Column UINSA

STUDENT INTERNATIONAL MOBILITY UINSA-IIUM: SEBUAH REFLEKSI DAN UPAYA SUSTAINABILITAS INTERNASIONALISASI

“Kurang bu kalau Cuma 1 minggu kalau bisa 2 atau 3 minggu”. Itu adalah salah satu pernyataan peserta mahasiswa outbound mobility yang dikirim oleh UINSA ke IIUM (International Islamic University of Malaysia) Gombak, Kuala Lumpur Malaysia pada penghujung tahun 2022. Testimoni dan feedback peserta lainnya juga senada yaitu menggambarkan betapa mereka senang dan merasa mendapatkan banyak ilmu dan jejaring dari pogram selama seminggu tersebut.

“Kita bertemu dengan banyak pihak baik dari perpustakaan, jurnal, maupun dari asosiasi mahasiswa asing,” jelas salah satu partisipan. Selain itu, mereka juga menunjukkan betapa ada banyak kekuatan dari program yang dikawal secara intensif oleh International Office of UINSA. Diantara kekuatan dari program adalah padatnya acara dan kegiatan dalam jadwal keseharian sekaligus banyak dan bervariasinya pihak, Lembaga atau orang-orang yang mereka datangi dan temui selama berada di IIUM. Diantara jadwal kegiatan adalah diskusi bersama Journal of Law, Rapat dan workshop bersama INHART center, temu diskusi bersama IIMU, dan lain sebagainya. “Terimakasih kami sampaikan pada International office of IIUM, khususnya DR Sonny Zulhuda, yang berkenan menjadi coordinator acara,”

Harus diakui, masih ada banyak gap atau areas for improvment yang idealnya  dapat disempurnakan pada kegiatan selanjutnya. Diantara kesenjangan itu, sebagaimana disampaikan oleh beberapa partsipan adalah durasi yang kurang lama, dan juga masih kurang intensifnya muatan kompetensi fakultas. “Kalau saja ada tambahan waktu, kami sudah sempat dijanjikan dapat sit in di kelas education bu”, jelas salah satu partisipan dari FTK, UINSA. Memang, ada keadaan khusus yaitu bahwa akhir tahun di sana (IIUM) merupakan masa jelas liburan akhir tahun dan karenanya beberapa peluang kegiatan yang berisi  kompetensi fakultas harus, sayangnya, terlewatkan.

Meski demikian, secara umum, program berjalan lancar dan hasilnya pun bisa dikatakan cukup optimal. Kerja keras international office kedua kampus berikut peran aktif dari mahasiswa terpilih yang diberangkatkan dalam program yang cukup prestisius ini bisa dikatakan merupakan kunci dari keberhasilan acara. Proses seleksi yang cukup ketat, hanya 12 anak berhasil terpilih dari 150-an aplikan, jelas membantu tersaringnya anak anak terbaik UINSA menjadi duta internasionalisasi.

Sebagaimana disebutkan sekilas sebelumnya, satu minggu program sangatlah padat dan kaya. Aktifitas. Dimulai dengan agenda KL city tour (Petronas Twin Tower, Pasar Seni, Dataran Merdeka). Program lalu di isi dengan pertemuan dengan International Students Club. Pertemuan ini secara spesifik juga memberikan kesan mendalam pada para mahasiswa UINSA.

“Kami berjanji akan melanjutkan dengan program dan jalinan silaturrahim yang tak putus ke depan bu,” kata Ikhwan, salah satu partisipan dari FEBI. Program lalu dilanjutkan dengan sesi bersama International Institute for Halal Research and Training (INHART). Sesi ini juga memberikan impresi menarik bagi para mahasiswa-mahasiswi khususnya terkait sistem hukum tata negara dan industri halal di Malaysia.

Sesi lain yang juga menarik dan bahkan sedang ditindaklanjuti saat ini adalah sesi The International Institute for Muslim Unity (IIMU). Insititut yang menawarkan jejaring dan penguatan kapasitas leadership dan keilmuan multidisipliner ini, syukurlah, terkesan dengan dan menyampaikan apresiasi positif pada mahasiswa-mahasiswi delegasi UINSA. Karenanya, saat ini UINSA sedang menindaklanjuti dengan perencaaan program kolaboratif lebih lanjut.

Meski muatan fakultas, sewajarnya, tidak terlalu menjadi focus dari program yang ditujukan bagi seluruh fakultas di lingkungan UINSA ini, tetap ada beberapa program yang dilaksanakan yang langsung terkait dengan disiplin keilmuan. Karena faktor timing dan satu dua hal lainnya, kesempatan yang diberikan dari program ini adalah program di hukum di fakultas hukum (AIKOL). Program kemudian juga diakhiri dengan ramah tamah Bersama tim IO IIUM, dalam hal ini, Dr Sonny Zulhuda dan keluarga berbaik hati mengadakan lepas kenang Bersama anak-anak di kediamannya. Cerita lebih lengkap dapat dilihat dalam video dokumentasi hasil kerja keras anak-anak dan digawangi oleh Iqbal, mahasiswa FSH yang juga merupakan volunteer IO. https://drive.google.com/file/d/1Uv8Dj-FDawHh7PQcsWtOBfuD8yWZrmbI/view?usp=share_link

Sepaska program, pertemuan untuk refleksi dan feedback dari partisipan bersama IO Para mahasiswa-mahasiswi terpaksa dilakukan melalui zoom meeting terlebih dahulu karena masih lburan dan kebanyakan partisipan mudik atau pulang kampung. Sebagaimana tersampaikan diawal, hamper semua mahasiswa menyampaikan kesan yang sangat positif dan bahkan menegaskan durasi yang hanya 1 minggu sangatlah kurang untuk berbagai peluang dan manfaat yang mereka terima dan bisa jadi mereka maksimalkan kedepan.

Meskipun demikian, keterbatasan waktu ternyata hanyalah stimulus aktifisme para anak anak terpilih tersebut. Kami juga sangat bangga dan bersyukur anak-anak tersebut langsung secara proaktif memiliki inisiatif menindaklanjuti dari berbagai peluang yang ada. Ada anak yang langsung menindaklanjuti dengan rencana riset terkait dengan Islamic urban architecture dengan dosen arsitektur di IIUM dan dosen UINSA. Ada juga rencana riset kolaboratif terkait manajemen kepustakaan dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga komitmen dari asosiasi mahasiswa asing IIUM untuk meneruskan Kerjasama ke depan.

Diantara sekian banyak cerita itulah kemudian komitmen untuk melanjutkan program student outbound mobility ke IIUM harapannya dijaga dan ditindaklanjuti di tahun 2023. Dalam rangka merencanakan program ke depannya yang lebih maksimal, hari ini Senin tanggal 13  Februari 2023 diadakan rapat zoom meeting antara IO UINSA didampingi fakultas dengan pihak IO IIUM. Rapat berjalan dengan intensif dan efisien.

Di antara hasil rapat adalah komitmen kedua fihak untuk mengadakan berbagai program kolaboratif meliputi sudent mobility, seminar kolaboratif dan riset kolaboratif. Secara teknis, Langkah terdekat adalah rapat lanjutan dengan membahas proposal kegiatan program student mobility baik di level universitas, dikomandani IO, maupun fakultas . Sebagaimana ditekankan oleh Nabiela Naily dari IO UINSA, di harapkan bahwa program mobility yang diadakan fakultas bisa lebih memuat kompetensi kelimuan keprodian fakultas.

Gayung bersambut dan Sony Zulhuda selaku vice director IO IIUM menegaskan pentingnya penyusunan proposal program yang detil sehingga pihak IIUM dapat menindaklanjuti dengan menjodohkan atau memasangkan dengan mitra fakultas yang relevan. Tujuan dari persiapan ini adalah supaya program student mobility fakultas nanti dapat sarat dan kental dengan muatan keilmuan fakultas selain tentu tetap terbuka dengan pembelajaran dan pengalaman yang sifatnya multidisiciplinary.

Langkah teknis strategis lainnya adalah bahwa rapat khusus IIUM harus segera dilaksanakan untuk merancang program kolaboratif seperti joint seminar dan juga bahkan bisa dirumuskan bersama joint short course selama 2 minggu yang, idealnya, diikuti oleh mahasiwa masing-masing kampus. Dengan strategi ini, akselerasi penambahan mahasiswa asing dalam record UINSA, sebagaimana ditegaskan Nabiela sebagai salah satu prioritas, dapat tercapai. Perumusan dan penandatanganan MoU juga dapat dan idealnya segera direalisasi sebagai bagian institusionalisasi kemitraan. Semoga. (NN, RI)