Column UINSA

MEMAKNAI NILAI BUDAYA KAIZEN (PERBAIKAN MUTU BERKELANJUTAN) DALAM BINGKAI ISLAM*

*Oleh: Dr. Muhammad Khodafi, M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Adab dan Humaniora UINSA Surabaya

Dalam era yang terus berkembang dengan laju perubahan yang semakin cepat, penting bagi sebuah masyarakat ataupun lembaga untuk menumbuhkan kesadaran kritisnya  dengan mendasarkan pada  nilai budaya yang progresif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini adalah menerapkan nilai-nilai budaya Kaizen. Kaizen, yang berasal dari bahasa Jepang, secara harfiah berarti “perubahan yang baik secara terus-menerus” atau dalam Bahasa manajemen mutu dikenal dengan konsep “perbaikan bertahap”. Nilai-nilai budaya Kaizen menjadi inti dari keberhasilan industri Jepang dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, membantu berbagai organisasi dan masyarakat memperbaiki diri secara berkelanjutan. Dalam konteks inilah kita sebagai muslim yang baik harus mampu mencermati, mempelajari dan mengambil hikmah dari nilai-nilai budaya Kaizen, serta bagaimana nilai itu dapat membantu membangun tradisi kemajuan berkelanjutan dalam bingkai ajaran Islam.

Kesadaran akan meningkatkan kualitas diri secara berkelanjutan dalam prinsip Kaizen menekankan pada pentingnya ikhtiar perbaikan terus-menerus dalam setiap aspek kehidupan. Nilai ini mendorong individu dan organisasi untuk selalu mencari cara-cara baru untuk meningkatkan efisiensi, kualitas, dan produktivitas. Dalam tradisi kemajuan berkelanjutan, dorongan ini adalah kunci untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing serta relevansi dalam lingkungan yang selalu berubah. Inilah yang kemudian diimplementasikan tahapan siklus Plan, Do, Check, Action. Dalam kontek acara Islam kita bisa menambahkan prinsip kehidupan yang tersurat dalam surat An. Nahl ayat 90, dimana Allah memerintahkan kepada semua hamba-Nya untuk berlaku, Adil, Ihsan, selalu memberi bantuan kepada kerabat (genealogis atau sosiologis), serta mencegah perbuatan keji, mungkar dan menebarkan permusuhan.

Penghormatan terhadap Kualitas Budaya Kaizen mengajarkan pentingnya penghormatan terhadap kualitas dalam setiap tindakan dan hasil yang dihasilkan. Karena itu prinsip adil harus ditekankan sejak dalam proses perencanaan atau sejak dalam pikiran. Masyarakat yang mengadopsi nilai ini akan mengutamakan kepuasan pelanggan, menghargai kualitas tinggi, dan memastikan bahwa produk dan layanan yang dihasilkan memenuhi standar yang tinggi. Dalam tradisi kemajuan berkelanjutan, kualitas yang baik adalah landasan yang kuat untuk pertumbuhan dan kesuksesan jangka panjang. Hal ini hanya bisa didapat secara maksimal jika semua rencana kegiatan atau program dilakukan secara adil dan transparan.

Untuk menumbuhkan keberanian bersikap adil dan ihsan, maka perlu ada pemberdayaan Individu dan kelompok, sehingga tumbuh budaya kerja kolaboratif. Dimana budaya kerjasama atau kolaboratif memiliki nilai tinggi dalam tradisi Kaizen. Hal ini yang menjadi pendorong utama terciptanya  lingkungan kerja yang saling membantu atau mendukung, di mana setiap anggota masyarakat/tim  merasa dihargai, didengar, dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik mereka kepada masyarakat atau lembaga. Melalui partisipasi aktif individu dan kerja sama tim, masyarakat dapat membangun budaya inovasi, di mana ide-ide baru diterima dan diperbaiki secara terus-menerus. Di sinilah nilai mencegah terjadinya tindakan keji dan mungkar bisa lebih efektif diterapkan.

Nilai-nilai budaya Kaizen mendorong pengambilan keputusan berdasarkan fakta dan data yang dapat diandalkan. Ketika keputusan didasarkan pada bukti yang kuat, risiko kesalahan dan kegagalan dapat dikurangi. Dalam tradisi kemajuan berkelanjutan, nilai ini berarti bahwa masyarakat menghargai kebijaksanaan empiris, mengumpulkan informasi yang relevan, dan menganalisis data untuk membuat keputusan yang tepat. Artinya dalam upaya mendorong kualitas berkelanjutan dibutuhkan sikap yang realistik, yakni mengukur potensi kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dengan basis data yang akurat. Sehingga kita tidak terjebak dalam angan-angan keinginan, atau jatuh dalam keputusasaan, sebaliknya kita bisa fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan di setiap tahapan yang kita citakan.

Prinsip Kaizen juga sangat menghargai sikap belajar dan ketekunan dalam menghadapi tantangan. Masyarakat yang menginternalisasi nilai ini akan terus mencari pengetahuan baru, beradaptasi dengan perubahan, dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru. Kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan melihat kegagalan sebagai peluang untuk tumbuh adalah kunci bagi kemajuan berkelanjutan dalam tradisi ini. Inilah nilai Ihsan dalam arti merespon segala bentuk tantangan dan hambatan dengan sikap sabar dan terus istiqomah melakukan ikhtiar-ikhtiar perbaikan.

Mengadopsi nilai-nilai budaya Kaizen dalam membangun tradisi kemajuan berkelanjutan memiliki manfaat yang luar biasa. Dengan menerapkan pendekatan perbaikan terus-menerus, menghormati kualitas, memperkuat pemberdayaan individu dan kolaborasi tim, mengambil keputusan berdasarkan fakta, dan menggali sikap belajar dan ketekunan, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang berfokus pada inovasi, kreativitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Di sinilah nilai keterbukaan dan persaudaraan bisa tumbuh subur sehingga mengurangi peluang terjadi perpecahan atau permusuhan di antara sesama anggota masyarakat dan atau tim managemen.

Akhirnya dalam mengembangkan tradisi kemajuan berkelanjutan, penting untuk mengenali bahwa penerapan nilai-nilai budaya Kaizen adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan komitmen yang kuat dan konsistensi dari seluruh masyarakat. Namun, dengan melibatkan individu dan organisasi dalam budaya Kaizen, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik yang didasarkan pada perbaikan terus-menerus dan kemajuan berkelanjutan.