophy pada kuliah orientasi filsafat. Digital metaphisics untuk matakuliah metafisika; digital technoscince utk matakuliah filsafat ilmu; digital theology untuk matakuliah metafisika, animus digitus untuk digital anthopology dan metaverse utk kosmologi digital. Cybernetics untuk matakuliah epistemologi terapan dengan sedikit bahasan digital methodology dan prosedur penelitian atau digital research methods baik utk nomotetis ataupun ideografis. Tentang tulisan ini lihat (https://uinsa.ac.id/blog/digital-research-methods).

Problematika serius di era digital adalah menyangkut Artificial intelligent, mind uploading, Brain Computer Interface yang berdampak pada pertanyaan mendasar dari Filsafat. Apakah Artificial intelligent berdampak terhadap eksistensi kesadaran manusia, bagaimana relasi kesadaran dengan tubuh mesin melalui teknologi BCI. Bagaimana eksistensi manusia di era digital, dan berjibun pertanyaan lainnya. G. Dodig-Crnkovic dalam artikelnya, “Shifting the paradigm of philosophy of science: philosophy of information and a new renaissance,” Minds and Machines (2003: 521-536) menganggap kecerdasan buatan adalah bidang yang terus berkembang dalam komputasi. Para peneliti di bidang kecerdasan buatan memilikinya menemukan berbagai cara untuk membuat mesin melakukan pengenalan pola, pembelajaran, pemecahan masalah, pembuktian teorema, permainan, induksi, dan manipulasi bahasa.

Edward Fredkin dalam artikelnya, “An introduction to digital philosophy,” (2003: 189-247) berpandangan bahwa Digital Philosophy merupakan system dan cara berpikir dalam memandang sesuatu dengan cara baru di bidang digital humanitis yang sedang berkembang dalam lingkungan digital oleh seorang filsuf. Digital Philosophy yang diperkenalkan Fredkin sesungguhnya lebih mengarah pada Digital Phisycs, karena kajian ini dilakukan oleh kelompok fisika digital di Laboratorium MIT yang dipelopori oleh Fredkin bersama Tommaso Toffoli dan Norman Margolus sebagai tokoh utamanya.

Filsuf digital memajukan penelitian filsafat dan bidang terkait melalui teknologi digital. Sama seperti studi tentang kecerdasan buatan yang memicu penyelidikan filosofis sejati terhadap hakikat pikiran dan kecerdasan, filsafat digital akan memicu pengambilan artefak rekayasa digital sebagai subjek penyelidikan bersama oleh para filsuf. A. Monnin and H. Halpin, dalam artikelnya, “Toward a philosophy of the wed: foundations and open problems,” (2012, 361-379) menyederhanakan Digital Philosophy dengan pembahasan Philosophy of Physics yang berkiatan dengan konsep materi, energi, waktu, ruang, dan proses yang dapat dipahami. Biasanya diasumsikan bahwa ruang, waktu, benda, dan kuantitas pada akhirnya terbatas dan terpisah. Diasumsikan bahwa program komputer dapat memodelkan proses digital yang mendasari cara kerja berbagai sistem dunia nyata.

Edward Fredkin mengawali Digital Philosophy diterapkan pada fisika, biologi, dan kimia. Dia menganggap bahwa Digital Philosophy berbeda dengan filsafat fisika tradisional. DP menegaskan bahwa setiap sistem fisik harus memiliki representasi digital. Ini mengusulkan model diskrit deterministik untuk proses fisik. Model fisik dapat diprogram pada komputer sebagai perkiraan digital dari model kontinu. Jenis fisika yang didapat dari Digital philosophy adalah model mikroskopis yang dapat diprogram pada komputer dan dapat memecahkan masalah universalitas dalam fisika.

Konsep ini sesungguhnya mempunyai kemiripan dengan gagasan Kosmologi sebagai Philosophy of Phisics dalam konsep Christian Wolff. Digital Philosophy berasumsi bahwa atribut makhluk hidup ditulis dalam kode kode digital. Pemrosesan informasi pada makhluk hidup diawali dengan proses informasi sperma dan sel telur atau informasi digital yang dikodekan dalam DNA. Digital Philosophy yang digagas Fredkin lebih mengarah pada frame Thingking yang diterapkan pada Fisika, biologi dan Kimia.

