Indonesia Indicator berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel Surabaya menyelenggarakan kuliah umum (public lecture) bertajuk “Big Data dan Artificisial Intelligence (AI) dalam Riset dan Pengambilan Keputusan” Selasa, (30/05/2023) pukul 09.00 WIB di Amphitheater lantai 9 Kampus UIN Sunan Ampel Gunung Anyar.

Kuliah umum dalam segmen Think Talks tersebut dibawakan langsung oleh Fanny Chaniago, S.Sos, M.Si, selaku Head of Branding and Innovation Indonesia Indicator yang sekaligus Brainery Executive Advisor I2 Academy.

Fanny Chaniago, menjelasan terkait istilah  “data” dan “big data” yang menjadi salah satu kata kunci penting dalam kuliah umum ini. Menurutnya dalam konteks dunia komputasi, data dimaknai sebagai informasi yang telah diterjemahkan ke dalam bentuk yang efisien untuk dipindahkan, ditransmisikan, atau diproses. Sedangkan big data berarti sekumpulan data yang memiliki volume atau ukuran sangat besar. Big data terdiri dari data terstruktur (structured), semi-terstruktur (semi-structured), dan tidak terstruktur (unstructured) serta dapat terus berkembang. Data di era digital dewasa ini seluruhnya telah diubah ke dalam bentuk angka-angka digital biner. Setiap detik masyarakat dalam ruang digital senantiasa memproduksi dan mentransmisikan data.

Tidak berhenti di situ, Fanny Chaniago menjelaskan mengenai Artificial Intelligence atau yang disingkat AI. AI adalah suatu perangkat komputer atau mesin sejenis yang mampu melakukan aktivitas berpikir, belajar, dan bertindak seperti simulasi kecerdasan manusia. AI yang dikolaborasikan dengan big data dapat membantu pekerjaan manusia dalam membaca pola, meringkas, menyusun, serta menarik kesimpulan dari big data (dalam konteks ini adalah unstructured data seperti customer/ member transaction, chat, email, note and text field, online community, social media, et al). Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia Indicator mengembangkan sistem pemantauan media (intelijen) yang berasal dari seluruh pemberitaan media cetak maupun daring. Nantinya teknologi AI berupa robot diberdayakan untuk membaca, memetakan, mengolah, dan menyusun kumpulan data media secara otomatis hingga menghasilkan suatu analisis baru sesuai kebutuhan dan bersifat real-time. Sampai saat ini sistem intelijen media milik I2 telah mengumpulkan data dari pemberitaan 9000+ media daring (nasional, lokal, dan internasional dari 132 negara), 300 media cetak (nasional, lokal dari 10 provinsi), 20 media televisi nasional, serta media sosial meliputi Facebook, YouTube, Twitter, Instagram, dan Tiktok.

Dalam sesi pemaparan selanjutnya, Fanny Chaniago menjelaskan keterkaitan big data dengan perumusan kebijakan. Dikatakan, policy cycle atau alur pembuatan kebijakan meliputi lima tahapan yaitu 1) Identifikasi (agenda setting) masalah yang ada di dalam masyarakat, 2) Memformulasikan kebijakan (policy formulation), meliputi proses survei lapangan, menyerap aspirasi, hingga penelaahan studi pustaka maupun naskah akademik, 3) Pembuatan kebijakan (decision-making), terutama di tingkat pemerintahan dan parlemen, 4) Implementasi kebijakan (policy impelementation) di lapangan oleh pihak pemerintah, swasta, atau lembaga terkait, serta 5) Evaluasi (policy evaluation) yang dilakukan untuk menentukan efektivitas dari implementasi kebijakan dan memutuskan tindakan yang akan dilakukan oleh Pemerintah. Peran big data menjadi sangat penting dalam pengambilan kuputusan pada hampir semua tahapan kebijakan yang dibuat Pemerintah. Sambil lalu menampilkan contoh analisis berita di media seperti kasus hoaks vaksin covid-19, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, gempa bumi dll  yang telah dilakukan oleh pihak I2 sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan., seperti kasus hoaks vaksin covid-19, kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, gempa bumi, et al.

Selain itu, Fanny Chaniago juga menjelaskan terkait peran riset yang menggunakan big data dalam perumusan kebijakan, di antaranya yaitu: 1) Peran interaktif, yaitu peneliti dan hasil penelitian menjadi bagian dari pemerintah untuk menjaring isu secara proaktif, 2) Peran politik di mana penelitian berfungsi sebagai landasan argumentasi untuk mendukung perspektif pemerintahan dan menegaskan kebijakan yang telah ada sebelumnya, 3) Peran taktis di mana penelitian digunakan sebagai instrumen bantahan terhadap rencana kebijakan yang biasanya dilakukan dalam proses pembuatan kebijakan berupa dialektika antara pihak legislatif dan eksekutif, serta 4) Peran untuk memberikan masukan di mana penelitian digunakan untuk membentuk dan mendefinsikan kembali agenda kebijakan.

Keberadaan AI seringkali dikhawatirkan dapat menggantikan posisi manusia dalam pembuatan kebijakan. Namun sejatinya masyarakat tidak perlu terlalu khawatir sebab AI hanya dapat melakukan analisis data maupun informasi secara cepat dan akurat di tingkat deskriptif, diagnostik, preskriptif, serta memiliki andil sangat kecil dalam memberikan keputusan. Sementara aspek knowledge dan wisdom sebagai virtue hanya dimiliki oleh manusia sebagai bekal merumuskan kebijakan yang tepat di lingkup daerah, nasional, maupun internasional. Sehingga secerdas apa pun teknologi AI, manusia tetap membutuhkan kecerdasannya dalam konteks yang lebih filosofis. “Mau bagaimana pun perubahan di luar sana, milikilah wisdom,” ucap mbak Fanny di tengah sesi tanya-jawab dengan para audiens.

(irena)