Berita

Prestasi gemilang kembali diukir oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) yakni Intan Syamikhoh, mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis (ILHA) angkatan 2022. Ia berhasil meraih juara dua dalam ajang Musabaqah Qur’an (MTQ) Cabang 30 Juz Tafsir Bahasa Indonesia. Kompetisi MTQ ini dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2024, serta diikuti oleh seluruh peserta dari berbagai kecamatan yang ada di Surabaya.

Mahasiswa yang akrab disapa Intan in, tidak hanya berkompetisi dalam cabang MTQ tetapi juga aktif mengikuti beberapa kompetisi di antaranya Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Syarah Arbain Nawawi, MQK Fathul Mu’in PKS dan MQK tingkat Munas di Bandung yang di mana ia sama-sama berhasil meraih juara 3. Selain itu, ia juga mengikuti lomba Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 10 Juz dalam ajang Musytaq dan berhasil meraih juara harapan 1, serta berbagai kompetisi lainnya. Keikutsertaanya dalam berbagai ajang kompetisi didorong oleh motivasi untuk terus semangat hafalan serta memperdalam pemahamanya terhadap isi makna al-Qur’an.

MTQ cabang 30 Juz Tafsir Bahasa Indonesia merupakan ajang perlombaan yang diperuntukkan bagi para penghafal Al-Qur’an untuk menguji ketepatan, kelancaran, dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat suci. Dalam kompetisi ini, peserta harus menunjukkan kemampuan dalam berbagai aspek, termasuk tes sambung ayat, di mana mereka diminta melanjutkan bacaan dari ayat yang diberikan oleh dewan juri. Selain itu, peserta juga harus menyambung ayat yang diberikan oleh dewan juri dan menjawab tiga pertanyaan terkait setiap sambungan ayat tersebut. Pada satu juz pertama, peserta juga akan diuji dalam pemahaman tafsir dan makna ayat yang telah dibacakan

Tidak hanya sekadar menghafal, MTQ cabang 30 Juz Tafsir Bahasa Indonesia juga menekankan pemahaman terhadap kandungan ayat yang dihafal, sehingga peserta tidak hanya memiliki hafalan yang kuat, tetapi juga memahami makna dan konteks ayat dalam kehidupan sehari-hari. Kompetisi ini menjadi ajang yang bergengsi bagi para penghafal Al-Qur’an untuk mengasah keterampilan mereka dan memotivasi diri dalam menjaga serta memperdalam hafalan Al-Qur’an.

MTQ cabang 30 Juz Tafsir Bahasa Indonesia merupakan ajang perlombaan tahunan yang diawali dengan seleksi di tingkat kabupaten. Peserta yang meraih juara 1 dan 2 akan dipilih sebagai perwakilan kabupaten untuk berlaga di tingkat provinsi. Setelah itu, mereka yang lolos seleksi di tingkat provinsi akan melaju ke tingkat nasional. Kompetisi ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan menjadi ajang bergengsi bagi para penghafal serta penafsir Al-Qur’an di Indonesia.

Prestasi yang diraih Intan merupakan hasil dari dedikasi dan ketukunanya. Motivasinya dalam mengikuti lomba ini, tidak lain untuk menjaga semangat hafalanya. “Setelah lulus dari pesantren semangat untuk muroja’ah hafalan semakin berkurang. Oleh karena itu, saya mengikuti lomba supaya semangat muroja’ah tetap terjaga,” ujarnya.  Awalnya, Intan mengikuti lomba hanya untuk motivasi menjaga hafalanya. Namun, seiring berjalanya waktu, ia menyadari bahwa motivasi paling utamanya adalah untuk mendapat ridho Allah SWT dan mendapat kasih saying-Nya. 

Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang bergengsi bagi para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi serta wadah untuk berbagi pengalaman di antara sesama peserta. Selain meningkatkan kualitas hafalan, ajang ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar dari pengalaman para juara, mendapatkan bimbingan dari dewan juri yang berilmu tinggi, serta memperluas wawasan dalam memahami Al-Qur’an.

Menurut Intan, “Awalnya, saya mengikuti lomba semata-mata sebagai motivasi untuk menjaga hafalan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ada banyak hal berharga yang bisa saya dapatkan dari kompetisi ini. Saya bertemu dengan orang-orang hebat yang memiliki semangat luar biasa dalam menghafal Al-Qur’an, mendapatkan pengalaman berharga, dan belajar dari para dewan juri yang ilmunya sangat luas. Semua itu membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar, memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, dan meningkatkan kualitas hafalan saya,” jelasnya.

Pesan Intan kepada para penghafal Al-Qur’an mengandung makna yang sangat dalam. “Al-Qur’an bisa menjadi syafaat atau justru menjadi laknat, tergantung pada niat kita dalam mengamalkannya,” terangnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa hafalan Al-Qur’an bukan sekadar capaian intelektual, melainkan amanah besar yang harus dijaga dengan niat yang lurus. Tujuan utama menghafal Al-Qur’an adalah menjaga kalam-Nya sepanjang hidup, bukan sekadar untuk memperoleh pengakuan atau penghargaan duniawi. Dalam konteks kompetisi seperti MTQ, menjaga niat agar tetap tulus adalah hal yang sangat penting. Kalah atau menang adalah hal yang biasa, tetapi jika niatnya hanya untuk mencari ketenaran, kemenangan itu justru bisa menjadi sebuah kerugian.

Penulis: Nadia Dina Azkiya 
Editor:  Siti Uswatun Khasanah