Column UINSA

HUBUNGAN SPRITUALITAS DENGAN KECEMASAN LANSIA di TENGAH PANDEMI COVID-19

Pada awal tahun 2020, terjadi penyebaran virus jenis baru yaitu corona virus jenis (SARS-CoV-2) sedangkan, penyakitnya disebut Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang menggemparkan dunia. Menurut Lin et al. (2020) virus yang asal mula di temukan di kota Wuhan, Tiongkok ini telah merenggut ribuan nyawa warga Cina secara beruntun. Penyebaran virus corona kebanyakan sama dengan virus lain pada umumnya, misalnya melalui percikan air liur pengidap saat batuk atau bersin, bersentuhan tangan atau wajah dengan pengidap, ataupun saat menyentuh hidung dan mulut setelah berkontak langsung dengan barang yang terkena air liur pengidap. Masa inkubasi virus corona belum diketahui secara pasti, namun rata-rata gejala pertama akan muncul pada tubuh sekitar 2-14 hari.

Penyebaran virus corona ini mempengaruhi berbagai aspek di indonesia, mulai dari pendidikan, keagamaan, ekonomi, transportasi, pariwisata, dan sebagainya. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dan akan memicu kondisi psikis masyarakat, seperti ketakutan dan kecemasan.
Kondisi psikis yang sering timbul pada saat pandemi ini adalah kecemasan, terutama kecemasan yang dialami oleh lansia. Lansia yang berada dalam karantina akan merasa kebingungan, kesepian, kehilangan kebebasan, dan berpikir tidak masuk akal yang dapat berujung depresi. Apalagi jika lansia melakukan karantina tanpa disertai keluarga maka akan berujung pada pembatasan kontak emosional pada keluarganya, karena lansia cenderung gagap dalam berteknologi. Sebenarnya teknologi juga membawa pengaruh baik dan buruk bagi keadaan emosional lansia yang dapat mengoperasikan alat tersebut, baiknya karena hubungan sosial dapat dipertahankan dengan komunikasi melalui alat teknologi sedangkan buruknya banyak beredar informasi-informasi yang tidak akurat yang tentu beresiko bagi lansia megalami kecemasan yang berlebihan.

Untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan ini, sebagian besar lansia memilih untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti dengan beribadah ataupun yang lainnya. Hal ini menimbulkan dampak baik bagi lansia yang sedang berada dalam kondisi pandemi, karena lansia lah salah satu orang yang sangat mudah terpapar oleh virus corona. Tetapi meski begitu, hal ini juga dapat menimbulkan dampak negatif. Lansia yang cenderung gagap dalam berteknologi membuat mereka tertinggal dengan adanya informasi-informasi baru seputar dunia luar sehingga mereka lebih memilih mempertahankan kearifan lokal mereka sebagai cara mengatasi berbagai masalah yang ada, salah satunya adalah covid-19. Lansia cenderung hanya memikirkan spiritualitas dan tidak mau percaya dengan pengobatan atau himbauan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Inilah alasan kami membuat essai yang berjudul “Hubungan Spritualitas Dengan Kecemasan Lansia di Tengah Pandemi Covid-19”. Karena kami ingin mencari tahu apakah spiritualitias yang dipegang teguh oleh lansia ini, apakah berhubungan dengan kecemasan yang mereka rasakan.

Kembali lagi ke pembahasan awal, tahun 2020 merupakan tahun dimana Indonesia juga ikut merasakan dampak dari adanya pandemi covid-19. Covid-19 sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya virus corona dan mengakibatkan timbulnya gejala berupa gangguan pernapasan. Pada awalnya virus ini belum diketahui apakah lewat manusia ke manusia, namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah kasus, seperti kasus 15 petugas medis terpapar infeksi virus corona oleh salah satu pasien yang dicurigai sebagai “super spreader”. Transmisi pneumonia (penularan melalui percikan air liur pengidap) kemudian dikonfirmasi dapat menular dari manusia ke manusia (Relman, 2020). Pada 30 Januari 2020, World Health Organization menyatakan wabah (SARS-CoV-2) sebagai Kesehatan Masyarakat Darurat dari Kepedulian. Berdasarkan data WHO 1 Maret 2020, dipastikan virus telah menyebar ke 65 negara di dunia, dengan penderita berjumlah 90.308 pasien covid-19. Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat jumlah kasus virus corona di dunia mencapai 5,21 juta dengan angka pasien 2.05 juta dan pasien meninggal 338 ribu jiwa. Sedangkan, di Indonesia sendiri jumlah kasus virus corona mencapai 20.796 kasus dengan pasien sembuh 5,507 dan pasien meninggal mencapai 1,326 jiwa. Pandemi ini tentunya membawa duka bagi masyarakat dunia maupun Indonesia. Virus corona resmi masuk ke Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Dua orang warga Indonesia terkonfirmasi positif virus corona setelah berkontak langsung dengan turis jepang yang berkunjung di Indonesia. Pada tanggal 11 Maret 2020 kasus covid-19 meninggal pertama terjadi pada pria berusia 59 tahun di Solo. Diketahui ia terinfeksi setelah mengikuti seminar pada bulan Februari yang berlokasi di Bogor. Untuk menghentikan atau mengurangi penyebaran virus corona di Indonesia, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang dianggap efektif, misalnya social distancing, lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Namun dengan adanya kebijakan-kebijakan ini, kehidupan masyarakat mengalami perubahan baik dari faktor ekonomi, kesehatan fisik, serta kesehatan mental. Salah satunya adalah gangguan kecemasan.


Pada dasarnya kecemasan adalah keadaan kondisi psikologis manusia yang penuh dengan khawatir dan rasa takut. Rasa cemas ada akibat dirinya merasa terancam dan tidak mampu mendapat solusi atau jalan keluar untuk kondisi perasaanya sendiri. Pada masa seperti saat ini, lansia merupakan kelompok orang yang paling rawan terserang oleh gangguan kecemasan. Lansia merasakan kecemasan yang berlebihan karena lansia adalah golongan yang memiliki resiko tinggi terdampak covid-19. Disisi lain, kecemasan juga dapat dialami lansia ketika anggota keluarga atau orang terdekatnya mengalami sakit dan meninggal karena dampak covid-19. Ketika mendengar kabar tersebut, lansia akan merasa berada dalam kecemasan dan tekanan karena khawatir tertular. Terdapat faktor-faktor yang mendorong lansia memiliki rasa cemas, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi kecemasan yaitu interaksi sosial dan dukungan yang diberikan keluarga. Sedangkan faktor internal yaitu kondisi fisik, dan usia. Kecemasan dialami lansia sebab lansia merasa berada dalam kondisi yang tidak menentu, khawatir terhadap hal-hal yang belum pasti terjadi, dan khawatir karena berpikir ada suatu hal yang dapat membahayakan dirinya. Lansia sangat rentan mengalami kecemasan sebab seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun akan mengalami penurunan pada sistem tubuh secara psikologis maupun fisiologis.

Saat mengalami kecemasan lansia akan mengalami penurunan tentang apa yang mereka rasakan, mengalami penurunan konsentrasi, produktivitas menurun, dan merasa tidak berdaya, sehingga mereka tidak dapat berpikir dengan jernih. Tidak hanya itu, respon-respon yang dialami karena kecemasan juga berhubungan dengan kondisi fisik. Lansia yang mengalami kecemasan akan mengalami sakit kepala, keringat dingin, naiknya tekanan darah, dan jantung berdetak kencang. Lansia akan diselimuti rasa gelisah dan rasa takut terhadap kondisi-kondisi di lingkungannya. Sebenarnya rasa cemas yang dialami lansia pada masa pandemi covid ini tidak hanya timbul karena cemas tertular penyakit, tetapi juga cemas karena kondisi dalam tatanan kehidupan baru. Mereka takut diasingkan oleh masyarakat, takut untuk konsultasi pada layanan kesehatan, dan merasa bingung serta khawatir terhadap karantina yang diterapkan. Hal itu membuat lansia membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk beradaptasi.

Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia merupakan negara majemuk, yang mana Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal dan ini membuat masyarakat Indonesia sangat lekat dengan kearifan lokal tersebut. Salah satu kearifan lokal yang masih dipegang teguh hingga saat ini adalah spiritualitas. Seiring berjalannya waktu beberapa masyarakat mulai menyeimbangkan spiritualitas dengan teknologi. Mereka tidak semerta-merta menjalankan spiritualitas begitu saja, tetapi juga memasukkan unsur lain dalam pelaksanaan spiritual mereka yakni teknologi, infromasi, dan ilmu pengetahuan lain yang dapat membantu mengatasi permasalahan mereka. Spiritualitas sendiri memiliki pengertian yakni, merupakan keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu di luar tubuhnya, misal agama, roh halus, tradisi, dan lain-lain. Kondisi lansia yang minim akan pengetahuan dan teknologi, ditambah dengan kecemasan yang sedang mereka hadapi membuat sebagian lansia lebih memilih untuk memegang teguh spiritualitas yang sudah mereka yakini sejak lama. Spiritualitas bagi kehidupan lansia memang memiliki arti penting, yakni sebagai penenang dan sebagai sumber keyakinan atas apa yang telah terjadi, bahwa semua ini adalah kehendak Tuhan dan pasti akan ada hikmah dibaliknya, sehingga dengan adanya spiritualitas ini, lansia dapat terhindar dari depresi dan kecemasan.

Spiritualitas menimbulkan dampak positif bagi para lansia yang terkena dampak dari pandemi covid-19. Lansia yang cenderung mengalami penurunan kondisi fisik dan psikologis ini dengan mudah terserang gangguan kecemasan selama pandemi. Tetapi, dengan adanya spiritualitas, lansia masih dapat berpikir positif dan berusaha tenang meski dihadapkan dengan kondisi yang berat. Dengan memanfaatkan spirtualitas ini, seorang psikolog membuat terapi dengan memasukkan salah satu contoh bentuk spiritualitas, yakni zikir untuk mengatasi gangguan kecemasan yang dialami oleh lansia, karena zikir dianggap dapat memberikan ketenangan hati para pembacanya apalagi jika dibaca dengan khusyuk dan penuh keyakinan. Meski begitu, spiritualitas juga menimbulkan dampak negatif bagi lansia yakni, adanya beberapa lansia yang mengabaikan protokol covid-19 karena menganggap spiritualitas yang mereka jalankan sudah cukup untuk melindungi mereka dari bahaya virus corona. Tidak hanya itu, beberapa lansia yang merasakan adanya gejala covid-19 lebih memilih untuk pergi ke tokoh agama atau orang pintar yang mereka yakini dapat menyembuhkan penyakitnya melalui jalan spiritualitas dan menolak pengobatan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit. Hal ini timbul karena adanya pemikiran lansia yang menyatakan bahwa jika hanya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa meski tidak melakukan pengobatan medis, penyakit apapun dapat disembuhkan termasuk covid-19. Padahal, ini merupakan pemikiran yang salah dan dapat mengakibatkan penyebaran virus corona ini menjadi semakin luas. Seharusnya hal itu tidak terjadi jika lansia memiliki pemahaman bahwa spiritualitas juga harus diimbangi dengan pengetahuan dan keterbukaan. Misalnya, lansia menjalankan spiritualitas sebagai suatu bentuk usaha menjaga kondisi psikisnya agar tidak terserang gangguan kecemasan, dan juga lansia harus menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan guna menjaga kesehatan fisiknya agar terhindar dari virus corona. Dengan begitu jumlah lansia yang terdampak virus corona perlahan akan berkurang.

Jadi, spiritualitas memang memiliki hubungan yang sangat penting dengan terpengaruhnya kecemasan pada lansia di era pandemi covid-19. Spiritualitas bisa menjadi sebuah perisai bagi lansia agar tetap tenang sehingga tidak mengalami gangguan psikologis, salah satunya yakni gangguan kecemasan. Tidak hanya kesehatan psikis, lansia juga harus menjaga kesehatan fisik agar terhindar dari serangan virus corona dengan cara menyeimbangkan spiritualitas dengan pengetahuan dan kepedulian mengenai protokol kesehatan covid-19. Memang saat pandemi, kecemasan ini sangat wajar dialami oleh lansia, karena mereka membutuhkan waktu untuk mengerti dan memahami situai-situasi saat pandemi ini terjadi. Pada saat inilah peran keluarga atau orang terdekat sangat penting untuk mendukung kestabilan emosional lansia saat menghadapi kecemasan. Anggota keluarga seharusnya bersedia mendengar keluh kesah lansia, memiliki waktu untuk dan bertanggung jawab mendampingi lansia, serta menjaga kesehatan fisik maupun mental lansia. Terlebih lagi, pada masa pandemi covid-19.

Daftar Pustaka
Nida, F. L. K., 2014. ZIKIR SEBAGAI PSIKOTERAPI DALAM GANGGUAN KECEMASAN BAGI LANSIA. Prodi Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Kudus, 5(1), p. 18.
Nurhidayah, S. & Agustini, R., 2012. KEBAHAGIAAN LANSIA DI TINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL DAN SPIRITUALITAS. SOUL : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 5(2), p. 18.
Permana, B. G., 2021. Spiritualitas Adalah Aspek Penting dalam Kehidupan, Apa Pengaruhnya untuk Kesehatan?. SehatQ, 30 March.
Sholeha, W. F. N., 2021. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Lansia Pada Masa Pandemi Covid-19 di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW) Jember. REPOSITORY UM JEMBER, 15 09.
Yuliana, 2020. CORONA VIRUS DISEASES (COVID-19): SEBUAH TINJAUAN LITERATUR. WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE, Volume 2, p. 6.
Guslinda, G., Fridalni, N. and Minropa, A. (2020) ‘Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Lansia pada Masa Pandemi Covid 19’, Jurnal Keperawatan, 12(4), pp. 1079–1088.
Minannisa, C. (2021) ‘KONDISI STRESS LANSIA DIMASA PANDEMI COVID-19 dan PENCEGAHANNYA’.
Putri, D. A. (2021) ‘GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN LANSIA TERKAIT PANDEMI COVID-19 DI WILAYAH POSYANDU LANSIA KAWATUNA’.
Tobing, C. and Wulandari, I. S. M. (2021) ‘Tingkat Kecemasan bagi Lansia yang Memiliki Penyakit Penyerta Ditengah Situasi Pandemik Covid-19 di Kecamatan Parongpong, Bandung Barat’, Community of Publishing In Nursing (COPING), 9(2), pp. 135–142.
Viranata, W., Yuniarti, T. and Safitri, D. W. (2021) ‘PENGARUH PANDEMI COVID-19 TERHADAP TINGKAT STRESS PADA LANSIA (Studi Kasus Desa Manang)’, in Seminar Informasi Kesehatan Nasional (SIKesNas), pp. 329–334.
7