Berita


Selasa (20/6) mahasiswa semester 4 Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat bertatap muka dengan Dra. Mierrina, M.Psi, seorang dosen sekaligus psikolog, yang menjadi dosen tamu dalam mata kuliah Manajemen Konflik Keagamaan. Di pertemuan ini, Mierrina memaparkan topik terkait trauma healing. Ia menerangkan beberapa penyebab seseorang mengalami trauma, yang bisa berdampak pada selfharm, depresi, bahkan bunuh diri. Penyebab utama dari trauma ialah ketika seseorang mengalami hal yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, dan mencemaskan. Contohnya, bencana alam, kehilangan orang yang disayang, kekerasan fisik, perang atau konflik bersenjata, dan kecelakaan. Trauma healing, akan membantu memulihkan dan mengatasi individu yang trauma akibat pengalaman traumatis dan menyembuhkan trauma yang dapat memungkinkan seseorang untuk melanjutkan hidupnya tanpa terbayang-bayang akan kejadian masa lalu.

Ada beberapa fase trauma healing. Pertama, membahas kebutuhan korban dan menjauhkan rasa takut dan kecemasan korban. Kedua, mengingat dan menerima, yaitu mengingat setiap konsekuensi yang diterima dari peristiwa traumatis yang akan membantu korban agar lebih bisa menerima realita yang sudah terjadi. Ketiga, memahami dan mencari solusi atas trauma yang dialami agar korban dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.

Penting bagi masyarakat umum untuk mengetahui strategi yang efektif dalam mengatasi trauma terutama bagi korban konflik. Membangun dukungan sosial menjadi langkah penting dalam mengatasi trauma dan membantu membangun hubungan yang kuat serta saling mendukung antara individu-individu terdampak konflik.

Di sisi lain, adanya konflik dapat membuat korban mengalami cedera serius, dan trauma mental yang mendalam. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa korban memiliki akses bantuan yang memadai ke perawatan medis dan psikologis. Selain itu, juga dibutuhkan beberapa terapi untuk mengurangi gejala trauma. Di antaranya terapi perilaku kognitif yaitu membantu korban trauma untuk memproses emosi dan pikiran terkait trauma, membangun keterampilan pengelolaan stres, dan mengubah pola pikir yang tidak sehat. Selain itu, ada juga terapi bermain yang sering digunakan untuk membantu anak-anak dalam mengatasi trauma dengan menggunakan permainan dan aktivitas kreatif sebagai cara untuk memfasilitasi ekspresi emosi, mengurangi kecemasan, membangun hubungan, dan memproses pengalaman traumatis.

Belajar dari ahli trauma healing yang berpengalaman menjadi penting untuk dapat memahami situasi korban konflik dikarenakan kebutuhan yang berbeda dari setiap individu. Dan sangat penting untuk memastikan bahwa upaya pemulihan trauma berlangsung dalam jangka panjang. Ini termasuk membangun sistem dukungan yang berkelanjutan, menyediakan layanan kesehatan mental dan psikososial yang terus-menerus, dan berusaha untuk mengurangi dampak trauma yang mungkin terjadi di masa depan. (Meilya Asfirotul Khoiriyah – Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama)