Berita
FUF Mendatangkan Dosen Senior dari National University of Singapore untuk Kuliah Tamu

Demi meningkatkan kerjasama international, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan kegiatan visiting professor dengan mengundang Azhar Ibrahim, P.hD , dosen senior dalam bidang malay studies dari National University of Singapore. Kegiatan ini adalah upaya untuk FUF  terlibat dalam gelanggang akademik global. Kegiatan visiting professor ini bertajuk Islamic Traditions of The Malay World: Competing Trends, yang terlaksana pada Senin 14 November 2022. Sejumlah 312 mahasiswa dari FUF turut hadir dalam kegiatan ini.

Acara visiting professor mendapat perhatian besar dari para mahasiswa karena dua hal: Pertama, pada tema kegiatan. Tema yang diangkat dalam visiting professor ini merupakan tema menarik karena akan mendiskusikan tradisi Islam di dunia Melayu. Kedua, pada narasumber. Azhar Ibrahim merupakan sosok akademisi yang diakui kepakarannya dalam bidang studi Melayu, terutama terkait dengan sejarah perkembangan literatur Islam.

Dalam sambutannya, Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, mengatakan bahwa acara ini merupakan bentuk usaha fakultas untuk membangun kerjasama secara international dengan universitas-universitas terbaik di dunia. Disamping itu, kerjasama ini berfungsi sebagai bentuk interaksi akademik lintas negara.

Saat diskusi sedang berlangsung, Dr Azhar Ibrahim memperkenalkan tema competing trends of malay worlds kepada mahasiswa. Materi ini memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai tiga corak produksi literatur keislaman yang berkembang di dunia Melayu. Ada tiga kelompok yang di perkenalkannya, yaitu: kelompok feudalis, sufi, dan humanis. Kelompok feudalis adalah kelompok yang mengajarkan Islam ke masyarakat untuk kepentingan kekuasaan. Di kelompok ini, Islam diperkenalkan seiring dengan kepentingan kelompok feudal, seperti teks-teks yang lahir dari keraton dan istana. Gaya kepemimpinan otoriter merupakan orientasi terbesar dalam kelompok ini. Oleh karenanya, ia menyebut kelompok mereka sebagai “orang  setiawan”.

Kelompok yang kedua adalah kelompok sufi. Kelompok sufi adalah kelompok yang cenderung mengabaikan hawa nafsu. Dunia bukan merupakan fokus orientasi kelompok ini. Sehingga sebagian besar penganut kelompok ini akan menjauhkan diri mereka dari segala hiruk pikuk problem manusia. Kelompok ini suka memperkenalkan diri mereka sebagai “orang kamil”.

Kelompok yang ketiga adalah kelompok humanis. Kelompok humanis adalah kelompok yang mengajarkan Islam di Indonesia, misalnya, sebagai Islam yang humanis. Islam yang menghormati kehidupan manusia serta menekankan keadilan sosial di masyarakat. Kelompok ini memperkenalkan untuk berIslam secara logis dan masuk akal. Menurut kelompok ini, pemimpin non-muslim yang adil lebih baik dari pada pemimpin muslim yang otoriter. Kelompok ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kelompok Islam feudal. Azhar menunjuk kitab Taj Us-Salatin sebagai contoh dari kelompok ini. Penulis kitab ini secara samar mengkritik kekuasaan. Kelompok ini suka memperkenalkan diri mereka sebagai “orang budiman”

Dalam pernyataan singkat sebagai refleksi kegiatan ini, dosen NUS ini menjelaskan, bahwa sangat penting bagi umat Islam di Asia Tenggara untuk mengembangkan teologi budaya sebagai bagian dari wacana intelektual dan keagamaan mereka, menyuburkannya dengan gagasan dialogis, kekritisan dan rekonstruksi. Minat terhadap budaya menjadi penting di mana para mahasiswa yang belajar agama dapat terlibat, dengan memberikan perspektif keagamaan yang kritis, pada domain yang mempengaruhi kehidupan dan kemanusiaan mereka secara keseluruhan. Respons budaya dan intelektual kita terhadap kesulitan zaman kita sangat dibutuhkan, terutama ketika respons politik selalu dilanda lebih banyak masalah dan kebingungan. Upaya untuk menyajikan pendekatan alternatif harus dikenali dan tersedia. Di sinilah letak pentingnya sebuah teologi kebudayaan.

Mahasiswa sebagai peserta dalam acara visiting lecturer ini sangat menikmati materi diskusi yang disampaikan oleh Dr Azhar Ibrahim. Selain karena disampaikan dengan dua bahasa, bahasa Ingrris dan Bahasa Indonesia, materi yang disampaikan sangat membumi dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. Rafly, mahasiswa semester 5 FUF, berkomentar bahwa “acara ini telah membuka wawasan saya tentang bentuk-bentuk keislaman yang ternyata tidak tunggal dan selalu berkaitan dengan politik kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Saya berharap acara-acara ini bisa lebih sering dilaksanakan, karena acara ini bisa membantu saya untuk mengembangkan jaringan hubungan saya dengan banyak orang di berbagai belahan dunia”(Nikmal/Wildah/Fikri)