Berita

Pihak International Office (IO) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya baru saja membuka pendaftaran program Student Outbond Mobility, Academic Visit to International Islamic University Malaysia. Pendaftaran program tersebut dibuka pada awal pekan ke-4 bulan November (21/11). Dan pengumuman final peserta yang lolos terpilih dilakukan pada hari Selasa pekan ke-5 bulan November (29/11).

Dari banyaknya mahasiswa yang mendaftar, terdapat salah satu mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) yang lolos terpilih. Namanya adalah Naufal Mu’ammar, dia merupakan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Arab (BSA).

Setelah mengetahui dirinya lolos seleksi final, Naufal hampir tidak menyangka. Sebab sedari awal mahasiswa BSA ini mengira tidak akan diterima. “Dari awal mikir paling tidak diterima, apalagi ketika akan submit berkas dilakukan 3 menit menjelang waktu pendaftaran ditutup. Jadi sama sekali tidak expect bisa lolos.” Pungkasnya menjelaskan.

Naufal juga menambahkan jika dia malah mengetahui info lolos seleksi dari temannya. ” (Saya) diberitau teman, selamat ya lolos. Awalnya tidak percaya kalau lolos, karena memang tidak melakukan persiapan sama sekali. Dan setelah saya melakukan pengecekan di Instagram (IG) ternyata lolos nomor 3.” Imbuhnya.

Seperti yang sudah tertera di pamflet program Student Outbond Mobility 2022 yang diunggah di akun IG resmi IO UINSA. Program ini akan memberi kesempatan para mahasiswa yang lolos seleksi final untuk melakukan kunjungan akademik ke International Islamic University Malaysia, selain Naufal terdapat 11 mahasiswa dari beberapa fakultas lain yang ikut terpilih.

International Islamic University Malaysia (IIUM) sendiri merupakan kampus yang gencar melakukan kerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia. Kampus ini didirikan tahun 1983 oleh Kerajaan Malaysia, dan pada permulaannya disponsori oleh delapan pemerintah negara yang tergabung di Organisasi Konferensi Islam. Letak kampus IIUM ada di Gombak, Selangor, Malaysia.

Saat ditanya perihal IIUM, Naufal berkata jika tidak asing dengan kampus tersebut. Sebab secara tidak langsung, dia lebih dulu mengenal beberapa mahasiswa dari IIUM. “Saya dan beberapa rekan semester 5 & 7 pernah mengikuti lomba debat bahasa Arab se-Asia, yang diadakan oleh Universiti Sultan Sharif Ali di Brunei Darussalam, waktu itu kita ada di babak 8 besar dan bertemu perwakilan mahasiswa IIUM. Sayangnya, waktu itu kami kalah melawan mereka, dan mereka lolos sampai 3 besar. Setelah lomba selesai, kami melakukan kontak (komunikasi) di grub, sekaligus tanya-tanya seputar Malaysia, soal latihan mereka, dan beberapa hal lainnya tentang IIUM.” Jelasnya.

Pada akhir sesi wawancara Naufal berkata jika setelah mengikuti program yang dicanangkan oleh IO UINSA ini, dia ingin menjadi mahasiswa yang lebih baik dari sebelumnya. Dia juga berharap bisa mengambil banyak pelajaran dari program kunjungan akademik ke IIUM, agar kedepannya juga bisa diterapkan di UINSA, baik itu di bidang akademik, literasi, keilmuan dan semacamnya. (SAH/MHA)