Digital Philosophy juga berbeda dengan Filsafat komputasi. Filsafat Komputasi lebih fokus mempelajari konsep dan asumsi dasar dalam teori komputasi, termasuk pengertian sistem komputasi, komputasi, algoritma, komputasi, provabilitas, kompleksitas komputasi, data, informasi, dan representasi. Digital Philosophy merupakan mode of being, mode of thinking dan type of meaning dalam Filsafat Komputasi, yang lebih menekankan pada dasar dasar epistemologis, ontologis maupun axiologis terhadap teori kumputasi, algoritma dan sistem komputasi secara umum dengan pendekatan cybernetics.

Namun yang terpenting, telah menjadi bukti bahwa pesatnya perkembangan dunia digital dengan teknologi baru, peluang bisnis baru, dan cara-cara baru dalam melibatkan manusia mengharuskan kita untuk lebih memikirkan tujuan kita dan alasannya. Dengan demikian, filsafat dapat memberikan banyak manfaat. Berfilsafat dan secara kritis merefleksikan situasi saat ini dan skenario masa depan di dunia digital dapat membantu kita mengarahkan perkembangan teknologi ke arah yang dapat meningkatkan kesejahteraan manusia.

Tren terkini yang lebih menggunakan filsafat eksperimental dan filsafat digital tampaknya mulai menghilangkan perbedaan antara metode sains dan filsafat. Setidaknya dalam beberapa kasus, para filsuf beralih ke metode empiris (berkaitan dengan problemtika era digital), dan dalam prosesnya harus mempertimbangkan bagaimana metode tersebut harus didialogkan dengan pertanyaan dan pendekatan filosofis tradisional. Dalam pembicaraan ini, saya ingin mengambil salah satu elemen diskusi metodologis dalam konteks Digital philosophy of science. Humaniora digital lebih jauh lagi, filsafat digital.  Pada intinya merupakan Upaya mengeksplorasi filosofis terhdap obyek digital yang disebut disiplin “Big Data”.

Dunia kita sedang mengalami transformasi digital yang sangat besar. Hampir tidak ada bidang sosial, informasi, politik, ekonomi, budaya, dan biologi yang tidak berubah. Apa yang dapat disumbangkan oleh filsafat ketika kita mencoba memahami dan memikirkan perubahan-perubahan ini. Secara epistemologis, apakah sebagian besar dari kita memahami mediasi baru ini – dan juga struktur – dari dunia baru kita? Terakhir – bagaimana lanskap teknologi baru (Digital) tidak hanya membentuk kondisi kehidupan kita tetapi juga imajinasi kolektif dan identitas diri kita?

Referensi

Pedersen, Esther Oluffa and Brincker, Maria. “Philosophy and Digitization: Dangers and Possibilities in the New Digital Worlds” SATS 22, no. 1 (2021): 1-9. https://doi.org/10.1515/sats-2021-0006

Esther Oluffa Pedersen and Maria Brincker, “Philosophy and Digitization: Dangers and Possibilities in the New Digital Worlds,” ATS 2021; 22(1): 1–9 https://doi.org/10.1515/sats-2021-0006

  1. Šuran, Quo Vadis Digitalis Homine? Digital Philosophy and the Universe, Vol 8, br. 15, 2019.(2375-2384)

Gualeni, S. “A Philosophy of ‘DOING’ in the digital”. In Romele, A. and Terrone, E. (eds.), Towards a Philosophy of Digital Media, (Basingstoke (UK): Palgrave Macmillan, 2018), 225-255

Matthew N. O. Sadiku, Mahamadou Tembely, and Sarhan M. Musa, “Digital Philosophy”, International Journals of Advanced Research in Computer Science and Software Engineering (Volume-8, Issue-5, 2018). ISSN: 2277-128X

Dodig-Crnkovic, “Shifting the paradigm of philosophy of science: philosophy of information and a new renaissance,” Minds and Machines, vol 13, 2003, 521–536.

Monnin and H. Halpin, “Toward a philosophy of the wed: foundations and open problems,” Metaphilosophy,vol. 43, no. 4, July 2012, 361-379

Fredkin, “An introduction to digital philosophy,” International Journal of Theoretical Physics, vol. 42, no. 2, February 2003,189-247.

[Suhermanto Ja’far Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat]