Berita

Tak henti berikhtiar untuk menjadi bagian dari kemuliaan UIN Sunan Ampel Surabaya, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM), Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag., pada Selasa, 19 Maret 2024 berkunjung ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sidoarjo. Ditemui langsung oleh Kepala Dinas, Drs. Mulyawan, S.I.P., M.M. di kantornya, Dekan menyampaikan kehendak baik dari lembaganya untuk menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Diutarakan bahwa FAHUM UIN Sunan Ampel Surabaya bermaksud untuk turut terlibat aktif dalam pembangunan masyarakat dan desa di Kabupaten Sidoarjo melalui bidang profesional yang ditekuni. Diyakini bahwa banyak hal yang sebenarnya bisa dikembangkan dan dikerjasamakan antara kedua pihak.

Kepala Dinas sendiri mengemukakan bahwa pintu kerjasama antara pemerintah kabupaten dan perguruan tinggi sangatlah terbuka. Termasuk dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan desa yang berada di bawah kewenangan beliau. Dinas PMD disebutkan siap menyambut inisiasi program kerjasama dari FAHUM UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebagai dinas yang bertugas membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten di bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta tugas pembantuan, kerjasama yang berpotensi menguatkan dan memberdayaan masyarakat dan desa tentu dibutuhkan.

Dalam kesempatan yang berlangsung sangat hangat dan penuh keramahan tersebut, beberapa tawaran program kerjasama untuk masyarakat dan desa telah disampaikan oleh Dekan kepada Kepala Dinas. Di antaranya terkait penulisan sejarah desa di Kabupaten Sidoarjo. Proposal ini diyakini dapat membantu desa-desa di Kabupaten Sidoarjo memelihara catatan sejarah serta identitas budaya dan peradaban masyarakatnya. Tentu sangat tidak dikehendaki bahwa ada desa di Kabupaten Sidoarjo yang terkenal dengan masyarakat santrinya itu kehilangan atau terputus dari sejarahnya. Menjadi desa yang ‘tak bernasab’ (munqati’ nasabuha). Belajar dari pengalaman Kabupaten Sidoarjo yang pernah menyaksikan sendiri bagaimana beberapa desa seolah hilang karena bencana semburan lumpur di tahun 2006, maka penulisan sejarah desa tidak hanya penting, tetapi memang mendesak dilakukan. Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk menindaklanjutinya secara lebih kongkrit.