Berita

Oleh: Dr. Nasaruddin Idris Jauhar

Kabar duka mengheningkan pagi saya Jum’at hari ini. Guru saya Ustadz Drs.H.Muntaha, M.Ag. berpulang ke rahmatullah. Walaupun memang beberapa hari ini beliau di rumah sakit, tapi tetap saja kabar perpulangnya beliau membuat saya tertegun.

Setelah sejenak tertegun dan berdoa, ingatan saya melayang ke belakang, ke hari Jum’at seperti ini beberapa pekan lalu, ketika beliau berkhotbah di masjid Ulul Albab kampus satu UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya beruntung hari itu ada acara di P2B sehingga bisa salat jum’at di sana dan menyimak khutbah beliau.

Seperti yang kadang-kadang saya lakukan, saat itu saya berniat menulis intisari khutbah beliau untuk saya bagikan di grup-grup WA. Poin-poin yang beliau sampaikan benar-benar saya simak dan coba saya runtunkan dalam pikiran. Tapi karena padatnya acara hari itu, saya benar-benar tak sempat menuliskan kembali khutbah beliau.

Kini, setelah berselang beberapa pekan, hanya sedikit dari isi khotbah beliau yang masih saya ingat. Dan dari yang sedikit itu adalah nasihat beliau yang intinya bahwa kita harus mengambil sikap yang tepat dan bijak soal hidup dan kematian. Kita harus paham hakikat kematian dan bagaimana menyikapinya saat kita mumpung masih hidup.

Kita, kata beliau, tdk tahu dan tidak pernah diberintahu kapan ajal kita datang. Maka yang terbaik dan terbijak adalah memaksimalkan sisa usia kita untuk beramal saleh. Kita gunakan apa saja yang kita miliki untuk bersama saleh. Harta, ilmu, jabatan dan apa pun yang ada pada kita adalah sarana yang bisa kita gunakan untuk beramal saleh.

Dalam beramal saleh pun kita harus punya pandangan yang benar. Bahwa amal salah itu sesungguhnya buat diri kita sendiri. Allah tidak butuh amal saleh kita. Sesaleh-salehnya kita, tak akan menambah keagungan dan kemuliaan Allah. Pun sebaliknya, sefasik apa pun kita, tak akan sedikit pun mengurangi keagungan dan kemulian Allah. Kitalah yang membutuhkan amal saleh itu, demi keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri di akhirat kelak. Oleh karena itu, sudah semestinyalah kita beramal saleh secara maksimal senyampang diberi hidup oleh Allah.

Masih banyak nasihat berharga lain yang beliau sampaikan saat itu. Tapi itulah yang terisisa dalam ingatan saya. Saya menyesal tidak merekamnya dengan utuh. Mungkin karena bawah sadar saya saat itu merasa kapan-kapan saya bisa bertanya kepada beliau kalau ketemu di kampus. Qadarullah, ternyata itu khutbatul wada’ beliau, khotbah terakhir beliau. Beliau masih mengisi ceramah setelah hari itu, tapi sebelum Jum’at berikutnya, di mana beliau biasanya jadi khotib, beliau jatuh sakit.

Selain khutbah dan ceramah-ceramahnya yang berbobot dan inspiratif, banyak pelajaran berharga yang patut dicontoh pada diri beliau. Salah satunya adalah kebiasaan membaca Al-Qur’an. Saya tahu betul beliau begitu istikomah dalam hal satu ini. Tiap hari selalu beliau awali dengan membaca setidaknya dua juz Al-Qur’an. Di teras rumahnya, tiap pagi rutinitas luhur ini selalu beliau jaga. Usai membaca 2 juz, biasanya beliau menyapa burung perkutut piaraan dan kesayangan beliau yang digantung berjejer di plafon teras rumah beliau. Sebuah rutinitas yang begitu mengasyikkan. Usai ayat-ayat qur’aniyah lanjut ayat-ayat kauniyah, begitulah kira-kira.

Beliau juga sangat kagum dengan siapa saja yang istikamah membaca Al-Qur’an. Saya masih ingat, pada suatu kesempatan kultum usai salat Dzuhur di masjid Ulul Albab kampus UINSA, beliau dengan penuh kekaguman bercerita tentang seorang mahasiswinya di Fakultas Adab yang setiap harinya konsisten membaca tiga juz Al-Qur’an. Sebagai orang yang mengamalkannya, beliau tahu betul bahwa mengaji 3 juz sehari secara konsisten itu tidak mudah.

Memulai hari dengan membaca Al-Qur’an sangat beliau jaga. Maka beliau sering berusaha ekstra keras kalau ada aktifitas lain yang berbarengan dengan aktifitas paginya itu. Ketika menjabat Wakil Dekan di Fakultas Adab saat itu, beliau bilang ke saya, “Sejak menjabat, ngaji dua juz tiap pagi itu jadi sangat berat.” Beliau tidak bilang tidak lagi membaca dua juz, beliau hanya bilang itu berat. Artinya, beliau tetap menjaga kebiasaan memulai pagi dengan 2 juz itu saat harus ngantor pagi sebagai pejabat, walaupun untuk itu beliau harus berusaha keras.

Teladan lain dalam diri beliau adalah ketawadu’an dan kesantunan. Dua hal ini sangat kental terasa selama saya sebagai mahasiswanya berinteraksi dengan beliau. Saat pertama kali berkunjung ke rumah beliau, saya kesulitan menemukan alamat beliau. Dari jalan masuk ke perumahan Graha Sunan Ampel, saya mengontak beliau untuk menanyakan arah. Mestinya, beliau cukup mengirim shareloc lewat pesan WA untuk saya ikuti. Tapi beliau justru menyuruh saya tetap di tempat, kemudian beliau datang menjemput dengan sepeda motor dengan pakaian sarung dan kopiah.

Soal kesantunan beliau, jangan tanya. Saya sampai merasa kikuk dan gak enak kalau bertukar pesan dengan beliau. Beliau selalu menyebut diri dengan kata “Dalem” dan menyapa saya yang mahasiswanya ini dengan kata “Jenengan”. Saya bukan orang Jawa, tapi saya tahu pribadi seperti apa yang menggunakan dua kata ini dalam berkomunikasi, dan hubungan seperti apa yang dibangunnya dengan orang lain.

Selamat jalan, Ustadz. Jenengan adalah guru yang telah mengajarkan kebaikan. Baik di dalam maupun di luar ruang kuliah. Selain kami, ikan di dasar laut dan semut dalam kegelapan bumi pun berdoa untuk Jenengan. Semoga tiap percikan ilmu yang kami dapat terus mengalirkan pahala untuk Jenengan sampai hari kebangkitan. Aamiin.