Berita

Jam 15.49 saya mendapat kabar bila Prof. Khozin tiada. Tentu sebagai muridnya, saya kaget. Saya belum sempat bersalaman dan mencium tangannya, sebagaimana kebiasaan saya ketika bersua dengannya di FUF.

Saya kenal beliau sejak menjadi mahasiswa di Pascasarjana dengan mengajar MK. Filsafat Barat tahun 1997. Wawasannya sangat luas, dan hampir tradisi filsafat klasik, pertengahan, moderen dan kontemporer dikuasainya. Saat mengajar dan berdiskusi dengan topik kesayangannya, beliau sangat sulit dihentikan. Soal topik fiksafat ibarat ensiklopedi. Menguasai informasi dasar, sejarah, hingga bagaimana filsafat menjadi fondasi keilmuan dalam kajian Islam. Matang!

Melalui beliau, saya dikenalkan dengan dengan pemikiran tokoh2 filsafat seperti Heidegger, Gadamer, Warnke, Ricouer, hingga Habermas. Saya juga diminta menfoto copi beberapa buku legend yang memandu belajar lebih dalam tentang Hermeneutika seperti karya Josef Bleicer, Richard Palmers, dan Thomas B Johnson. Buku-buku itu masih tersusun rapi di rak lemariku.

Sebagai murid, saya sangat dekat dengan beliau. Dulu saat jadi Dekan, beliau tinggal di rumah dinas. Di rumah itulah saya sowan dan ngopi bersama. Ngopi sambil menghisap rokok kesukaannya, “SARI TOGA’. Bila tidak tersedia, beliau bergeser ke Jie Sam Soe. Buku wajib yang beliau selalu diskusikan adalah ‘Ideology and Modern Culture’, karya John B. Thompson. Buku setebal 415 halaman itu menjadi bahan diskusi berjam-jam. Selain buku Thompson, juga buku karya Josef Bleicher, “Contemporary Hermeneutics;As Method, Philosophy and Theory”. Buku yang pertama beliau sempat terjemahkan, namun saya tidak tahu nasibnya sampai sekarang. Selain saya, ada pula Ahmad Zainul Hamdi, Fawaizul Umam dan Soeprapto, teman diskusi dan sekaligus mahasiswa S2.

Saya bahkan pernah diminta untuk mengeditori buku terjemahan beliau tahun 2000 yang diterbitkan pertama kali oleh Visi Humanika, bersama Pak Loekisno CW. Itulah terbitan pertama Visi Humanika yang beliau rintis bersama teman-teman dosen FUF.

Sejak pertama kali Hermeneutika diajarkan di FUF tahun 2002, saya diminta beliau untuk mengampunya. Meskipun, MK tersebut mendapat kritikan dari dosen senior, namun Prof Khozin tetap konsisten bahwa Hermeneutika sangat penting bagi mahaiswa. Saya pun menulis buku ajar, di mana beliau memberikan pengantar. Di pengantar buku tersebut, saya jelaskan tentang genealogi intelektual beliau, serta kematangan berfikir di bidang filsafat yang sulit tandingannya.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang humble, sederhana dan ramah. Keilmuan di bidang filsafat sangat matang, terutama tentang sejarah dan teori filsafat. Pernah menjadi Dekan FUF dua periode dan Asdir di Pascasarjana.

Kini beliau sudah tiada. UINSA dan FUF kehilangan intelektual organik, filusuf, dan ahli Hermeneutika terkemuka. Saat pengukuhan Guru Besar, beliau menyanpaikan orasi dengan judul “Abata Hermeneutika”. Hal tersebut ingin menandaskan bahwa ia adalah pemikir dan filusuf pada bidang tersebut. Tidak mudah mencari penggantinya yang sepadan.

Sebagai murid saya hanya berdoa, semoga guru saya, dan guru kami, Prof Khozin beristirahat dengan tenang di sisiNya, dan masuk dalam surga Allah, amin2 YRA. (Abdul Chalik, Dekan FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya)