Column

Ibadah puasa Ramadhan 1445 H telah memasuki hari terakhirnya, mendekati babak final, ibarat ajang reli terganas di dunia Reli dakkar, semakin mendekati garis finis ternyata semakin ganas medan yang ditempuh. Terlihat dari  banyak peserta yang mengalami kerusakan kendaraan, cedera, kecelakaan bahkan sampai ada yang meninggal dunia.

Begitulah ramadhan 1445 H, pada 10 hari terakhir, seperti pengalaman ramadhan yang sebelum-sebelumnya, ada sekelompok umat Islam yang semakin berbobot aktivitas ibadahnya menghabiskan waktu untuk tetap istiqamah sholat berjama’ah 5 waktu, qiyam al-lail, ‘itikaf di Masjid, tadarus al-Qur’an dan bersedekah, tapi ada juga sekelompok yang asyik masyuk menyalurkan hasrat konsumerismenya  sibuk berbelanja dengan dalih untuk mempersiapkan hari raya Idhul fithri (Padahal inti dari idhul fithri itu bukan pada baju yang baru, tapai idhul fithri itu bertambah tidaknya iman seorang hamba dan lulus tidaknya dalam mengendalikan hawa nafsunya).

Padahal telah dijelaskan dalam sebuah hadis :

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).”

Sejatinya di sepuluh hari terakhir ibadah puasa ramadhan  sangat ditekankan kepada umat Islam untuk menghidupkan aktivitas ibadah yang lebih berbobot dan bermakna baik secara individual ataupun sosial dengan mengajak istri dan anak-anak. Ini adalah kekuatan ramadhan yang sesunguhnya dari makna menahan diri, baik terhadap hal-hal yang dihalalkan apalagi yang diharamkan. Jadilah pemenang bukan pecundang.

Dalam konteks syariat Islam, puasa (shiyām)  ialah menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah kepada Allah SWT tentunya. Salah satu fungsi ibadah puasa adalah usaha menahan diri dari syahwat badaniah dan syahwat bathiniyah, yang diantaranya sejajar dengan sabar, bahkan dalam surat Al Baqarah ayat 45

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.

Kata الصَّبْرِ di tafsirkan sebagai puasa, …”jadikanlah kesabaran dan sikap menahan diri dari apa yang kalian benci sebagai penolong dalam menjalankan beban ini. Salah satu caranya adalah dengan berpuasa.” Dampak transformatif puasa itu juga terkait dengan kecerdasan emosional atau difahami dengan kesabaran.

Dalam kitab yang berjudul sifru as Sa’adah dijelaskan bahwa paling tidak ada tiga kondisi penting bagi seseorang untuk senantiasa sabar (ketahan diri):

Pertama, الصبر علي الأوامر والطاعات حتي يؤديها Sabar, memiliki ketahan diri terhadap semua perintah-perintah Allah SWT dengan penuh ketaatan dalam melaksanakannya. Seorang hamba Allah memerlukan ketahan diri ekstra ketika menjalankan semua perintah-perintah-Nya, seperti ibadah individual hamba Allah yang terkait dengan Ibadah dalam rukun Islam, itulah yang membedakannya  dengan orang-orang munafik, karena tipe orang munafik itu tidak pernah memiliki ketahan diri yang baik dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, cenderung malas, khususnya ketika melaksanakan sholat subuh dan Isya’, sholat subuh menurut mereka waktunya masih nyaman untuk melanjutkan tidur, sementara sholat isya’ bagi mereka adalah waktu yang masih melelahkan setelah bekerja seharian. Selain itu ketika orang-orang munafik  melaksanakan perintah-perintah Allah  hanya sekedar  bertujuan riya’.

Begitu juga ketika melaksanakan ibadah sosial seperti pemberian infak shadaqah baik yang wajib atau sunah, perlu kesabaran/ketahanan diri dalam melaksanakannya, kerena setan musuh utama manusia akan selalu menggoda dengan menakut-nakuti jika bersedekah niscaya akan menjadi miskin, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 268:

“ Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”

Sementara itu bagi para orangtua dalam mendidik putra-putrinya, diperlukan kesabaran ekstra, dan tidak mudah mengeluh, karena akan mengganggu kecerdasan emosionalnya yang justru akan  mengarah pada tindak kekerasan terhadap putra-putrinya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Thaha ayat :132

dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Kedua,  الصبر عن المناهي والمخلفات حتي لايقع فيها  Sabar terhadap segala bentuk larangan dan semua hal yang bertentangan dengan perbuatan baik, agar tidak terjebak di dalamnya.

Di dunia ini, seringkali manusia dihadapkan oleh berbagai macam godaan untuk melakukan perbuatan maksiat, oleh karenanya diperlukan kesabaran tingkat tinggi dalam menghadapinya. Sejatinya ibadah puasa itu mendidik manusia untuk memiliki ketahanan diri yang tangguh dan kuat ketika berhadapan dengan maksiat. Ketahanan diri ini sangatlah dibutuhkan khususnya bagi para jomblowers yang belum mampu menikah karena terhalang persoalan finansial, maka Islam memerintahkannya untuk berpuasa, dengan puasa menempatkan hawa nafsu birahinya pada titik yang terendah, sehingga terhindar dari perbuatan Zina. Ketahanan diri juga sangat diperlukan bagi para aparat penegak hukum sehingga kasus oknum 15 pegawai KPK yang sudah menjadi tersangka, dalam perkara dugaan korupsi dan pemerasan di lingkungan Rumah Tahanan (Rutan) Cabang KPK tidak akan pernah terjadi, sungguh ironi, lembaga yang seharusnya berada di garda terdepan dalam penegakan hukum tindak pelaku korupsi, justru berperkara korupsi dan pemerasan, karena ketahan dirinya yang sangat lemah.

Ketiga, الصبر علي الأقدار والأقضية حتي لايسخطها  Bersabar terhadap segala ketentuan Taqdir dan Qadla Allah swt agar tidak murka/emosional. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 155 :    

dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Menjadi sangat penting menyikapi segala bentuk ujian dan cobaan dari Allah SWT yang tersebut pada ayat di atas, seperti kehilangan orang yang sangat dicintainya, atau kekurangan harta yang sangat dibutuhkanya, atau terkena musibah bencana alam, banjir, longsor,  gempa bumi, tsunami serta berkurangnya panen raya karena faktor cuaca atau hama wereng dan lain sebagainya,  Bahwa semua itu  adalah taqdir dan qadla Allah SWT baik berupa kebaikan maupun keburukan adalah ujian dari-Nya. Tidak ada jalan lain untuk menghadapinya kecuali harus memiliki ketahan diri yang tangguh dan kuat, tetap sabar serta menerima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya, karena Allah SWT berjanji untuk senantiasa beserta hamba-hamba-Nya yang sabar. Itulah Pemenang. 

 “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Al-Baqarah :153).

 Ketahan diri yang tangguh juga dalam hal menjaga  kecerdasan emosional, upaya atau kemampuan mengendalikan diri untuk tidak terpancing emosi, itulah kekuatan yang sebenarnya sesuai sabda Rasulullah SAW:

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari).

Dijelaskan juga dalam Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu,

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Berikanlah nasihat kepadaku.’ Beliau berkata: ‘Janganlah engkau marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, beliau tetap berkata: ‘Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, Ibnu Majah no. 4186 dan Ahmad 3/440).

Ketahanan diri yang tangguh juga dalam hal upaya kemampuan seseorang  mengendalikan hawa nafsunya. Hawa nafsu syahwat dalam konsep Islam adalah anugerah dari Allah untuk hamba-Nya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Imran ayat 14, “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” Maka tidak boleh membunuh atau memotong hak hawa nafsu syahwat tersebut, akan tetapi bagaimana upaya mengendalikannya.

Seperti kesalahpahaman 10 sahabat Rasulullah seraya mengatakan bahwa kami tidak menikah, puasa terus sepanjang masa, tidak mengkonsumsi daging, dan tidak tidur diatas kasur, lalu Rasulullah saw menegur keras ke 10 sahabat tersebut, bahwa sesungguhnya aku ini menikah dan mempunyai anak, puasa tapi tidak sepanjang masa juga berbuka, mengkonsumsi daging, dan tidur diatas kasur. Barangsiapa yang mengikuti sunahku maka ia termasuk golonganku.    Dalam hal pengendalian nafsu syahwat antara laki-laki dan perempuan misalnya, Islam mengajarkan administrasi serta konsep pernikahan yang sah menurut agama dan negara, sehingga bisa meminimalisir freesex yang tidak terkendali dikalangan manusia.

Sementara itu pengendalian nafsu syahwat juga terhadap hal-hal kemewahan materi, emas, perak, (kuda) kendaraan, sawah ladang (tanah), maka manusia harus memiliki ketahan diri untuk mengendalikan hawa nafsu syahwatnya, karena jika tidak niscaya nafsu syahwat itulah yang akan mengendalikannya. Seperti proses cara memperoleh harta akan ditempuh untuk memenuhi hasrat nafsu syahwatnya, meskipun cara dan proses mendapatkannya dengan melanggar ketentuan agama maupun undang-undang Negara. Celakanya mereka bangga di sebut Crazyrich dan melakukan flexing harta kekayaannya di medsos, padahal harta kemewahan yang diperoleh dari hasil tindak pidana, bahkan ada salah satu mantan crazyrich dengan sombongnya mengatakan bahwa tuhan saja kesulitan untuk memiskinkannya, dan sekarang sudah ditahan karena tindak pidana penipuan, harta kekayaannya disita oleh negara.    

Sepertinya yang dimaksud Rasulullah saw dengan mengencangkan ikat pinggang, tidak hanya sekedar menahan diri tidak melakukan sexual intercourse, tapi mengencangkan ikat pinggang bisa juga diartikan sebagai ketahan diri dalam mengendalikan hawa nafsu syahwatnya, serta upaya mengontrol diri dan kemampuan mengendalikan (resilensi),  menahan diri dari sifat konsumerisme baik melalui gaya hidup hedonistik materialistik maupun konsumeristik. Itulah pemenang sejati bukan pecundang pasca lulus di madrasah ramadhan karem. Tidak sekedar dalam puasa ramadhan saja, tapi resiliensi dan ketahan diri ini bisa dipraktikkan secara konsisten pada 11 bulan yang akan datang.  Semoga ibadah puasa ramadhan 1445 H mengantarkan Kita kepada kemenangan di dunia dan akherat, Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Wallahu’alam. Minal’aidiin Wal Faidziin mohon ma’af lahir dan batin. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Kariim.