Berita

UINSA Newsroom, Jumat (13/01/2023); “Tarekat menjadi jalan alternatif untuk membimbing manusia dekat dengan Allah melalui arahan murshid. Namun lazimnya mereka terjebak kepada ekslusifisme dan fanatisme yang ekstrem sehingga menciptakan persoalan sosial di tengah kehidupan masyarakat. Untuk itu, diperlukan upaya pembenahan dalam proses pembelajarannya agar jamaah tarekat mempunyai paradigma yang moderat dan humanis.

“Salah satu praktik tarekat yang mengedepankan aspek sosial dan juga spiritual ialah tarekat Qa’diriyah wa Naqshabandiyah (TQN) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kota Mojokerto. Dengan demikian, diperlukan kajian yang mendalam mengenai pembentukan sikap solidaritas sosial jamaah dalam pembelajaran TQN tersebut.,” ujar Muhamad Basyrul Muvid dalam ujian disertasinya.

Itulah sekelumit paparan pada bagian awal disertasi yang ditulis Muhamad Basyrul Muvid. Dengan pendekatan fenomenologis dan interaksi simbolik, Muvid panggilan akrab Dosen Universitas Dinamika Surabaya (dulu STIKOM) ini berupaya mengeksplor pembelajaran TQN di Pesantren Sabilul Muttaqin Kota Mojokerto.

Pembelajaran TQN (khususiyah atau khataman) yang didesain dengan pendekatan humanistik telah memberikan dampak positif bagi terbentuknya sikap solidaritas sosial jamaah. Misalnya, sikap dermawan, welas asih, moderat, dan tolong menolong yang dilakukan dengan motif mencari Ridho Allah. Serta mengikuti pandangan hidup yang mementingkan persaudaraan sesama (ukhuwah). Pembentukan sikap solidaritas sosial juga didukung dengan kegiatan sosial TQN dan kepemimpinan murshid yang humanistik.

Ujian disertasi yang dilaksanakan di Lantai 3 Pascasarjana Tower KH. Mahrus Aly UINSA Surabaya tersebut berjalan gayeng. Dihadiri para penguji internal, eksternal, dan kedua promotor (Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D. dan Dr. H. Amir Maliki Abitolkha, M.Ag.). Penguji eksternal menghadirkan Prof. Dr. H. Mukhsin Jamil, M.Ag, Guru Besar Bidang Tasawuf UIN Walisongo Semarang. Dalam proses tanya jawab dengan promovendus, Prof. Mukhsin sangat memuji temuan penelitian ini dan layak untuk mendapatkan gelar doktor. Sementara itu, dari internal menghadirkan para penguji Prof. Dr. Ali Mas’ud, M.Pd.I., dan Dr. Ali Wafa, M.Ag.

Di akhir sesi ujian, Muvid menyampaikan akan mencoba membukukan atau menulis dalam bentuk artikel dari ide-ide besar dari disertasi ini. Sebab, sikap uswah yang luar biasa dari Mursyid seperti tidak bersikap eksklusif perlu ditularkan. Tawaddhu’nya para santri terhadap Mursyid juga patut diteladani dan ditularkan dalam konteks dunia pendidikan.

Dr. Amir Maliliki mewakili tim promotor dalam sambutanya menyampaikan, bahwa promovendus perlu membentuk kelompok tarekat di dunia tempanya mengabdi. Terutama amalan-amalan yang luar bisa dari para tasawuf. “Tim promotor sangat bangga dengan apa yang telah dihasilkan oleh promovendus. Dan perlu mentradisikan apa yang menjadi amalan-amalan para tarekat,” ujarnya.