Surabaya, 28 Februari 2025 – Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Diskusi Ilmiah dalam rangka penentuan awal Ramadan 1446 Hijriah. Acara yang berlangsung di Aula LT.4 Gedung FSH UINSA ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan akademisi dan pakar di bidangnya. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai metode penetapan awal bulan hijriah serta mendorong sinergi antara pemerintah, ulama, dan akademisi dalam pengambilan keputusan. Dengan adanya diskusi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami secara lebih komprehensif mengenai berbagai faktor yang berperan dalam penentuan awal bulan hijriah, baik dari segi syariat maupun kajian ilmiah.

Dr. H. Abd. Salam, M.Ag., Wakil LFNU Jawa Timur, menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) mengutamakan metode rukyat bil fi’li, yaitu pengamatan langsung hilal untuk menentukan awal bulan hijriah. Menurutnya, metode ini memberikan kepastian syar’i yang lebih kuat dibandingkan sekadar hisab atau perhitungan astronomi yang sifatnya hanya teoritis. Ia menegaskan bahwa rukyat yang dikombinasikan dengan hisab dapat menjadi solusi dalam menghadapi perbedaan penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah yang sering kali terjadi di Indonesia. Dengan demikian, metode ini tidak hanya mengandalkan teori semata, tetapi juga berdasarkan pengamatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara syariat. Hal ini penting untuk memastikan kesatuan umat dalam menjalankan ibadah puasa dan hari raya agar tidak terjadi perbedaan yang signifikan antar kelompok masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dr. Abd. Salam juga menyoroti pentingnya pelatihan dan edukasi bagi masyarakat dalam memahami metode rukyat dan hisab. Ia menekankan bahwa pemahaman yang lebih luas mengenai kedua metode ini akan membantu mengurangi polemik di masyarakat terkait perbedaan dalam penetapan awal Ramadan. Oleh karena itu, ia mendorong agar lebih banyak akademisi dan ulama yang berperan aktif dalam mensosialisasikan metode penentuan hilal kepada masyarakat luas. Kesadaran akan pentingnya rukyat dan hisab yang benar akan memperkuat keyakinan umat Islam dalam mengikuti keputusan yang diambil berdasarkan metode yang sahih. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa peningkatan pemahaman ini sangat penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak valid dan dapat memahami bahwa perbedaan dalam metode penentuan hilal merupakan bagian dari kekayaan keilmuan Islam yang tetap berada dalam koridor syariat.

Nahdlatul Ulama (NU) memiliki pendekatan yang khas dalam penentuan awal Ramadan, yaitu dengan menitikberatkan pada rukyat hilal sebagai metode utama yang didukung oleh hisab. NU meyakini bahwa keputusan yang sah harus berdasarkan pengamatan hilal yang nyata, sebagaimana dianjurkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, setiap tahunnya NU secara aktif melakukan rukyat hilal di berbagai titik pengamatan di Indonesia guna memastikan hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun hisab memiliki peran penting dalam memberikan perkiraan awal, NU tetap berpegang pada prinsip bahwa keputusan final harus berdasarkan hasil rukyat yang disahkan oleh ulama dan otoritas terkait. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga keabsahan ibadah umat Islam serta menghindari polemik yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Abd. Salam menekankan bahwa penting bagi umat Islam untuk tetap mengedepankan sikap saling menghormati dalam menghadapi perbedaan penentuan awal bulan hijriah. Ia mengingatkan bahwa perbedaan dalam rukyat dan hisab sudah terjadi sejak zaman dahulu, dan hal ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan di kalangan umat Islam. Ia mengajak masyarakat untuk tetap berpegang teguh pada keputusan ulama dan pemerintah agar persatuan dalam beribadah tetap terjaga. Menurutnya, diskusi ilmiah seperti ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman serta mempererat hubungan antara akademisi, ulama, dan masyarakat dalam mencari solusi terbaik untuk penentuan awal Ramadan.
Acara diakhiri dengan penutupan oleh panitia, menandai selesainya rangkaian kegiatan diskusi ilmiah. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan mendalam bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam memahami metode penentuan awal bulan hijriah secara ilmiah dan syar’i. Dengan adanya diskusi semacam ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan dan kaidah agama dalam menentukan awal bulan Ramadan secara akurat dan sesuai dengan tuntunan Islam. Fakultas Syariah dan Hukum UINSA berkomitmen untuk terus mengadakan diskusi ilmiah yang dapat menjadi wadah bagi para akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan dalam mencari solusi terbaik bagi perbedaan yang terjadi dalam penentuan awal bulan hijriah di Indonesia.
Reportase: George As’ad Haibatullah El Masnany
Redaktur: George As’ad Haibatullah El Masnany
Desain Foto: Annisa Rahma Fadila