Berita

@Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Saturday, 28 May 2022

Kuliah Tamu Public Speaking: “Be a Good Speaker for a Better Future”

Surabaya, 27 Mei — Dilaksanakan kuliah tamu Public Speaking yang menghadirkan dua narasumber Lia Hilyatul Masrifah, M.A. Presenter TV 9 dan Alvin Khoiron, S.I.Kom, praktisi public speaking. Kegiatan ini merupakan kuliah tamu dari Mata Kuliah Public Speaking yang diampu oleh Ibu Dr. Dwi Setianingsih, M.Pd.I dan Bapak Nur Luthfi Hidayatullah, M.Hub.Int. Acara dibuka oleh Bapak Dr. Chabib Mustofa sebagai Wakil Dekan III yang memberikan sambutan untuk mengawali kegiatan kuliah tamu. Di dalam kegiatan ini mahasiswa dilibatkan aktif untuk menjadi pembawa acara dengan menggunakan dua Bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Khiesta dan Nur Mujahadah menjadi MC yang menyilahkan kedua narasumber untuk menyampaikan materi.

Materi diawali oleh Ibu Lia Hilyatul Masrifah, M.A. yang banyak bercerita tentang pengalamannya bekerja sebagai presenter di TV 9. Ibu Lia menjelaskan bahwa public speaking lebih luas daripada berbicara, kesamaannya adalah menyampaikan Bahasa namun perbedaannya ada pada ruang publik. Sikap yang perlu dilatih di dalam public speaking adalah jujur dan membangun kepercayaan audience untuk mendengar materi yang kita sampaikan. Selain itu juga diperlukan sifat open minded sebagai seorang pembicara agar dapat diterima di ruang publik. Ibu Lia juga membagikan tips kepada mahasiswa untuk membebaskan pikiran dan mengembangkan 5W + 1H di dalam public speaking. Teman-teman mahasiswa juga perlu latihan berbicara minimal 60 detik tentang satu topik. Hal ini melatih mahasiswa untuk berfikir cepat dan kritis. Selain itu di dalam public speaking ada faktor lain yang mendukung sukses nya menjadi pembicara, yaitu suara yang menghipnotis. Di dalam suara yang menghipnotis itu terdiri dari 7% kata-kata, 38% vocal dan 55% visual. Selain itu juga perlu melatih untuk bisa memiliki suara yang berasal dari diafragma. Ibu Lia juga menjabarkan ada 5 dasar public speaking yang perlu dicermati, yakni intonasi, artikulasi, pace, diafragma, dan aksentuasi (penekanan kata). Selain itu, narasumber juga membagikan pengalamannya bekerja di media memerlukan keyakinan, komitmen dan kerja keras untuk berhasil dan bisa berkembang di industri media.

Narasumber kedua, Alvin Khoiron, S.I.Kom mengawali materi dengan menjelaskan ada 3 kriteria peserta di dalam forum. Pertama, ngantuk dan kuliah ikut-ikutan. Kedua, tidak memiliki target berikutnya. Ketiga, memiliki impian besar dan ada target selanjutnya. Alvin merupakan salah satu pelopor komunitas Public Speaking di UINSA karena menyadari betapa pentingnya skill public speaking untuk dimiliki mahasiswa UINSA. Menurut Alvin, public speaking adalah seni berbicara di depan publik untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada audience. Melalui penjelasannya, Alvin juga menjelaskan bahwa Public Speaking sangat penting untuk masa depan baik itu karir ataupun studi. Public speaking diyakini dapat melejitkan karir, mencapai target, mampu bekerjasama, menggerakkan orang dan membangun keyakinan. Menjadi pembicara yang mengagumkan itu bukan warisan, melainkan dengan latihan.

Setelah dua narasumber menyampaikan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa seputar cara mengatasi demam panggung, kendala di dalam public speaking seperti cara menarik audience dan cara menghilangkan logat yang medok. Narasumber menjawab dengan lugas bahwa di dalam public speaking hal yang paling penting adalah latihan terus menerus dan melakukan evaluasi dari aksi panggung nya. Mahasiswa cukup puas dengan materi yang disampaikan kedua narasumber karena selain materi juga ada praktik-praktik yang dicontohkan oleh narasumber kedua Alvin Khoiron, S.I.Kom. Kegiatan kuliah tamu ini ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber oleh Ibu Dr. Dwi Setianingsih, M.Pd.I dan Bapak Nur Luthfi Hidayatullah, M.Hub.Int. Di akhir acara seluruh peserta baik pembicara, mahasiswa dan dosen menyanyikan lagu bagimu negeri bersama-sama. (Ajeng)