Column

Menyulam Harapan dari Dinamika Kelembagaan dan Akademik
(Kado untuk 60 Tahun UINSA)

“Pendidikan bukan sekadar ruang kelas dan kurikulum tetapi medan harapan dan perjuangan kolektif.”

Dalam ruang dan waktu yang terus bergerak, dunia kelembagaan dan akademik tidak pernah berhenti mengalami perubahan. Tuntutan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, serta dinamika kebijakan publik menempatkan institusi pendidikan tinggi pada persimpangan yang menantang. Di tengah situasi ini, menyulam harapan merupakan sebuah keniscayaan yang lahir dari kesadaran akan perlunya merawat integritas kelembagaan dan memperkuat etos akademik. Harapan itu tumbuh dari dinamika, dari kegelisahan para pendidik dan peserta didik, dari semangat inovasi kelembagaan, dan dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa yang tidak pernah lekang oleh zaman.

Di tengah arus perubahan global yang kian cepat, perguruan tinggi keagamaan Islam negeri seperti UIN Sunan Ampel Surabaya menghadapi tantangan sekaligus peluang yang tidak sedikit. Transformasi digital, tuntutan dunia kerja, dan pergeseran paradigma keilmuan memaksa kampus-kampus Islam untuk berbenah sekaligus membentuk jati diri baru yang relevan, unggul, dan berdampak. UIN Sunan Ampel, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terdepan di Indonesia bagian timur, kini menghadapi tantangan untuk melangkah lebih berani ke masa depan.

Sebagai institusi yang membawa nama besar salah satu nama Wali Songo, UIN Sunan Ampel sudah sepantasnya tidak sekadar menjadi menara gading yang mengulang-ulang romantisisme warisan masa lalu tetapi juga menjadi pusat produksi gagasan segar dan praksis keilmuan yang membumi. Maka, muncullah pertanyaan yang mendesak: “sejauh manakah etos memperbarui kerangka kelembagaan dan akademik demi menjawab panggilan zaman?”

Membangun Infrastruktur Kelembagaan, Bukan sekadar Gedung
Isu kelembagaan di UIN Sunan Ampel tidak dapat direduksi hanya pada pembangunan fisik dan sarana. Memang, beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan lonjakan pembangunan gedung-gedung baru, laboratorium, dan ruang kelas representatif, bahkan pendirian program studi baru. Akan tetapi, substansi kelembagaan sejatinya terletak pada tata kelola, kepemimpinan visioner, budaya organisasi, serta kualitas layanan akademik dan non-akademik.

Tata kelola yang sehat bukan hanya soal administratif tetapi soal paradigma. Kampus harus dikelola dengan prinsip good governance yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, partisipasi sivitas akademika, dan inovasi. Struktur birokrasi yang tidak fleksibel mungkin menjadi penghambat kreativitas dan gerak cepat akademik. Kita perlu memberi ruang lebih besar pada inisiatif dan kolaborasi lintas unit tanpa belenggu formalistik yang berlebihan.

Apakah kita cukup berani melakukan otokritik dan mengevaluasi sistem tata kelola pada masa kapanpun? Apakah kita sungguh telah memberi ruang kepada dosen muda, peneliti kreatif, dan mahasiswa berpikiran maju untuk ikut mendesain arah institusi ini?

Akademik yang Berdampak dari Output menuju Outcome
Secara akademik, UIN Sunan Ampel telah menunjukkan geliat positif dan dinamika yang progresif. Akreditasi unggul di sejumlah program studi, penguatan riset berbasis roadmap, serta peningkatan publikasi ilmiah menjadi indikator yang menggembirakan. Di sini, ada pertanyaan otokritik lanjutan: apakah semua ini sudah cukup untuk menjawab kebutuhan umat dan bangsa?

