Berita

REKTOR INGATKAN TIGA PESAN CEGAH DIABET INTELEKTUAL DOSEN ASISTEN AHLI

UINSA Newsroom, Senin (27/02/2023); Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Dosen Asisten Ahli (AA) dan Sekretaris Program Studi (Sekprodi) Hubungan Internasional (HI) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, resmi digelar pada Senin, 27 Februari 2023. Pelantikan 12 orang Dosen AA ini digelar di Ruang Pertemuan Lt. 9 Tower Teungku Ismail Yakub UINSA Surabaya.

Hadir sebagai saksi pelantikan, para Wakil Rektor serta Plt. Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK), Dr. Mamat Salamet Burhanudin, M.Ag. Turut menyaksikan, Dekan, Ketua Lembaga, Kepala SPI, UPT, serta Koordinator pada UINSA Surabaya.

12 Dosen AA yang dilantik pada kesempatan ini antara lain: Abdul Haris Fitri Anto, M.Si.; Abdullah Zaini, S.PdI, M.Pd.; Endang  Wahyuni, S.Ag, M.Psi.; M. Fahmi Aufar Asyraf, B.Ed., M.A.; Muhammad Syifaul Muntafi, M.Sc.; Mega Ayu Ningtyas,  M.H.; Nur Luthfi  Hidayatullah, S.IP., M.Hub.Int.; Moh. Khoirul Anam, M.Li.; Nur Romdlon Maslahul Adi, M.Pd.; Ummy Chairiyah, M.I.Kom.; Ramadhina Ulfa Nuristama, M.A.; dan Masna  Hikmawati, M.A.

Rektor UINSA Surabaya, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., dalam pengarahannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada segenap Dosen AA di dunia akademik yang sebenarnya. Menjadi Dosen AA, menurut Rektor, adalah posisi yang mulia. “Mari kita bertauhid dalam jabatan. Jangan berselingkuh pada jabatan,” ujar Prof. Muzakki membuka pengarahan.

‘Bertauhid dalam jabatan,’ lanjut Rektor, adalah analogi dari adanya kesatuan antara kata dan perbuatan, konsentrasi pada tugas jabatan. “Selingkuh jabatan membuat kita tidak konsentrasi dalam jabatan dan menganggap jabatan ini main-main,” lanjut Prof. Muzakki.

Rektor berpesan, agar para Dosen AA senantiasa menunaikan tugas sebagai akademisi pada posisi dan kelembagaan universitas dengan menempatkan moral akademik diatas segalanya. Hal itu menjadi pesan pertama Rektor, yang dinisbatkan pada huruf ‘U’ dari akronim UIN.

Kedua, I atau Islam. Menyandang kata Islam dalam kelembagaan, menurut Rektor, menjadikan civitas akademika UINSA Surabaya memiliki tanggung jawab lebih besar dibanding kampus lainnya. Karena ada identitas Keislaman yang harus dijaga kehormatannya.

“Setiap kata yag keluar dari mulut kita, ada konsekuensi Keislamannya. Setiap langkah yang kita ayunkan, ada beban Keislaman yang ada disitu. Mari kita pertahankan bersama-sama,” ajak Prof. Muzakki.

 Ketiga, N atau Negeri. Rektor menegaskqn, bahwa sebagai pegawai negeri/pejabat pemerintah, para Dosen AA wajib menjaga marwah diri dan lembaga. Terutama menjalankan tugas pegawai negeri, yang salah satunya sebagai pemersatu bangsa. “Lebih dari itu, saudara sekalian jangan pernah lupa, kita menyandang nama ‘Sunan Ampel’ setelah kata UIN,” imbuh Prof. Muzakki.

Menyandang nama besar ini, tegas Rektor, mengharuskan akademisi UINSA Surabaya juga menyandang pengajaran besar dari Sunan Ampel tentang jati diri keilmuan. Yakni, bahwa ilmu bukan sekadar apa yang ada dalam diri dan hati seseorang. Tapi juga dalam langkah dan perilaku yang ditunjukkan.

“Jangan sampai, saudara-saudara sekalian terkena penyakit ‘diabet intelektual.’ Ilmunya banyak dipakai hanya untuk kepentingan sendiri. Tugas saudara adalah mengembangkan keilmuan itu untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara,” tegas Prof. Muzakki. (Nur/Humas)