Berita

Nama Mbah Buyut Ndugo dan Selino cukup dikenal warga sekitar Dusun Bandilan, Desa Kedungrejo, Waru, Sidoarjo. Keduanya sejak lama diyakini oleh sebagian orang sebagai nenek moyang yang mbabad alas atau dhanyang desa. Makamnya dijaga dan dilestarikan dengan baik. Bahkan, menurut Pak Nico selaku Kepala Desa Kedungrejo pada Senin (25/09/2023), terdapat dana khusus punden yang diperuntukkan untuk merestorasi kawasan makam tersebut pada tahun 2021. Napak jejak sejarah mengenai Mbah Buyut Ndugo-Selino terpatri dalam rentang waktu berdirinya sebuah kerajaan yang membentang di kawasan Delta Brantas bernama Kerajaan Jenggala (1042 M – 1136 M). Rajanya bernama Mapanji Garasakan (Jayawarsa) yang merupakan salah satu putra dari Prabu Airlangga. Mbah Ndugo diyakini sebagai seorang putri Jenggala yang menetap di Waru yang diperkuat dengan penemuan Prasasti Waharu II di Jenggala serta cincin dan keris di Jolotundo, Mojokerto.

Ulul Mutmainah, mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam FAHUM UIN Sunan Ampel Surabaya, melalui studi lapangannya mendapati adanya fenomena budaya yang telah dilakukan secara turun-temurun, yaitu ritual numpengi ke makam Mbah Buyut Ndugo-Selino. Sebagian masyarakat berbondong-bondong membawa tumpeng dengan segala uborampe ritual yang disyaratkan. Kompleksitas ritual ini pada awalnya didominasi aliran Kejawen yang menyuguhkan nilai entitas kepercayaan dari simbol-simbol ritual seperti penggunaan tumpeng sebagai sajian utama, wedhang ayu, kemenyan, kembang setaman, bubur sengkala, kinangan, dan rokok klobot. Menurut Victor Witter Turner, simbol-simbol dalam sebuah ritual adalah media penghubung ketika manusia ingin berkomunikasi dengan roh leluhur mereka yang memunculkan makna simbolik eksegetik (makna dari pelaku ritual), operasional (makna afeksi), dan posisional (makna pemilik simbol).

Seiring waktu berjalan, ritual numpengi menarik komunitas yang ingin memasukkan unsur keislaman di dalam prosesi ritual ini, yakni dengan penambahan bacaan tahlil dan istighasah sebagaimana mestinya yang dijalankan mayoritas masyarakat di Indonesia. Keduanya harus ada karena tujuannya adalah bertawassul layaknya ziarah di makam para walisongo. Perkembangan suatu ritual tersebut sangat wajar terjadi karena adanya beberapa faktor seperti munculnya difusi atas keterbukaan keyakinan, akulturasi, dan modernisasi yang didasari oleh kemajuan zaman serta berkembangnya pola pikir manusia sehingga membentuk peradaban baru. Sebagaimana Targowski menjelaskan bahwa peradaban pengejawantahannya ada 3 yaitu manusia, budaya, dan infrastruktur.