Berita

UINSA Surabaya_ Hasil riset Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (FISIP UINSA) kerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KEMENDES PDTT) secara resmi dibedah dalam forum seminar hasil kajian penelitian bertajuk “Koeksistensi dan pergeseran identitas masyarakat atas dinamika perubahan sosial pasca pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di Banda Neira Maluku Tengah” Sabtu-Minggu 12-13 November 2023.

Seminar ini dihadiri Prof. Burhan Bungin, M.Si., Ph.D. Ketua Umum Indonesia Qualitative Researcher Association (IQRA), yang sekaligus Ketua Certified Indonesian Social  Sciences Researcher Association (CISSRA), Prof. Dr. H. Abd Chalik M.Ag, Dekan Fisip Uinsa, dan  Dr. Atmari Staf Khusus KEMENDES PDTT.

Prof. Burhan Bungin, M.Si., Ph.D mengulas tentang Banda Neira yang disebut sebagai salah satu surga dunia di Indonesia. Menurutnya, Neira jauh sebelum kolonialisme Belanda di Batavia Indonesia telah terjadi kolonialisme bangsa Spanyol, Portugis dan Ingris di Banda Neira. Sebelum akhirnya di tahun 1609 Banda Neira ditaklukkan oleh Tentara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Banda saat itu dikenal dengan pulau penghasil rempah Pala. “dulu bangsa Eropa datang semua pak ke Banda, mulai dari Spanyol, Portugis, Ingris dan Belanda” Jelas Burhan Bungin.

Selain itu, Burhan Bungin, menyebut Banda Neira sudah menjadi kota kosmopolitan pertama di Indonesia bahkan di dunia. Banda Neira menjadi tempat bertemunya bangsa-bangsa Eropa dan para pedagang rempah di Asia serta seluruh dunia. Dia menyebut Banda Neira menjadi tempat genosida pertama yang dilakukan kolonialisme Belanda terhadap orang Indonesia yaitu terhadap 40 OK atau yang dikenal dengan sebutan Orang Kaya di Banda. Pembunuhan ini disebut sebagai salah satu cara VOC Belanda melakukan monopoli dan ekploitasi rempah pohon Pala yang pada waktu menjadi komuditas rempah mahal di Eropa. Menurutnya rempah Pala di Banda sebelum penjajahan dikuasai oleh para OK.

Sebelum Burhan Bungin, peneliti Fisip Uinsa, Zaky Ismail bercerita tentang identitas sosial masyarakat Banda yang multi etnik. Menurutnya, orang Banda Neira ditemukan berlatar belakanga etnik dan kesukuan yang berbeda-beda mulai dari Belanda, Buton, Portugis dan China tinggal di Banda. Tetapi identitas yang melekat bagi warga adalah identitas “kebandaan” atau mereka menyebut “beta orang Banda”. Selain itu, Zaky Ismail juga menyinggung tentang etoritas Banda yang disebut sebagai keinginan masyarakat Banda Neira untuk mengatur dan mengelola Banda Neira secara mandiri. “dikelola dengan menjadikan Banda sebagai desa adat” Jelasnya

Sementara Dr. Atmari, bercerita sejumlah daerah yang juga menginginkan menjadi desa adat, hanya saja, kewenangan mengenai desa adat selalu tergantung kepada daerah dan kementrian yang membidangi. Selain itu, Atmari banyak bercerita tentang bagaimana proses kerjasama Fisip Uinsa dengan Kemendes PDTT yang dilakukan di tahun 2022. Sehingga Kemendes PDTT kembali memilih Fisip Uinsa menjadi mitra kerjasama penelitian di tahun 2023.

Sementara Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag mengupas tentang bagaimana budaya, adat dan agama berinteraksi sebelum dan sesudah konsep sustainable tourism. Prof. Dr. H. Abd Chalik, M.Ag menyebut tiga teori yang bisa menjelaskan yaitu teori dependensi, independensi dan teori integrasi. Teori integrasi berusaha melihat budaya, adat dan agama menjadi tiga bagian tak terpisahkan yang saling melengkapi. Menurutnya penelitian ini juga bisa berangkat dari perubahan sosial evolusi dan perubahan sosial lainnya yang lebih cepat.

Dalam seminar ini, Prof. Burhan Bungin juga menceritakan perkembangan metodologi yang telah sampai pada cyberfenomenologi sebagai varian dari netnografi di era post crical. Dia menyebut perkembangan penelitian sudah sampai ke era metodologi 5.0 yaitu metode pots critcal sehingga sebaiknya penelitian mengikuti perkembangan metodelogi.

Sekedar untuk disampaikan, seminar kajian hasil penelitian ini merupakan rangkaian proses kerjasama penelitian yang diselenggarakan FISIP UINSA dengan KEMENDES PDTT yang dilakukan di Banda Neira dari bulan Oktober-November 2023.