Berita

@UIN Sunan Ampel Surabaya

Thursday, 17 February 2022

MENJEMPUT TAKDIR, WISUDAWAN HARUS PRO AKTIF

UINSA Newsroom, Kamis (17/02/2022); Pembekalan dan Konsultasi Job Karir bagi wisudawan pada wisuda ke 97 dan 98 digelar pada Kamis, 17 Februari 2022. Hadir dan mengisi kegiatan pembekalan dari unsur alumni yakni Tuan Guru Hasanain Junaini, Lc., M.H., Pimpinan Ponpes Nurul Haramain Lombok Barat NTB; dan Drs. H. A. Badjuri Salim, M.Ag., Direktur PT. Haji Expo Indonesia.

Selain itu, hadir pula Dra. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D., Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PUSTIPD), serta narasumber konsultasi job karir bersama Lucky Abrory, S.Psi., M.Psi., dan Dr. S. Khorriyatul Khotimah, M.Psi., Psikolog.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Muhid, M.Ag., dalam kesempatan ini berpesan kepada segenap wisudawan agar senantiasa memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin pasca lulus kuliah. “Waktu terus berjalan. Persaingan dan kompetisi ditengah masyarakat itu cukup ketat. Oleh karena itu, kita harus segera memanfaatkan momen. Kita harus mengambil peran di tengah-tengah masyarakat,” ujar Dr. Muhid.

‘Tidak perlu menunggu takdir, takdir itu kita jemput.’ Prinsip inilah yang ditekankan Dr. Muhid, agar para alumni senantiasa mengambil peran aktif di masyarakat. Sebab, diam saja tidak akan menambah kebaikan. Dr. Muhid secara khusus juga mengutip data yang disampaikan Kemdikbud Ristek, bahwa hanya 27 persen lulusan Perguruan Tinggi yang bekerja sesuai dengan kualifikasi akademiknya. 73 persen sisanya tersebar di sektor lain yang seringkali tidak berkaitan dengan kualifikasi akademik yang dipelajari di bangku kuliah.

Sejalan dengan data tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, sebagaimana dikutip Dr. Muhid juga menegaskan, bahwa saat ini penguasaan dunia digital menjadi modal utama yang perlu dimiliki oleh setiap alumni perguruan tinggi. Selain itu, alumni perguruan tinggi juga seyogyanya memiliki kemampuan adaptif yang tinggi terhadap keadaan.

“Kita tidak tahu perubahan waktu. Kita tidak tahu keadaan jaman. Tetapi yang jelas jaman itu selalu berubah. Karena jaman selalu berubah, maka mahasiswa utamanya fresh graduate ini harus menyiapkan dirinya untuk siap menghadapi sebuah perubahan itu,” tegas Dr. Muhid.

Dr. Muhid juga berpesan, bahwa ketika seseorang masuk kedalam dunia kerja maka modal pertama adalah bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. “Dalam menghadapi hidup, kerja keras menjadi sebuah syarat bagi kita. Sepertinya tidak mungkin orang itu bisa kaya dengan hidup bermalas-malasan,” terang Dr. Muhid.

“Tetapi ketika beberapa tahun memiliki satu jabatan tertentu, manajer misalnya. Maka kerja cerdas menjadi sebuah kepentingan bagi kita. Tidak mungkin satu pekerja itu diangkat menduduki satu level kalau tidak bisa memimpin, tidak bisa me-manage, tidak bisa menjadi leader,” imbuh Dr. Muhid menegaskan pentingnya kerja cerdas.

Terkait bekerja dengan ikhlas, Dr. Muhid menegaskan, bahwa hal itu erat kaitannya dengan integritas, profesional, dan keterbukaan. “Oleh karena itu, apa yang kita anggap baik itu bukan hanya baik sekedar laporan untuk atasan. Tapi yang kita anggap baik itu adalah baik untuk atasan, diri kita, maupun orang lain. Karena kita memiliki satu integritas, kejujuran bahwa kita harus bekerja maksimal,” tukas Dr. Muhid. (Nur-Alf/Humas)