Column
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar/Ketua Senat Akademik UINSA Surabaya

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ

“Apakah Tuhan (yang mereka sembah itu lebih baik) ataukah Tuhan (Allah) yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam keadaan terjepit ketika dia berdoa kepada-Nya, juga (Tuhan yang) menghilangkan kesusahan, serta menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada tuhan (lain) selain Allah? Sedikit sekali kamu mengingat Allah (dan mengambil pelajaran)” (QS. An-Naml [27]: 62)

            Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam mengatur langit, bumi, tumbuhan dan seluruh alam semesta. Sebagai kelanjutan, ayat yang dikutip di atas menjelaskan kekuasaan Allah khusus dalam mengatur manusia. Pengaturan itu meliputi: (1) mengabulkan doa orang yang sedang terjepit atau kepepet, (2) menghapus kesusahan ekonomi, kesehatan, nyawa, pekerjaan, dan sebagainya, dan (3) menjadikan manusia pengatur bumi menggantikan (khalifah) generasi sebelumnya.

Tulisan ini fokus membahas pertolongan Allah untuk orang yang terjepit atau kepepet (al mudh-tharra) sebagaimana disebut pada ayat di atas. Secara tersirat, ayat ini menunjukkan tiga hikmah besar di balik keadaan kepepet.   

Pertama, dalam keadaan kepepet, kekuatan kita menjadi berlipat. Kita tiba-tiba berhasil melompati pagar yang tinggi ketika dikejar macan, kekuatan yang tidak muncul dalam kondisi normal. Jadi, sejatinya kita memiliki kekuatan besar, tapi potensi itu tidak muncul karena kemauan kita yang lemah, atau karena tidak sedang kepepet.

Suatu contoh, di tengah hutan yang gelap, seorang kernet karena terpaksa bisa mengemudikan truk sejauh 50 km, karena sang sopir tiba-tiba sakit perut dan badannya lemas. Contoh lain, guru olahraga terpaksa harus juga mengajar bahasa Inggris, padahal ia tidak mahir bidang studi itu, karena sekolah kekurangan dana. Berkat kepepet itulah, kernet truk menjadi sopir profesional di perusahaan asing, dan guru olahraga mendapat beasiswa kuliah di perguruan bergengsi di Eropa karena kemampuannya dalam bahasa Inggris.

Jadi, berpikirlah yang positif. Keadaan kepepet sungguh bukan sebuah musibah, melainkan anugerah untuk kesuksesan masa depan. Jika tidak ditemukan keadaan kepepet, maka silakan menciptakan sendiri suasana kepepet. Suatu contoh, seorang mahasiswa menolak biaya kuliah dari orang tua agar ia berlatih mandiri. Untuk mengatasi kepepet biaya makan dan kuliah, ia memutuskan menjadi buruh di warung soto. Berbekal dari pengalaman di warung itulah, sepuluh tahun kemudian, ia menjadi bos untuk lima cabang warung sotonya. Jaya Setiabudi, penulis buku “The Power of Kepepet” mengatakan, jika orang tidak mempan dibangkitkan dengan semua cara, maka satu-satunya jalan adalah situasi kepepet.

Kedua, dalam konsisi kepepet, kita menjadi fokus mengatasi masalah, dan tidak terganggu dengan hal-hal lain, misalnya melihat film atau meladeni chating melalui media sosial, dan sebagainya. Tony Robbins mengatakan, “When focus goes, energy flows” (ketika engkau fokus, maka mengalirlah energimu).  

Ketiga, dalam kondisi kepepet, doa kita akan dikabulkan Allah. Sebab, kita semakin dekat kepada Allah dan semakin yakin, bahwa yakin hanya Allah Yang Maha Kuasa menolongnya.

Menurut Thabatthaba’i, berdasar ayat ini, sebuah doa harus fokus dan yakin kepada Allah, sebagaimana doanya orang yang terjepit. Ketika tidak dalam keadaan terjepit, kebanyakan kita cenderung tidak fokus dalam berdoa, dan tidak yakin seratus persen akan kekuasaan Allah. Bahkan, seolah-olah kita tidak sedang berdoa.  

Seorang guru Al Qur’an di Surabaya terpaksa pulang dari rumah sakit bersama istrinya yang sedang hamil tua, karena tidak ada biaya oprasi persalinannya. Dalam perjalanan subuh itu, ia hanya berdoa dan berdoa. Tiba-tiba roda depan motornya terperosok ke dalam lubang. Mereka terjatuh ringan. Dalam keadaan setengah jongkok kesakitan, sang istri merasakan kepala bayi mulai keluar. Mereka cepat-cepat kembali ke rumah sakit dan melahirkan anak dengan normal.  

Syekh Al-Junaid al-Baghdadi kedatangan wanita yang meminta doa agar anaknya yang hilang segera kembali. Ulama Baghdad itu hanya memintanya pulang dan bersabar, tanpa satu pun doa. Sampai datang tiga kali, wanita itu mendapat nasihat yang sama. Ketika wanita itu sudah lunglai dan putus asa, barulah Syekh Al-Junaid berdoa, dan tidak lama kemudian, sang anak benar-benar pulang. Syekh Al-Junaid lalu membaca surat An-Naml ayat 62 di atas, seraya mengatakan, “Ketahuilah, seringkali doa hanya dikabulkan Allah ketika keadaan seseorang benar-benar  kepepet.” 

            Abu Bakar Daud Ad-Dainuri bercerita tentang orang yang melayani jasa angkutan dengan kuda di Damaskus. Seorang penumpang meminta diantarkan ke suatu daerah, tapi disesatkan ke lembah yang jauh, dan terlihat mayat-mayat manusia bergelimpangan. Ia curiga dan ternyata benar. Penumpang itu turun dan mengeluarkan pedang panjang. “Silakan ambil kudaku, dan jangan engkau membunuhku. “Tapi jika engkau akan membunuhku, ijinkan aku salat dua rakaat,” pintanya. Ketika salat, lidahnya kaku, tidak bisa mengucapkan satu pun doa, karena ketakutan. Perampok itu membentak, “Cepat!” Ketika dibentak itulah, tiba-tiba lidahnya bergerak membaca surat An Naml ayat 62 di atas yang artinya, “Apakah ada Tuhan yang bisa menolong orang yang sedang terjepit selain Allah?” Belum selesai ayat itu dibaca, muncullah penunggang kuda yang gagah dengan tombaknya yang panjang. Ia secepat kilat menusukkan tombak di dada perampok. Matilah dia. Ketika ditanya siapa dia, dia menjawab, “Aku disuruh Allah untuk menolong orang yang yakin Allah satu-satunya Tuhan yang dapat menolong manusia yang sedang kepepet sebagaimana ayat yang kau baca.” Ia lalu menghilang.

Sumber: (1) Hamka, Tafsir Al Azhar, Juz 20, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1985, p. 4-8, (2) Qureish Shihab, M, Tafsir Al Misbah, Vol. 9, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2012, p. 482-485, (3) Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairy, Ar Risalatul Qusyairiyah Fi ‘Ilmit Tashawwuf, terjemah Umar Faruq, Pustaka Amani, Jakarta, 2007, cet 2, (4) Jaya Setiabudi,  The Power of Kepepet, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2013, (5) Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairy, Ar Risalatul Qusyairiyah Fi ‘Ilmit Tashawwuf, terjemah Umar Faruq, Pustaka Amani, Jakarta, 2007, cet 2.