Column UINSA

Monday, 19 December 2022

KESULITAN MEMBAWA KEMUDAHAN

Oleh: Tim Muhibah Jepang

Perjalanan Indonesia-Jepang tidak mudah dan butuh waktu yang cukup lama. Tidak hanya soal lamanya tetapi juga butuh perjuangan untuk menghadapi tantangan. Tidak semua ikhtiyar menjadi lebih besar berjalan mulus tapi justru diuji dengan kesabaran. Kesabaran Tim UINSA yang mendapatkan tugas Rektor untuk menjadi bagian yang ingin membesarkan UINSA diuji dengan berbagai rintangan.

Rintangan pertama saat check in di Bandara Soekarno-Hatta disibukkan dengan hasil download Pedulilindungi yang harusnya tersimpan dalam file download tak kunjung ketemu. Hampir seluruh tim bahkan petugas Bandara yang konon sangat high smart dalam menghadapi persoalan teknologi pun tak kuasa menemukan posisi file yang menjadi salah satu syarat utama untuk masuk ke negeri Sakura. Salah satu negeri yang sangat ketat dan disiplin dalam prevensi penularan Covid-19. Hampir 1,5 jam file tersebut dilacak, hampir habis masa check in pesawat, dan hampir tidak mungkin dapat diberangkatkan. Tapi rupanya kemungkinan berangkat hanya diberikan atas kuasa Allah.

KuasaNya lewat salah satu hambaNya yang lain dengan cara yang lain dapat mengakses file dari Pedulilindungi yang membuktikan bahwa salah seorang calon penumpang Cathay Pasific layak terbang bersama tim lainnya yang lebih dahulu berhasil menunjukkan bukti kelayakannya. Bukti kelayakan yang berhasil didapatkan menjadi privilege bagi semua Tim untuk bersama-sama meninggalkan Indonesia menuju Hong-Kong. Setiba di Bandara Hong-Kong dan di saat akan melalui pintu pemeriksaan pada jalur passanger transfer, salah seorang tim lainnya pun mengalami cobaan. Cobaan yang berbeda merupakan tantangan yang kedua.

Tantangan dan sekaligus uji kesabaran adalah bahwa penumpang pesawat Cathay Pasific sebagai Tim UINSA kehilangan tiket penerbangan Hong-Kong menuju Kansai. Atas kehilangannya ia kemudian tanya kepada setiap temannya sambil jalan antri untuk pemeriksaan. Tidak ada satu pun temannya yang menjawab keberadaan tiketnya. Akhirnya ia keluar dari barisan antrin dan bergegas menghampiri petugas. Petugas Bandara pun sangat bersahabat dalam menyikapi penumpang yang kebingungan. Namun saat sedang dilayani petugas, penumpang tersebut dihampiri temannya karena ternyata tiket yang diduga hilang atau belum mendapatkan tiket ditemukan nempel dan cukup lekat dengan tiket temannya. Inilah ujian kedua yang menimpa tim dan atas kesabarannya kemudian ia bersatu kembali dengan tim.

Belajar dari pengalaman pahit dan berusaha bersabar menghadapi cobaan menguatkan tim untuk melanjutkan penerbangan dari Hong-Kong menuju Kansai, Osaka. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, serta penuh tantangan akhirnya tiba di Jepang dengan selamat. Kita berawal dari kesulitan dan berakhir dengan kemudahan (inna maal usri yusra). Kemudahan yang dirasakan saat pengecekan hasil tes bebas Covid, administrasi imigrasi dan keluar dari Bandara Osaka. Tim UINSA keluar dari bandara dan menuju stasiun Osaka untuk naik Shinkansen, yaitu kereta cepat yang kecepatannya diakui dunia. Shinkansen mengantarkan Tim menuju final destination, Hiroshima University.