Column UINSA

PENTINGNYA RELIGIUSITAS DAN PSYCHOSOCIAL SUPPORT TERHADAP LANSIA DI ERA PANDEMI COVID-19

PENDAHULUAN

Sejak wabah Covid-19 menyantroni Nusantara, setiap orang menjadi ekstra waspada terhadap satu sama lain. Beberapa dari mereka bahkan tak malu memperlihatkan keegoisan secara terang-terangan, salah satunya adalah ketika memperebutkan suatu produk yang dianggap dapat mencegah penularan virus. Kini, menghalalkan segala cara bukan lagi hal yang begitu mencengangkan. Kondisi ini tentunya memicu berbagai kontradiksi dalam hubungan bermasyarakat. (Cindy Minannisa, 2021)
Covid-19 yang dikenal sebagai famili dari SARS dan MERS sendiri adalah suatu virus yang menyerang pernapasan manusia, penyebarannya bisa melalui kontak fisik dengan penderita. Apalagi berdasarkan tingkat kerentanan tubuh, golongan lansia memiliki kemungkinan lebih besar untuk terpapar penyakit. Fakta ini mengakibatkan lansia cenderung mudah mengalami panic attack dan overstressed di era pandemi. Padahal perkara ini dapat diminimalisir apabila kentalnya religiusitas dan dukungan psikososial diterapkan.
Lansia merupakan individu yang berumur lebih dari 60 tahun. Pada umumnya, golongan usia tersebut telah mengalami penurunan fungsi organ secara fisiologis akibat proses penuaan atau degeneratif. Proses penuaan ini juga dapat menurunkan sistem imun pada diri lansia. Alhasil, mereka lebih berisiko untuk terserang berbagai penyakit menular.
Religiusitas menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk meminimalisir panic attack dan overstressed pada lansia. Religiusitas adalah penghayatan terhadap nilai-nilai agama pada diri seseorang yang memiliki kaitan dengan keyakinan kepada ajaran agama dari dalam hati maupun perkataan, kemudian direalisasikan dalam perilaku sehari-hari. Jika faktor ini luput, maka lansia bisa goyah dengan sangat mudah yang mana nantinya akan memengaruhi kesehatan mereka.
Di samping itu, psychosocial support juga teramat diperlukan. Dukungan psikososial merupakan bentuk dorongan psikis yang datangnya dari keluarga, rekan, maupun masyarakat. Tujuannya ialah untuk memberi pengaruh sehat kepada orang lain. Dengan hadirnya faktor ini, sugesti lansia akan dipupuk dengan gejolak positif yang ada di sekitarnya. 

PEMBAHASAN
Maraknya virus Covid-19 sangat berdampak bagi kesehatan masyarakat terutama lansia. Berbagai kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah guna meminimalisir tingginya lonjakan penularan dan kematian akibat Covid-19 seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar atau disingkat PSBB tampaknya juga telah memunculkan beragam permasalahan baru bagi lansia. Anjuran bagi setiap individu khususnya lansia untuk stay at home dan social distancing menyebabkan lansia tidak dapat mengunjungi keluarga, teman, layanan kesehatan, dan tempat beribadah sehingga menimbulkan adanya gejala-gejala psikologis seperti kecemasan dan depresi karena rasa kesepian, terpencil, dan terisolasi.
Tanpa disadari religiusitas sangat diperlukan masyarakat guna mencapai ketenangan batin. Ketenangan batin merupakan salah satu cara untuk menyikapi keadaan yang kita alami saat ini. Ketika seseorang memiliki batin yang tenang, mereka dapat menyesuaikan segala kondisi yang ada dan mampu merasakan kebahagiaan hidup. (Putri, 2020)
Ketenangan batin dapat dicapai dengan cara melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah mengandung psikoreligius (kekuatan rohani) yang dapat menumbuhkan rasa optimisme untuk menciptakan kebahagiaan dan ketenangan batin. Dari sisi psikologis, apabila seseorang beribadah dan menggantungkan harapannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka mereka memiliki ketenteraman hidup karena akan merasa terlindungi dan selalu dijaga oleh-Nya. Ketenangan batin akan dicapai oleh orang-orang yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi dengan menjadikan doa sebagai media perantaranya.
Doa merupakan sebuah rangkaian ibadah dan amalan yang memiliki makna permohonan atau sebuah bentuk relasi kepada Tuhan sebagai wujud harapan setiap individu dalam bentuk pengucapan secara lisan atau hati. Prinsip dalam berdoa ialah memusatkan pikiran dan perasaan agar senantiasa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hati yang bersih akan mempermudah kontak dengan Tuhan dan akan tercipta suatu ketenangan batin.
Hikmah berdoa khususnya pada masa pandemi seperti saat ini ialah dapat membangkitkan harapan, kepercayaan diri, dan optimisme atas penyembuhan guna mendapatkan ketenangan batin dalam menghadapi musibah yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya. Untuk itu, para lansia diharapkan untuk senantiasa berdoa dengan penuh keyakinan kepada Tuhan agar dijaga dan dilindungi dari virus Covid-19.
Kekhawatiran yang berlebihan dan tidak teratasi juga akan menjadi penyebab adanya kecemasan, stres, dan depresi. Oleh sebab itu, psychosocial support atau dukungan psikososial merupakan satu dari banyaknya opsi yang dapat dipilih untuk membantu lansia dalam mengatasi kekhawatirannya sehingga mereka mampu beradaptasi dengan beragam perubahan di era pandemi Covid-19 ini. (Muliani et al., 2021)
Dukungan psikososial dapat diterapkan dengan beragam intervensi seperti program pendidikan kesehatan atau penyuluhan dan simulasi Emotional Freedom Technicue atau EFT bagi lansia. Pendidikan kesehatan atau penyuluhan memiliki fungsi sebagai media untuk menyajikan kondisi sosio psikologis sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan sesuai dengan norma hidup sehat, peningkatan manajemen diri, serta pengendalian kebiasaan gaya hidup secara efektif. Selain itu, penanganan kondisi kesehatan mental bagi lansia juga dapat dilakukan dengan Complementary and Alternative Therapies yang disingkat dengan CATs. CATs dalam hal ini menggunakan salah satu terapi yang dikenal dengan istilah EFT atau Emotional Freedom Technicue. EFT memiliki prinsip cara kerja yang hampir sama dengan akupuntur dan akupresur untuk membantu menangani masalah emosional serta mengelola energi dalam tubuh agar tetap seimbang menggunakan ketukan ringan pada ujung jari dengan menstimulasi titik meridian tertentu pada tubuh lansia.
Pengetukan yang dilakukan dalam terapi EFT tersebut akan menimbulkan adanya respons dari jaringan saraf perifer hingga melibatkan saraf pusat dengan pengiriman stimulasi melalui neurotransmitter. Selanjutnya, stimulasi tersebut akan bergerak melintasi medula spinalis hingga mengarah pada hipotalamus dan hipofisis sehingga menghasilkan dampak pada sekresi enkefalin dan serotonin yang berperan dalam penyembuhan penyakit psikologis seperti gangguan mood, depresi, dan kecemasan.


PENUTUP
Maraknya virus Covid-19 yang mengarah pada berbagai penetapan kebijakan pemerintah seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar, anjuran untuk stay at home dan social distancing telah memunculkan beragam permasalahan baru bagi lansia. Meraka tidak dapat mengunjungi keluarga, teman, layanan kesehatan, dan tempat beribadah sehingga menimbulkan adanya gejala-gejala psikologis seperti kecemasan dan depresi karena rasa kesepian, terpencil, dan terisolasi. Oleh karena itu, religiusitas dan psychosocial support menjadi opsi penting yang dapat dipilih untuk meminimalisir gejala-gejala psikologis tersebut. Religiusitas sangat diperlukan masyarakat guna memperoleh ketenangan batin yang dapat dicapai dengan memanjatkan do’a untuk membangkitkan harapan, kepercayaan diri, dan optimisme atas penyembuhan dalam menghadapi musibah yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya pada masa pandemi seperti saat ini. Dukungan psikososial juga dapat diterapkan dengan beragam intervensi seperti program pendidikan kesehatan atau penyuluhan dan simulasi Emotional Freedom Technicue.

DAFTAR PUSTAKA
Cindy Minannisa (2021) ‘KONDISI STRESS LANSIA DIMASA PANDEMI COVID-19 dan PENCEGAHANNYA’, p. 16.
Muliani, R. et al. (2021) ‘PSYCHOSOCIAL SUPPORT IN INCREASING COVID-19 AND MENTAL HEALTH IN THE ELDERLY’, 4(1), pp. 135–147.
Putri, N. R. (2020) ‘HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS BERDOA DENGAN KETENANGAN BATIN LANSIA di ERA PANDEMIK COVID-19’, Repository.Radenintan.Ac.Id. Available at: http://repository.radenintan.ac.id/12797/.