Berita

UIN Sunan Ampel Surabaya

Monday, 1 August 2022

SEKOLAH AKREDITASI MENUJU KINERJA MAKSIMAL 4 TAHUN KEDEPAN

UINSA Newsroom, Senin (01/08/2022); Setelah sukses mengelar kegiatan ‘Sekolah Administrasi Tahap I’ bagi segenap Pejabat dan Tim Manajemen, Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menggelar kegiatan sekolah, bertajuk ‘Sekolah Akreditasi.’ Kegiatan ini digelar dalam rangka memberikan pemahaman Unit Pengelola Program Studi (UPPS) dan Program Studi pada Akreditasi. Sekolah Akreditasi berlangsung di Hall lt. 5 Gedung GreenSA Inn Sidoarjo pada Senin-Selasa, 1-2 Agustus 2022.

Kegiatan Sekolah Akreditasi ini mengagendakan diseminasi pengetahuan dan keterampilan pada UPPS dan Program Studi terkait kebijakan, instrumen, implementasi, kondisi, serta linimasa akreditasi. Kegiatan pun digelar secara bertahap dalam rangka membatasi jumlah peserta. Tahap I untuk 127 peserta dari Pascasarjana, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakluras Psikologi dan Kesehatan. Selanjutnya tahap 2 untuk 130 peserta dari Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, dan Fakultas Sains dan Teknologi.

Sekolah Akreditasi yang dikomandani Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UINSA Surabaya ini, menjadwalkan paparan dari narasumber internal. Antara lain Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Prof. Dr. H. Ali Mudlofir, M.Ag.; Ketua LPM, Dr. Ali Mustofa, M.Pd.; Perwakilan PUSTIPD; serta Akademik Admin PD-DIKTI, SISTER, dan SINTA.

Rektor UINSA Surabaya, membuka acara dengan kembali mengingatkan tetang pentingnya untuk menjaga protokol kesehatan secara ketat. Kendati berkegiatan diluar tidak lagi dibatasi, namun pandemi belum usai. Sehingga, kepedulian akan kesehatan diri dan lingkungan tetap menjadi hal yang perlu mendapat perhatian bersama. Rektor juga menjelaskan, bahwa UINSA tengah berupaya mengagendakan vaksinasi booster kedua bagi warga kampus UINSA Surabaya.

Dalam kesempatan ini, Rektor juga menyampaikan paparan tentang pemaknaan ayat “Ya Ayyuha Ladzina Amanu Udkhulu Fissilmi Kaffah” (QS al-Baqarah; 208). Rektor menekankan, bahwa pemaknaan kata Kaffah pada ayat tersebut berarti bersama-sama (Ajmain, Jamii’an). Termasuk kata As Silmi yang kerap dartikan sebagai Islam, Kedamaian, Ketertiban, dan Harmoni. “Maksudnya, kalau kita tarik dalam kegiatan kita hari ini, bapak/ibu sekalian adalah, nggak  bisa menciptakan harmoni sendiri-sendiri, ndak bisa menciptakan perdamaian sendiri-sendiri, harus bareng-bareng,” ujar Prof. Muzakki.

Karenanya, terkait kebutuhan akreditasi unggul yang dinilai Rektor sebagai kebutuhan besar, perlu adanya kerja kolektif antar lini pada UINSA Surabaya. “Kenapa muncul konsep UPPS? Itu adalah filosofinya bahwa penyelenggara program studi itu bukan sekedar urusan kaprodi, tapi kebutuhan kita bersama,” imbuh Prof. Muzakki.

Penting untuk diingat bersama, lanjut Rektor, bahwa core business UINSA Surabaya adalah Akademik. Rektor menegaskan, bahwa, sehebat dan setinggi apapun pendapatan universitas, jika akreditasi hanya baik maka itu tidak berarti apapun.

Karenanya, seiring dengan akan berakhirnya masa berlaku akreditasi universitas pada 2024, maka sebelum memasuki APT, perlu menuntaskan permasalahan terkait program studi. Terutama prodi yang mendapat catatan pada Instrumen Pemantauan dan Evaluasi Peringkat Akreditasi (IPEPA). “Yang tidak kalah pentingnya hari ini kita selesaikan bersama-sama adalah apa yang harus kita lakukan pada jabatan masing-masing,” tegas Prof. Muzakki.

Rektor juga menunjukkan beberapa random image tentang rambu-rambu dan atau peringatan yang terpasang di Kampus A. Yani maupun Gununganyar. Terutama tentang himbauan agar tertib dan santun dalam berkendara. Dua kalimat himbauan, ‘Ngebut=Haram’ dan ‘Ngebut=Benjut’ yang memiliki tujuan sama tapi berbeda pemakaian diksi.

Rektor mengingatkan, bahwa penting untuk menggunakan pemilihan kata yang baik dan benar. Relasi logisnya dengan kondisi UINSA Surabaya saat ini, bahwa masih banyak dari pejabat maupun tim manajemen yang belum sepenuhnya paham tentang subtansi kebutuhan akreditasi. “Mencari diksi yang menjelaskan inilah subtansi yang akan ditanyakan, itu berbeda kalau kita tidak tahu contoh paling kongkrit,” lanjut Prof. Muzakki.

Sehingga melalui Sekolah Akreditasi, Rektor ingin mengajak kepada segenap peserta untuk belajar dari kesalahan yang ada. Harapannya, sebelum APT pada 2024 dilakukan, prodi-prodi yang ada di UINSA Surabaya dapat berstatus minimal ‘baik sekali’ atau ‘unggul.’ “Semua dari kita, tidak boleh habis ini tidak tahu akreditasi itu apa? Tugasnya apa? Lalu apa yang harus dilakukan, tidak boleh tidak tahu. Semua harus tahu. Dengan cara begini lalu kemudian ketika kita melaksanakan tugas dalam 4 tahun kedepan, kita semua dalam kinerja yang maksimal,” tukas Prof. Muzakki. (Nur/Humas)