Column UINSA

UIN Sunan Ampel Surabaya

Thursday, 8 September 2022

DAYA JUANG MERAIH PRESTASI

Oleh: Indah Sulistiyowati, S.E., MSA.

Merdeka… merdeka… merdeka… begitulah pekik perjuangan yang digelorakan tatkala para pejuang kemerdekaan dan bahkan seluruh lapisan masyarakat mulai anak-anak, remaja, orang tua, organisasi- organisasi berjuang merebut kemerdekaan dari belenggu penjajah. Dengan bersatu-padu, mengerahkan seluruh daya upaya, keringat, air mata, tetesan darah bahkan nyawa rela mereka korbankan demi cita-cita bangsa yaitu KEMERDEKAAN. Sampai tiba saatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 teks proklamasi kemerdekaan resmi dibacakan oleh Ir. Soekarno di depan rumah beliau, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Lantas, apakah setelah proklamasi Bangsa ini bebas begitu saja?

Cerita di atas sengaja saya tulis untuk menggambarkan bagaimana Bangsa ini berjuang tanpa henti untuk meraih kemerdekaan bahkan sampai dengan mengisi kemerdekaan. Dimulai dari kesadaran individu, kesadaran bersama, dan kesadaran sebagai bangsa untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Dalam membangun kesadaran individu dikenal istilah efikasi diri. Efikasi diri mempunyai pengaruh besar pada perkembangan organisasi. Menurut Niu (2020), Efikasi diri adalah hasil dari sebuah interaksi antara lingkungan eksternal, kemampuan personal, mekanisme penyesuaian diri, dan pendidikan serta pengalaman. Efikasi diri berperan utama bagaimana tujuan, tugas, dan tantangan dapat terselesaikan.

Untuk berkolaborasi dalam organisasi, individu harus telah merdeka dari belenggu diri. Apa saja belenggu diri tersebut? Ini disebut efikasi diri yang lemah. Ciri orang dengan rasa efikasi diri yang lemah adalah 1. Menghindari tugas yang menantang, 2. Percaya bahwa tugas dan situasi sulit berada di luar kemampuannya, 3. Fokus pada kegagalan pribadi dan hasil negatif, dan 4. Cepat kehilangan kepercayaan pada kemampuan pribadi. Efikasi lemah mencerminkan sifat egois, intoleran, fanatik sempit, sulit menerima kritik, dan sifat lainnya sulit menyesuaikan diri dan berkerjasama. Bagaimana mungkin individu yang mempunyai efikasi diri yang lemah dapat memberikan kontribusi banyak bagi perkembangan organisasi? Karena untuk berkembang haruslah dengan berkolaborasi.

Efikasi diri bagi setiap individu dalam organisasi harus digelorakan. Melalui momen peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 77 ini, kolaborasi antar individu dengan semangat efikasi diri perlu terus dikembangkan sepanjang hidup. Melalui keterampilan, pengalaman, dan pemahaman baru. Dengan kata lain, efikasi diri yang kuat harus diperjuangkan. Meraih efikasi diri yang kuat berarti individu tersebut telah merdeka dari belenggu diri sehingga siap untuk meraih prestasi dalam bekerja. Ciri orang dengan rasa efikasi diri yang kuat adalah 1. Mengembangkan minat yang lebih dalam pada kegiatan di mana mereka berpartisipasi, 2. Membentuk rasa komitmen yang lebih kuat terhadap minat dan aktivitas mereka, 3. Cepat pulih dari kemunduran dan kekecewaan, dan 4. Melihat masalah yang menantang sebagai tugas yang harus dikuasai.

Jika dipandang dari sisi lain yang lebih luas, di luar efikasi diri yang kuat dan seharusnya dimiliki oleh setiap individu, perkembangan dunia saat ini tumbuh dengan sangat cepat. Keadaan seperti sekarang ini digambarkan dengan istilah VUCA world (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). Dunia mengalami dinamika perubahan yang cepat, sulit diprediksi, keadaan yang kompleks dan terasa mengambang atau kejelasannya perlu dipertanyakan lagi. Organisasi membutuhkan individu yang mempunyai daya juang yang luar biasa untuk memerdekakan dirinya dari belenggu efikasi diri yang lemah sehingga dapat berperan aktif dalam memajukan organisasi. Untuk menghadapi hal semacam itu, organisasi memerlukan peran individu yang bertalenta unggul dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat sesuai tuntutan organisasi yang mau tidak mau harus bertransformasi beradaptasi dengan tuntutan perkembangan dunia.

Individu unggul dengan efikasi diri yang kuat serta mampu berkolaborasi dalam dinamisasi organisasi seperti terungkap dalam   paragraf sebelumnya merupakan pribadi yang memiliki individual agility tinggi. Individual agility yang tertanam pada tiap pribadi melalui efikasi positif dapat menciptakan sebuah agile system untuk menghadapi perubahan, system kolaborasi dalam proses kerja, sistem informasi dan pengetahuan, optimasi peran struktur organisasi. Sehingga system agility yang tercipta mampu mewadahi individu-individu yang telah merdeka. Karena individu yang merdeka dapat menumbuhkan individual agility yang tinggi dan hanya dapat diwadahi dan dimengerti oleh organisasi yang mempunyai agile system yang tinggi juga.

Ketika kembali kepada UINSA sebagai organisasi yang hendak mewujudkan visi dan misinya. Semangat kontemplatif efikasi positif dan individual agility yang terkolaborasi dengan baik dalam organisasi melalui struktur-struktur lembaga, fakultas, unit dan bagian yang membentuk organisme dan mempunyai tugas dan fungsi masing-masing menjadi suatu keniscayaan yang sangat mungkin untuk diwujudkan. Prestasi organisasi yang nantinya terwujud adalah bait-bait sajak lagu yang mengalun indah dalam harmonisasi petikan dawai kinerja,  dan denting piano melodi kolaborasi.

Quote berikut menjadi refleksi: “You can’t build an adaptable organization without adaptable people.” Gary Hamel

Mari bersama berjuang mewujudkan visi misi UINSA tercinta. Mengisi kemerdekaan melalui perjuangan tiap individu untuk mampu berkolaborasi dalam organisasi mewujudkan cita-cita.