Column UINSA

YA CHOLIL, YA DHUYUF AL-RAHMAN*

*Ahmad Inung
(Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Guru Besar UINSA Surabaya yang saat ini menjabat Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI)

Video itu hanya berdurasi beberapa detik. Tampak di dalamnya wajah Gus Menteri, Yaqut Cholil Qoumas, berpakaian petugas haji. Wajahnya tampak gusar. Kekesalannya tak bisa ditutupi. Beberapa detik kemudian, suara baritonnya keluar, “Gak usah bicara kompensasi dengan kami. Kita gak butuh kompensasi.”

Itu adalah gelegar Guntur. Tuntutan yang keluar dari bibir dari seorang yang hatinya dipenuhi kemarahan adalah guruh yang muncul di langit kelam. Tak ada yang bisa diharapkan selain tumpahnya hujan yang akan menjadi banjir. Tahukah kalian kekuatan air yang telah menjadi banjir? Tembok sekokoh apa yang bisa menahannya?

Sebuah tuntutan yang tidak lagi mau menerima kompensasi adalah sebuah kemutlakan. Tak ada tawar menawar. Semua harus dipenuhi. Tidak ada alasan pengurangan. Tidak juga alasan penundaan. Semua harus menepati janji. “Bukan nanti! Sekarang!” Begitulah gelegarnya.

Tampak semua wajah meriut. Suara-suara tercekat di tenggorokan, harus dikeluarkan ataukah ditelan kembali?

  • Itu adalah short video yang saat ini sedang viral tentang kemarahan Gus Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, kepada penyedia layanan jamaah haji Indonesia. Mungkin banyak yang tidak tahu, apa yang terjadi di balik kemarahan itu.

Mungkin banyak dari Anda membatin, bukankah itu merendahkan marwah seorang menteri? Mengapa dia tidak menjaga citranya sebagai menteri sehingga menumpahkan kemarahannya di depan orang-orang yang “gak level” dengannya?

Dalam berbagai kesempatan, Gus Men menasihati kami, “Jangan letakkan martabat di atas jabatan”. Baginya, martabat seseorang sama sekali tidak ditentukan dari jabatannya. Dengan jabatan, mungkin seseorang akan dihormati, bahkan kakinya dijilati oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi apakah dengan sendirinya dia manusia terhormat? Belum tentu. Kehormatan seseorang ditentukan dari tindakannya, bukan jabatannya. Jabatan seseorang akan menjadi kehormatan bagi orang tersebut jika dia menjalankan fungsi jabatannya dengan profesional dan amanah.

Dalam menyiapkan haji tahun ini, Gus Menteri berkali-kali langsung terbang ke Arab Saudi. Bukannya dia tidak percaya dengan para pejabat bawahannya yang mengurusi bidang ini. Besarnya harapan untuk memastikan bahwa penyelenggaraan haji berjalan baik, para dhuyuf al-rahman (tamu Allah) terlayani dengan memuaskan, membuatnya tidak bisa melepaskan begitu saja persiapan haji. Dia mengerahkan hampir seluruh sumber daya yang dimiliki untuk memastikan seluruh pelaksanaan haji tahun ini berjalan baik.

Ketika dia langsung turun ke lapangan memimpin anak buahnya melakukan persiapan haji, dia tahu secara langsung bahwa haji tidak semata-mata ibadah. Bagi para dhuyuf al-rahman, haji adalah sebuah panggilan Allah. Berangkat haji adalah ibadah kesempurnaan. Nilainya tak bisa dinyatakan dengan kata-kata. Tapi bagi para pelaku bisnis, pelaksanaan haji bisa jadi hanya urusan keuntungan ekonomi.

Menghadapi hal seperti ini bukan perkara mudah. Itulah yang membuat Gus Men sejak awal langsung mendampingi anak buahnya. Dalam melakukan ini, dia langsung menghadapi berbagai tekanan, paksaan, dan alotnya negosiasi.

Ketika menjadi petugas haji, saya masih ingat pesan yang terus-menerus disampaikan. “Jamaah haji yang ada di Tanah Suci ini anggaplah mereka ibu kita, bapak kita, saudara kita, adik kita, kakak kita, sehingga secara total kita bisa memberikan pelayanan kepada mereka dengan baik.” Kepada para petugas haji, sejak awal dia menegaskan bahwa dia tidak akan ragu memulangkan petugas yang tidak bisa bekerja baik dalam melayani para tamu Allah.

Apakah hasilnya sempurnya? Tidak. Tidak akan ada hasil sempurna sekuat apapun kita telah bekerja. Tapi hidup ini pilihan. Di depan kita selalu tersedia tiga pilihan. Pertama, menyepi di gua, tinggalkan segala urusan. Jika ini yang kita pilih, tangan kita tetap bersih. Bahkan mungkin tak ada sebutir debu pun yang mengotori kita. Apapun yang terjadi, tak akan ada orang yang menilai kita.

Kedua, menjadi penonton di pinggir gelanggang. Membiarkan orang lain mengambil tanggung jawab dalam permainan. Kalau kita memilih peran ini, kita bebas bersorak sorai, memuji, bahkan mengolok. Apapun kata penonton, penonton “tak pernah salah”. Tapi kita hanyalah penonton, bukan pemain yang menentukan permainan.

Ketiga, memanggul mandat dan mengambil peran. Jika kita memilih sebagai pemanggul mandat dan pengambil peran, maka mari lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Tidak perlu berharap pujian. Yang melihat kita tak selamanya berharap kita berhasil. Di luar sana, selalu ada orang-orang yang menunggu kesalahan kita. Mereka melihat kita bukan untuk memberi dukungan, tapi mencari waktu untuk mengolok, mencela, dan memaki.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat datang kembali ke tanah air, wahai dhuyuf al-rahman (Tamu Allah). Kalian telah menyempurnakan Islam kalian. Berhaji adalah peneguhan tauhid. Berhaji adalah menapaktilasi kehidupan Bapak Tauhid kita, Nabiyullah Ibrahim, sang Cholilurrahman (Kekasih Allah).[]

DISCLAIMER: Saya tidak mengirim tulisan ini media tertentu. Siapa saja boleh mem-publish, repost, atau share. Tidak diperkenankan mengubah apapun dari tulisan ini tanpa seijin dari saya.