Column UINSA

Disampaikan pada Apel pagi UIN Sunan Ampel Surabaya pada Senin, 29 April 2024 di Auditorium UIN Sunan Ampel Jl. A Yani 117 Kota Surabaya

“Naturaly God give us two eyes and just one moulth. So that we must listen twice as more as we speak”
Dr. Martin Luther King Jr.

Mendengar merupakan salah satu kunci sukses. Secara mikro, siapapun dan dalam posisi atau status sosial apapun memerlukan kemampuan ini. Kemampuan dan kesediaan mendengar adalah soft skill yang diperlukan untuk menunjang kesuksesan.

Seorang bawahan yang bisa mendengar arahan atasannya dengan baik lebih disukai dan tentu akan menunjang kariernya. Atasan pun demikian, jika ia suka mendengar bawahannya tentu akan disukai dan didukung bawahannya. Guru atau dosen yang mendengar dengan baik murid atau mahasiswannya, biasanya lebih baik pembelajarannya. Demikian halnya dalan relasi yang setara, kita lebih suka memiliki kawan yang lebih suka mendengar cerita kita dibandingkan yang banyak bicara. Ini sangat manusiawi.

Secara makro, lembaga atau korporasi yang mengembangkan instrumen organisasinya untuk memberikan akses yang seluas-luasnya kepada pengguna layanan atau stake holder untuk menyampaikan pemikiran, harapan dan aspirasinya. Termasuk kampus. Kampus yang mendengar aspirasi mahasiswa, pengguna lulusan, dan stake holder lainnya akan menjadi kampus yang maju.

Lebih lanjut, mendengar yang sebenarnya adalah mengandung komitmen untuk memperhatikan dan menindaklanjuti isi pembicaraan atau aspirasi yang disampaikan. Organisasi yang punya kapasitas mendengar lebih baik lalu menjadikannya sebagai referensi menetapkan kebijakannya, membuatnya survive karena mendapatkan dukungan luas.

Pemimpin yang mendengar dengan baik akan mampu membangkitkan partisipasi, bukan mobilisasi. Partisipasi sangat diperlukan untuk sustinability. Partisipasi bisa muncul dari perasaan dihargai. Perasaan itu lahir karena ide dan gagasan diberikan tempat yang layak oleh kepemimpinan yang mendengar.

Bagi organisasi, partisipasi akan membentuk kinerja yang jauh lebih efisien dibanding mobilisasi yang efektif. Hal ini karena mobilisasi memerlukan effort dan sumber daya yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, mendengar akan sangat menunjang kinerja organisasi.

Namun tentu tidak mudah mengembangkan hal ini. Sebab tidak jarang kepemimpinan organisasi harus bersedia menegosiasikan misinya dengan kepentingan stake holder. Asalkan masih pada tataran taktis dan strategis, maka tidak ada salahnya negosiasi ini dilakukan.

Tabik,
Achmad Muhibin Zuhri