Berita

Chamdi Wahdana, mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam, FAH UIN Sunan Ampel Surabaya, melalui riset tugas akhirnya berhasil menguak sejarah perkembangan serta kontribusi Majelis Shalawat Anwarul Muhtar terhadap peningkatan spiritualitas pemuda Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan.

Majelis Shalawat Anwarul Mukhtar merupakan komunitas pemuda pecinta shalawat yang bergerak dalam bidang dakwah dan seni Islami di wilayah Kecamatan Glagah. Majelis ini didirikan dan digerakkan para pemuda yang memiliki kesamaan dalam minat, bakat, kesenangan, dan visi dakwah Islam melalui seni khas Islami. Berdirinya Majelis ini diinisiatori oleh Ustadz Zakil Fuad, seorang pemuda dari Glagah bersama rekan-rekannya. Majelis ini mulai mengadakan kegiatan pembacaan Shalawat pada tahun 2012 dan mulai berkembang pesat tahun 2016. Nama “Anwarul Muhtar” sendiri diberikan oleh seorang Ulama dari Gresik, yaitu Habib Abdullah bin Hasan Assegaf pada tahun 2016 saat acara Gebyar Shalawat di rumah warga di Glagah.

Perkembangan Majelis Anwarul Muhtar dibagi menjadi 3 fase, yaitu masa perintisan pada tahun 2012-2016, masa perkembangan pada tahun 2017-2020, dan masa pasang surut pada tahun 2021-2022. Pada masa perintisan, para pemuda fokus melaksanakan kegiatan pembacaan Shalawat secara sederhana di rumah dan di masjid secara bergantian. Sedangkan pada masa perkembangan, majelis semakin banyak jama’ahnya, sehingga para pemuda mulai melakukan penataan organisasi majelis untuk memudahkan penyebarluasan dan pelaksanaan kegiatan majelis di masyarakat. Setelah itu, majelis Anwarul Muhtar mengalami pasang surut akibat adanya Pandemi Corona. Namun seiring berjalannya waktu majelis ini kembali mengalami kebangkitan setelah redup. Ini didukung oleh penggunaan media sosial sebagai media penyebaran dakwah Majelis Shalawat.

Majelis Anwarul Muhtar telah memberikan banyak konstribusi bagi kehidupan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan spiritualitas para pemuda di Kecamatan Glagah. Sebagian besar jama’ah majelis ini terdiri atas para pemuda yang pada awalnya sangat jauh dari pemahaman Agama Islam dan tradisi Islami. Mereka para pemuda kesehariannya suka hura-hura, berfoya-foya, bermain game, bahkan mabuk-mabukan. Namun berkat mereka ikut aktif dalam kegiatan pembacaan shalawat di majelis ini, mereka perlahan berubah kearah lebih positif. Dalam kegiatan ini mereka tak hanya diajak memperbanyak bershalawat, tetapi juga dibimbing oleh para kyai dalam hal agama, spiritualitas, dan akhlak.