Column UINSA

UIN Sunan Ampel Surabaya

Monday, 29 August 2022

MENGUATKAN SPIRIT KEDAMAIAN DUNIA MELALUI SHALAT

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا

سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dimasukkan ke dalam surga secara bergelombang. Sehingga ketika mereka sampai ke surga, pintu-pintunya telah terbuka, dan berkatalah kepada mereka para penjaganya, “Salam (sejahtera) semoga terlimpahkan untukmu. Berbahagialah kamu.” Maka, masukilah surga, (dan kamu) kekal di dalamnya” (QS. Az Zumar [39]: 73)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan orang-orang kafir yang dimasukkan ke dalam neraka secara bergelombang. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan sebaliknya, yaitu orang-orang mukmin yang dimasukkan ke dalam surga secara bergelombang pula. Di pintu surga, para malaikat mengucapkan salam bahagia kepada semua mukmin yang memasuki surga.

Salam bahagia itulah yang juga kita ucapkan ketika mengakhiri shalat  untuk semua muslim di manapun mereka berada, khususnya yang berada di sebelah kanan dan kiri kita dalam shalat berjamaah. Pada ujung shalat itu, kita saling mengucapkan selamat atas karunia besar Allah berupa iman dan kekuatan untuk menjalankan shalat. Salam itu juga merupakan doa dan harapan untuk bisa membangun hidup bersama secara damai, tenang, dan sejahtera.

Paling tidak, ada dua filosufi dalam salam shalat. Pertama, salam shalat adalah salam sosial. Ketika kita menoleh ke kanan dan kiri, saat itu kita diingatkan untuk memadukan akhlak “hablun minallah” (hubungan dengan Allah) dan “hablun minannas” (hubungan dengan manusia). Maka, ketika kita bersujud lama dan berzikir panjang setelah shalat, saat itu seolah-olah Allah SWT sedang menunggu kita dan berfirman, “Wahai hamba-Ku, rukukmu khusyuk, sujudmu bagus, dan zikirmu menyenangkan Aku. Sekarang, Aku tunggu bagaimana praktik akhlakmu di tengah keluargamu, tetanggamu dan lingkunganmu.” Salam shalat juga sebuah pesan, “Jangan hanya aktif pergi ke masjid. Tapi, aktiflah juga pergi mengunjungi duafak, fakir miskin, orang sakit, para gurumu, dan orang yang membutuhkan perhatian dan uluran tanganmu.”

Ketika kita membuka halaman-halaman pertama Al Qur’an, ayat yang kita jumpai adalah ayat tentang pesan akhlak hablun minallah dan akhlak hablun minannas, yaitu perintah beriman, beribadah, dan bersedekah:

اَلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. Al Baqarah [2]: 3).  

Jika kita renungkan, semua ibadah selalu mengandung pesan hablun minallah dan hablun minannas itu. Selama Ramadan, kita diperintahkan berpuasa, membaca Al Qur’an, merenung dalam masjid (i’tikaf). Dalam waktu yang sama, kita juga diperintah memperbanyak sedekah. Bahkan, pahala puasa kita ditunda (pending), sampai kita membayar zakat.

Dalam ibadah haji juga demikian. Di saat kita thawaf, sa’i, wukuf, kita selalu diingatkan untuk tidak melukai hati orang, tidak berbantah, tidak membunuh hewan, dan tidak mencabut tumbuh-tumbuhan. Sekali lagi, salam shalat mengajarkan kita untuk tidak membanggakan ibadah seperti shalat wajib dan sunah, puasa wajib dan sunah, haji, umrah, khataman Al Qur’an, zikir samalam suntuk, dan ibadah-ibadah lainnya. Sebab, Allah masih menunggu bukti akhlak kita di tengah keluarga dan masyarakat. Allah menunggu, “Siapa kita sebenarnya. Jangan-jangan engkau hanya dekat dan baik dengan-Ku, tapi jauh dan tidak baik dengan hamba-Ku.”   

Kedua, salam shalat, salam damai sejahtera. Dengan salam, kita diingatkan untuk membangun kehidupan yang damai dan sejahtera, sekaligus doa untuk meraih semua kenikmatan itu.  Betapa mulianya doa dalam salam shalat, dan betapa sejuknya hati kita mendapat salam seindah itu dari orang lain, “Semoga keselamatan, damai, sejahtera dan kasih Allah tercurah untukmu.” Salam itu disampaikan dari hati yang suci setelah dibersihkan melalui doa dan gerakan shalat untuk dipersembahkan kepada semua orang, tanpa pandang bulu.

Mengapa Nabi Adam, a.s harus melewati surga sebelum hidup di bumi? Antara lain agar ia tahu bagaimana kehidupan surga yang indah dan damai itu, lalu dengan pengetahuan itu, diharapkan ia bisa membangun kehidupan di bumi seperti suasana surga. Suasana surga itu digambarkan dalam Al Qur’an:

 إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا
“Mereka tidak mendengar di dalam (surga itu) perkataan yang sia-sia, dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, melainkan mereka mendengar ucapan salam” (QS. Al Waqi’ah [56]: 25-26).

دَعۡوٰٮهُمۡ فِيۡهَا سُبۡحٰنَكَ اللّٰهُمَّ وَ تَحِيَّـتُهُمۡ فِيۡهَا سَلٰمٌ‌ۚ وَاٰخِرُ دَعۡوٰٮهُمۡ اَنِ الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَ

“Doa mereka di dalam (surga itu) ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, wahai  Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam) (QS. Yunus [10]: 10).

سَلَٰمٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ

“(Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang” (QS. Yasin [36]: 58)
                Zikir kita setelah shalat juga zikir as-salam:

اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ

Wahai Allah, Engkaulah as-salam (sumber kedamaian), dari-Mu-lah as-salam (kedamaian), kepada-Mu-lah (kami berharap kembali) dengan as-salam. Hidupkan kami dengan as-salam, masukkan kami ke dalam surga (darussalam).

Perhatikan, apa yang dipesankan pertama kali oleh Nabi SAW ketika menginjakkan kakinya di Madinah? Inilah pesannya:

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اَفْشُوا السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْاَرْحَامَ وَصَلُّوا بِالَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Wahai manusia, sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah pada malam hari ketika (kebanyakan) manusia tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan as-salam (HR. At Tirmidzi dari Abdullah bin Salam r.a).

Inilah shalat yang benar, shalat yang menyucikan hati dan menguatkan semangat kepedulian serta semangat membangun keluarga dan masyarakat yang bahagia, damai, tenang dan sejahtera. “Hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah” (marilah shalat, dan marilah membangun kebahagiaan bersama).