Berita

Magang merupakan salah satu cara efektif bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis dalam dunia kerja serta memperluas wawasan mereka di luar lingkungan perkuliahan. Di Indonesia, Program MBKM menjadi salah satu inisiatif yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan bangsa, terutama dalam bidang keagamaan. Salah satunya seperti magang di Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk yang diikuti oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) khususnya prodi  Ilmu Hadis (Ilha), antara lain Puteri Rahma Safira, Rosita Andika, Muhammad Alfani, Fathurrozak, Fahmi Shahab.

Kementerian Agama memiliki peran penting dalam mengatur dan mengelola berbagai urusan keagamaan di Indonesia. Dari urusan pendidikan agama, hingga tata kelola haji dan umrah, serta masalah-masalah terkait keagamaan lainnya, kementerian ini menjadi garda terdepan dalam memastikan keberlangsungan harmoni dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan beragama di Indonesia.

Melalui program MBKM, para mahasiswa prodi Ilha diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan proses-proses yang terjadi di dalam Kementerian Agama Nganjuk. “Sejauh ini program yang sudah kami lakukan cukup banyak, seperti berkontribusi dalam kegiatan penyuluhan Cegah Kawin Anak (CKA) di sekolah, mengikuti sosialisasi untuk narapidana Rutan Nganjuk baik yang laki-laki maupun perempuan, berkontribusi dalam membantu di setiap bidang yang ada di Kemenag Nganjuk secara bergilir,” jelas Safira, salah satu mahasiswa magang.

Di rutan, Kemenag yang bertanggung jawab dalam menangani urusan hukum dan pidana yang terkait dengan aspek keagamaan. Dalam konteks ini, mahasiswa magang akan terlibat dalam kegiatan sosialisasi yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat tentang hukum dan pidana dalam konteks keagamaan.

Dari program MBKM ini banyak hal yang menarik dan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya. Safira mengatakan, “Hal menarik yang  bisa dibilang first time atau pertama kali dilakukan dalam MBKM ini, yaitu tadi berkontribusi dalam pembinaan atau penyuluhan keagamaan Islam kepada narapidana perempuan dan laki laki di rumah tahanan Nganjuk,” ungkap Safira.

“Mahasiswa magang perempuan dilibatkan pada pembinaan di rutan khusus napi perempuan yang dilakukan setiap Rabu. Kegiatan ini meliputi pembacaan asmaul husna dan shalawat secara bersama-sama kemudian dilanjut menyimak setoran bacaan Al-Quran para napi, lalu sesi pembinaan materi seputar kegamaan guna meningkatkan spiritualitas mereka. Begitu juga dengan mahasiswa magang laki-laki, mereka dilibatkan dalam pembinaan di rutan napi khusus laki-laki setiap Jumat secara bergilir. Kegiatannya meliputi khutbah Jumat, doa bersama, dan shalat jumat berjamaah,” jelas Safira.

Selain sosialisasi di ruang narapidana, mahasiswa yang mengikuti program MBKM di Kemenag Nganjuk juga terlibat dalam kegiatan pembinaan dan penyuluhan cegah kawin anak di sekolah. Praktik kawin anak masih menjadi masalah serius di beberapa wilayah di Indonesia, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan dan kesejahteraan anak. Melalui penyuluhan ini, mahasiswa berperan sebagai agen perubahan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mencegah kawin anak, serta memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik kepada siswa-siswi tentang hak-hak mereka dan risiko yang terkait dengan kawin anak.

“Selain kami ikut berkontribusi pada program di Kemenag dan mendapatkan pengalaman berharga, kami juga mendapatkan ilmu serta bimbingan khusus dalam bentuk keagamaan seperti kajian di setiap pagi pada bulan Ramadan, pembinaan tahsin, tajwid, dan murojaah,” tambah Safira.

Pembinaan tahsin, tajwid, dan murojaah juz 30. (Sumber: dokumentasi pribadi)

Partisipasi dalam program MBKM di Kementerian Agama Nganjuk yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UINSA tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa secara individual, tetapi juga berkontribusi dalam upaya membangun masa depan yang lebih berbudaya dan beradab. Melalui kegiatan sosialisasi, penyuluhan, dan kontribusi dalam berbagai bidang, mahasiswa tidak hanya mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka, tetapi juga membantu meningkatkan kesadaran dan kualitas kehidupan beragama di Indonesia. (Shinta Nuriyah Hadiana – Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat)