UINSA Surabaya_Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menyelenggarakan Yudisium ke-28 di Auditorium lantai 5 Gedung FISIP UINSA Kampus Gunung Anyar Surabaya, Kamis (03/08/2023).

Acara Yudisium ke-28 ini diikuti 146 mahasiswa dari tiga program studi yaitu : program studi ilmu politik 41 mahasiswa, program studi hubungan internasional 67 mahasiswa, dan program studi sosiologi sejumlah 38 mahasiswa.

Dekan FISIP, Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag, dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk membangun masa depan dengan inovasi dan dengan cara melampaui segala bentuk keterbatasan. Inovasi menurutnya seperti yang ditulis Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag Inovasi adalah bayangan tentang masa depan yang ideal.

ayo bangun masa depan dengan inovasi, apalagi kalau gagasan sudah ada, ambillah keberanian, karena hal itu yang dilakukan oleh orang-orang sukses seperti Mark Zuckerberg, pendiri facebook, yang berhasil menjadi orang terkaya di dunia setelah berani mengomonikasikan jutaan manusia melalui facebook”

Menurutnya, salah satu kalimat motivasi yang disampaikan Mark Zuckerberg ialah “kalau saja saya tidak berani dengan gagasan dan menunggu sampai sempurna gagasan saya, maka saya tidak akan mampu mengoneksikan jutaan manusia” artinya, ide tidak datang dalam wujud yang sempurna. Dia hanya akan menjadi semakin jelas ketika kita menjalankannya. oleh karena itu belajarlah kepada yang dilakukan Mark Zuckerberg.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag, mengajak calon sarjana untuk melampaui keterbatasan dengan menceritakan perjalanan hidup dirinya yang lahir dari keluarga sederhana dari pelosok kampung di salah satu desa di Kabupaten Bondowoso. Sejak kelas lima Sekolah Dasar (SD) Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag mengaku telah menjadi anak yatim sebab ayahnya meninggal dunia. Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag  memiliki 8 saudara dan dari 8 saudara, semua hanya tamatan sekolah dasar, hanya satu yang berhasil menjadi profesor.

saya ini adalah anak yatim, sejak kelas 5 SD ditinggal bapak dan saya anak terakhir dari 8 bersaudara, kakak saya tidak ada yang tamatan sekolah dasar, kecuali saya, dan saya berhasil menjadi profesor” ungkapnya

Dari perjalanan tersebut, dirinya berpesan agar keterbatasan tidak menjadi penghambat untuk melakukan sesuatu dan untuk mencapai kesuksesan. “jangan sedikitpun mundur karena keterbatasan, yatim saja bisa melakukan sesuatu” ujarnya.
  
Di akhir pidato, Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag menitipkan pesan agar calon sarjana untuk menjaga nama baik UINSA setelah lulus dan ucapan selamat kepada 146 lulusan, karena telah melalui tahap penting dalam hidup. “kalian adalah lulusan kampys Islam, kepada kalian saya titipkan kata-kata Islam, baik dalam hal ibadah ataupun dalam semua aspek keislaman, anda adalah sarjana ilmu politik, anda adalah sarjan hubungan internasional yang Islam di mana pun anda berada” jelasnya.
      
Yudisium ke-28 FISIP UINSA, menetapkan Dimas Ilham Akbar Firadaus, mahasiswa program studi sosiologi sebagai yudisium terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3.83. Dimas Ilham Akbar Firdaus adalah mahasiswa yatim yang ditinggal ayanya di usia 15 tahun dan berhasil menjadi yudisium terbaik.
raihan ini diperoleh atas restu dan doa Ibu, karena saya anak yatim yang dtinggal seorang ayah di usia 15 tahun, tanpa restu dan doa ibu saya tak mungkin sampai pada pencapaian ini” terangnya dalam pidato Yudisium terbaik ke-28.

Selain itu, Yudisium ke-28 ditutup oleh  Eka Yuliana, salah satu mahasiswa hubungan internasional yang sedang berada di Istambul Turkey dan sedang mengikuti Yudisium ke-28 secara daring lewat saluran aplikasi Zoom dari Istambul Turkey.