Berita

Doa bersama yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi semester 2 menggema di Aula Utama Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya pada selasa 27 februari 2024. Kegiatan ini digelar dalam rangka tarhib atau menyambut bulan suci ramadlan yang sebentar lagi akan hadir di tengah tengah kita.

Saiful Jazil – Kepala Ma’had UINSA mengatakan tafsir tersebut ditulis oleh Gus Awis (Afiduddin Dimyati, red) – Pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an Ponpes Darul Ulum.
“Di Mesir ada Sayyid Quthub dengan kitab Tafsirnya fi Dzilalil Qur’an, di Siria ada Syekh Wahab Az-Zuhaili dengan kitab tafsirnya Tafsir Al-Munir, di UIN Syarif Hidayatullah ada M. Quraish Shihab dengan kitab tafsirnya Tafsir Al-Misbah, maka di UINSA ada Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi dengan kitab tafsirnya Hidayatul Qur’an”. Terang Saiful Jazil.
“Gus Awis selain beliau Pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an Ponpes Darul Ulum beliau juga salah satu dosen terbaik UINSA.” Terang Abdul Muhid – Wakil Rektor Bidangan Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama.
Dalam pemaparannya Gus Awis menjelaskan mengenai cara memperoleh hidayah yang sebesar-besarnya dari Al-Qur’an. Al-Qur’an menunjukkan kepada jalan yang paling benar dan paling lurus. Jika kita ingin mendapatkan hidayah sebanyak-banyaknya dari Al-Qur’an, maka kita harus senantiasa bersyukur. Dalam surah An-Nahl ayat 78 dijelaskan bahwa Allah SWT memberikan kepada diri kita 3 perangkat untuk senantiasa bersyukur, yakni pendengaran, penglihatan dan fuad. Ketiga perangkat ini seringkali diulang-ulang dalam beberapa ayat Al-Qur’an namun kerapkali tidak digunakan sebagai perantara untuk senantiasa bersyukur. Maka dari itu, jangan pernah mengabaikan salah satu dari ketiganya. Pendengaran, penglihatan, dan fuad harus digunakan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.


Dalam hal pendengaran, kita dapat mentadabburi Al-Qur’an dengan cara mengangan-angan dan merenungkan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya di dalam Al-Qur’an terdapat hukum bacaan tajwid berupa idgom, ikhfa’ dan idzhar yang sebenarnya memiliki hikmah-hikmah tersembunyi. Seperti pada kalimat فَإِذَا جَآءَتِ ٱلطَّآمَّةُ ٱلْكُبْرَىٰ yang artinya “Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang”, ayat tersebut dibaca dengan hukum bacaan mad lazim mutsaqqal kilmi sehingga cara membacanya dengan penekan, sejalan dengan artinya bahwa kiamat merupakan kejadian yang sangat dahsyat.
Dalam hal penglihatan, kita dapat mentadabburi Al-Qur’an dengan cara melihat dan membaca Al-Qur’an. Misalnya pada kalimat إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟, terdapat alif pada kata وَهَاجَرُوا۟ sedangkan pada kata وَجَٰهَدُوا۟ tidak terdapat alif. Menurut para ulama, hikmah yang terdapat pada ayat tersebut yaitu hijrah harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sedangkan jihad tidak harus berpindah tempat, salah satu contohnya adalah jihad melawan hawa nafsu yang tidak perlu berpindah tempat.
Sedangkan mentadabburi Al-Qur’an melalui fuad yaitu hati atau fikiran contohnya pada kalimat إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا۟ بِهَا yang maknanya ketika kita (orang muslim) mendapatkan kebahagiaan sedikit saja mereka (orang kafir) merasa sedih, saat kita mendapatkan musibah sedikit mereka akan biasa saja, sedangkan saat kita mendapatkan musibah yang dahsyat mereka akan merasa senang.
Gus Awis sendiri telah menyelesaikan kitab Tafsir Hidayatul Qur’an dalam 4 jilid, hal ini diharapkan dapat menjadi teladan dan motivasi bagi para mahasiswa untuk menulis kitab tafsir Al-Qur’an.