Column UINSA

UIN Sunan Ampel Surabaya

Sunday, 11 December 2022

ANDAI TERORIS ITU NONTON FILM KINGDOM OF HEAVEN

Oleh:
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag

Salah satu film epic yang mengisahkan perjumpaan pahit antara Islam dengan Kristen adalah film Kingdom of Heaven. Film yang rilis tahun 2005 ini menggambarkan bagaimana dahsyatnya perang salib antara pasukan Islam dengan Kristen di abad ke-12. Perang salib adalah kisah pedih perjumpaan antara Islam dengan Kristen yang sentimennya terus dirasakan kedua belah pihak hingga saat ini.

Salah satu bagian “indah” dari film ini adalah saat Balian (diperankan Orlando Bloom), pemimpin pasukan Kristen, berjumpa dengan Shalahuddin (diperankan Ghassan Massoud), pimpinan pasukan Islam, bernegosiasi untuk menyerahkan Jerusalim ke Islam. Di sinilah percakapan Balian dengan Shalahuddin sangat menyentuh hati. 

Bagi seorang Balian yang meyakini peperangan ini adalah perang yang sepenuhnya ilahi untuk mempertahankan Kota Suci Jerusalim, menyerahkannya kepada musuh seperti sebuah kekalahan iman. Ketika dia harus meninggalkan Jerusalim, dia perlu mendengarkan jaminan dari komandan musuhnya.

Di depan Balian, Shalahuddin memberi penawaran. “I will give everyone journey to the Land of Christian. Everyone, women, children, parents, and knights and warriors, as well as your queen…. No one will be hurt. I swear to God.” (“Saya akan menjamin keselamatan setiap orang Kristen yang ingin pindah ke Negeri Kristen. Setiap orang, perempuan, anak-anak, orang tua, para ksatria, seluruh pasukan, termasuk Ratumu. Tak ada seorang pun yang akan disakiti. Demi Allah”). 

Mendengar janji Shalahuddin ini, Balian masygul. Seakan tak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang jenderal yang memenangi sebuah peperangan dan memperlakukan musuh yang dikalahkannya sebegitu terhormat. Apalagi, sebelumnya, pasukan Kristen membunuh seluruh umat Islam yang ada di Kota Jerusalim ketika berhasil merebut kota itu.

“Christians slaughter all Muslims within the walls when taking this city.” (“Pasukan Kristen membantai semua orang Islam di Kota Jerusalim ketika mereka merebut kota ini”). Itulah kalimat yang disampaikan Balian ke Shalahuddin ketika mendengar janji Shalahuddin. Dengan sangat bersahaja, Shalahuddin menimpali, “I’m not kind that person. I’m Saladin. Shalahuddin.” (Saya bukan orang seperti itu. Saya adalah Saladin. Shalahuddin).

Bagi orang seperti Shalahuddin, kebaikan Islam tidak cukup dipropagandakan dengan kata-kata. Taka da gunanya mempropagandakan Islam sebagai agama damai, tapi kelakuan penuh teror. Bagi Shalahuddin, keindahan Islam harus dibuktikan dalam tindakan. Ketika seseorang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kerahmatan bagi seluruh alam, orang lain akan memandangnya sebagai omong kosong ketika orang tersebut justru melakukan tindakan kekerasan, menabar kebencian dan ketakutan kepada orang-orang di sekitarnya.

Bagi seorang Shalahuddin, bahkan ketika dalam sebuah peperangan pun, kemanusiaan harus tetap dijaga dan dihormati. Islam bukan agama yang mengajarkan umatnya untuk menista dan menghinakan kemanusiaan atas nama Tuhan. Bahkan ketika seorang Muslim terlibat dalam sebuah peperangan pun, dia tidak boleh jatuh ke dalam kebencian, dendam, dan penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Lalu, dari mana keluhuran moral seorang Shalahuddin ini berasal? 

Enam ratus tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 638 M, Sahabat Umar bin Khattab, salah seorang sahabat yang langsung meneladani keluhuran hidup Nabi, yang saat itu sedang menjadi pemimpin umat Islam menggantikan Abu Bakar, datang ke Kota Jerusalim (Aelia atau Ilya atau Acre) untuk menerima kunci Kota Jerusalim dari tangan Bishop Sophronius, setelah kota itu dikepung pasukan Islam beberapa bulan. Sebelum menerima kunci tanda pengambilalihan Kota Jerusalim dari tangan pasukan Kristen, Sayyidina Umar menulis sebuah perjanjian yang berisi jaminan keselamatan. 

Apa yang dilakukan Sayyidina Umar adalah sesuatu yang sangat mengagumkan di waktunya. Saat itu, peperangan sama dengan pembantaian dan penghancuran yang dilakukan oleh sang pemenang. 

Inilah isi perjanjian yang kemudian sangat dikenal dalam sejarah dengan istilah al-Uhdah al-Umariyah (Perjanjian Umar): 

“Bismillahir rahmanir Rahim. Ini adalah jaminan keamanan yang diberikan Hamba Allah, Umar, Amirul Mu’minin, kepada penduduk Aelia:
Ia menjamin keamanan bagi jiwa, harta, gereja-gereja, serta salib-salib mereka, baik dalam keadaan sakit ataupun sehat, dan untuk agama mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diambil alih dan tidak pula dirusak, dan tidak ada satu pun yang akan dikurangi dari gereja-gereja itu dan tidak pula dari sekelilingnya; serta tidak dari salib mereka, dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka. Mereka tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun dari mereka boleh diganggu…. Dan jika ada sebagian dari penduduk Aelia yang lebih memilih untuk menggabungkan diri dan hartanya dengan Romawi, serta meninggalkan gereja-gereja dan salib-salib mereka, maka keamanan jiwa, gereja dan salib-salib mereka akan dijamin sampai mereka tiba di wilayah aman….” 

Inilah ajaran Islam yang diucapkan dan diteladankan oleh sang Rasul, para Sahabatnya, dan para pengikutnya yang memahami Islam yang sesungguhnya. Jika saat ini, ada seorang Muslim yang menjadi teroris, yang mengebom orang-orang tak berdosa di sebuah negeri damai, dan menganggap seluruh tatanan di negeri ini sebagai thaghut yang harus diperangi dan dilenyapkan, entah kepada siapa dia belajar Islam.

Andaikan Agus Sujatno alias Abu Muslim, pelaku bom bunuh diri di Mapolsek Astanaanyar, Bandung, menonton film Kingdom of Heaven, tentu dia akan melihat bagaimana kemuliaan Islam ditindakkan oleh seorang Jenderal Muslim, Shalahuddin. Mungkin bagi orang seperti Agus Sujatno, semua film adalah thaghut, apalagi film itu diproduksi oleh Amerika.[]
#BanggaUINSA
#ILoveUINSA