Coloumn UINSA

MENGENAL APA ITU ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER

Oleh: dr. Anjani Putri Retnaninggalih

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang lebih dikenal luas dengan ADHD adalah istilah medis yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu keadaan gangguan perkembangan saraf pada masa kanak-kanak. Gejala ADHD biasa mulai muncul saat masa kanak-kanak dan dapat bertahan hingga remaja. ADHD mengakibatkan anak-anak kesulitan untuk memusatkan perhatian dan memiliki kecenderungan untuk bersikap hiperaktif.

Anak-anak atau remaja yang mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian atau sulit berkonsentrasi dan hiperaktif belum tentu mengalami ADHD. Meski terlihat seperti tidak mendengarkan pembicaraan, bersikap hiperaktif, dan mudah teralihkan perhatiannya, mereka belum tentu mengalami ADHD.

ADHD sering kali tidak terdiagnosis, karena orang tua menganggap perilaku hiperaktif yang terlihat atau sulitnya berkonsentrasi sebagai hal yang biasa saja dan lumrah terjadi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenal apa itu ADHD, bagaimana gejalanya, dan seperti apa tindak lanjut yang sebaiknya dilakukan.

Untuk dapat mendiagnosis bahwa seorang anak mengalami ADHD membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dokter anak dan psikiater akan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik dan psikologis pada anak, keluarga, dan guru di sekolah anak. Selain itu, untuk memastikan diagnosis, dokter juga dapat menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya pemeriksaan darah, tes fungsi hati, tes fungsi tiroid, dan lain-lain.

Bagaimana gejala ADHD pada anak?

Gejala ADHD pada anak-anak umumnya muncul di usia 3 tahun dan makin terlihat seiring bertambahnya usia anak, terutama setelah masuk sekolah atau awal masa pubertas. Namun, gejala ADHD juga bisa saja baru muncul di atas usia 3 tahun.

ADHD ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian serta adanya perilaku hiperaktif. Sebenarnya, merupakan hal normal bila anak terkadang sulit memusatkan perhatian atau bersikap hiperaktif. Namun, pada anak dengan ADHD, perilaku tersebut lebih sering muncul dan lebih parah. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar dan prestasinya di sekolah. Selain itu pada anak-anak dengan ADHD seringkali terdapat kesulitan dalam berinteraksi sosial, terutama dengan anak-anak sebayanya. hal tersebut biasanya dapat terlihat seperti anak yang asik main sendiri dan kurang dapat bermain bersama-sama dengan teman sebayanya.

Sebagian besar anak dengan ADHD mengalami dua gejala tersebut, meski terkadang hanya salah satu gejala yang terlihat lebih dominan atau menonjol. Misalnya, pada anak yang belum sekolah, gejala hiperaktif akan lebih menonjol. Sementara pada anak yang sudah sekolah, gejala sulit berkonsentrasi akan lebih menonjol, ditandai dengan sulit memusatkan perhatian di kelas.

Attention Deficit (Kesulitan memusatkan perhatian)

Anak dengan ADHD akan kesulitan dalam memerhatikan arahan dari orang lain atau pelajaran dari guru, misalnya:

  • Tidak fokus dalam mengerjakan sesuatu
  • Perhatiannya mudah teralihkan
  • Sering terlihat seperti tidak mendengarkan pembicaraan atau arahan, bahkan ketika diajak berbicara langsung
  • Tidak memerhatikan hal-hal detail
  • Ceroboh
  • Sulit mengatur tugas dan aktivitas yang dijalani
  • Sulit mengikuti instruksi untuk mengerjakan sesuatu
  • Sering kehilangan barang yang digunakan sehari-hari
  • Tidak menyukai aktivitas yang memerlukan konsentrasi, seperti mengerjakan PR

Anak yang hanya mengalami gejala di atas tanpa menunjukkan perilaku hiperaktif menandakan bahwa anak tersebut mengalami ADHD jenis inatentif.

Hyperactivity Disorder (Perilaku Hiperaktif)

Contoh dari perilaku hiperaktif adalah:

  • Sulit untuk diam di tempat duduknya ketika mengikuti pelajaran di kelas
  • Kebiasaan menggerakkan bagian tubuh, terutama kaki atau tangan, ketika sedang duduk
  • Sulit beraktivitas dengan tenang
  • Berlari-lari atau memanjat sesuatu di saat yang tidak tepat
  • Sering memotong pembicaraan orang lain
  • Berbicara terlalu banyak
  • Sering mengganggu aktivitas yang dilakukan oleh orang lain
  • Tidak dapat diam dan selalu ingin bergerak

Apakah yang harus dilakukan bila anak kemungkinan mengalami ADHD?

Apabila orangtua merasa ragu-ragu bahwa anaknya kemungkinan mengalami ADHD, maka sebaiknya konsultasikan pada dokter. Gejala ADHD sering kali sulit dibedakan dengan perilaku anak biasanya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila merasa anak kemungkinan mengalami ADHD.

Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter anak dan psikiater akan menegakkan diagnosis, apakah anak tersebut mengalami ADHD atau tidak. Pada anak-anak dengan ADHD, dokter anak dan psikiater dapat menyarankan berbagai terapi yang dapat dilakukan, salah satunya adalan psikoterapi.

Jenis psikoterapi yang bisa menjadi pilihan adalah:

  • Terapi perilaku kognitif atau¬†cognitive behavioural therapy¬†(CBT)
    Terapi perilaku kognitif bertujuan membantu anak untuk mengubah pola pikir dan perilaku saat menghadapi masalah atau situasi tertentu.
  • Terapi¬†psikoedukasi
    Anak akan diajak untuk berbagi cerita dalam terapi ini, misalnya kesulitan mereka dalam mengatasi gejala ADHD. Melalui terapi ini, diharapkan pasien dapat menemukan cara yang paling sesuai untuk mengatasi gejala tersebut.
  • Terapi¬†interaksi sosial
    Jenis terapi ini dapat membantu anak untuk memahami perilaku sosial yang layak dalam situasi tertentu.

Orang tua, keluarga, guru, dan pengasuh juga membutuhkan bimbingan agar dapat mendampingi anak-anak dengan ADHD. Oleh sebab itu, mereka juga perlu mendapatkan pemahaman dan bimbingan khusus mengenai ADHD.

Untuk membantu anak mengendalikan gejala-gejala ADHD, orang tua juga dapat menerapkan pola hidup sehat pada anak, seperti:

  • Membiasakan¬†pola makan¬†yang sehat dan bergizi seimbang
  • Memastikan anak cukup tidur dan istirahat
  • Membatasi waktu anak dalam menonton televisi,¬†bermain video game, dan menggunakan ponsel atau komputer
  • Mengajak anak melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari

Diagnosis dan penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu anak-anak dengan ADHD untuk beradaptasi dengan kondisinya dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.