Sudah saatnya UIN Sunan Ampel berani menggeser orientasi dari sekadar output menjadi outcome. Kurikulum tidak lagi cukup hanya memuat kompetensi teoretis dan administrasi perkuliahan yang rapi, melainkan harus mendidik mahasiswa menjadi aktor perubahan: kreator konten dakwah digital, pegiat literasi keislaman kritis, entrepreneur sosial, hingga konsultan kebijakan berbasis nilai-nilai Islam moderat (wasathiyah).

Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) dan Kurikulum Berdampak perlu lebih konkret diintegrasikan, tidak hanya sebagai slogan workshop. Hal ini berarti setiap mata kuliah harus dirancang dengan orientasi pada peran nyata lulusan, bukan sekadar penyelesaian SKS. Riset mahasiswa tidak hanya berhenti di rak perpustakaan tetapi menyentuh problematika masyarakat melalui proyek nyata, publikasi populer, hingga produk inovatif.

Kesenjangan antara desain dan praktik perlu diatasi. Mungkin banyak dosen yang belum sepenuhnya memahami filosofi OBE, atau bahkan belum merasa perlu mendesain perkuliahan yang kontekstual dan partisipatif. Hal ini menunjukkan, bahwa revitalisasi akademik tidak cukup dengan regulasi, tetapi butuh investasi pada pelatihan, pendampingan, dan budaya akademik yang sehat. Keterlibatan para dosen, bahkan semua dosen, dalam penyusunan kurikulum, penting diciptakan dengan segenap cara, agar ruh kurikulum itu benar-benar meresap ke para aktor pendidikan.

Harapan Menuju Universitas Riset yang Religius dan Relevan
Sebagai kampus keislaman, UIN Sunan Ampel tentu memiliki keunikan: menggabungkan tradisi keilmuan Islam dengan ilmu sosial, sains, dan teknologi, dengan paradigma “Twin Towers”-nya. Inilah kekayaan yang belum sepenuhnya tergarap secara maksimal. Integrasi keilmuan masih kerap bersifat administratif (penggabungan fakultas dan prodi), bukan epistemologis (penyatuan cara pandang dan pendekatan). Padahal, tantangan dunia Islam hari ini menuntut pendekatan multidisipliner yang kuat dan lintas batas.

Ke depan, UIN Sunan Ampel perlu memperkuat dirinya sebagai universitas riset yang religius dan relevan. Ini bisa diwujudkan melalui:

  1. Pusat riset multidisiplin keislaman modern, yang memadukan Islam, lingkungan, teknologi, dan budaya lokal.
  2. Model inovasi sosial berbasis keagamaan, seperti platform digital dakwah moderat, riset keberagaman berbasis big data, hingga ekosistem wirausaha berbasis pesantren.
  3. Jaringan kolaborasi global, dengan menjalin kerja sama nyata bersama universitas-universitas dunia, bukan hanya MoU tanpa aksi.

Arah Baru, Penting Kita Susun Bersama
UIN Sunan Ampel Surabaya memiliki modal besar: sejarah panjang, SDM yang berkembang, serta posisi strategis sebagai pusat studi keislaman di Indonesia timur. Namun, modal itu dapat menjadi beban jika tidak diarahkan dengan visi progresif yang adaptif dan transformatif. Dunia tidak sedang menunggu, dan pendidikan tinggi Islam harus menjadi yang terdepan dalam pembacaan arah zaman.

Transformasi dinamika kelembagaan dan akademik bukan hanya tugas pimpinan. Ini adalah tanggung jawab kolektif, yang harus melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan alumni dan masyarakat luas. Slogan “Stronger Together, Together Stronger” sudah memberikan pasokan refleksinya. Mari kita rawat harapan dan kemuliaan bersama, bahwa UIN Sunan Ampel bukan hanya kampus Islam, tetapi kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin masa depan yang berilmu, beriman, dan berdampak nyata, dalam semangat “Building Character Qualities: for the Smart, Pious, and Honourable Nation”.



Ditulis oleh Sokhi Huda
Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya