Coloumn UINSA

Misteri Laut Dalam Al-Qur’an

oleh : Mirna Agung Safitri – Mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya

Meskipun pertama kali ditemukan di kalangan orang Quraisy yang tidak mengenal dunia maritim, Al-Qur’an mengetahui masalah laut dengan berbagai tanda (bentuk). Syekh Abdul Aziz az-Zuhairi menulis, sighat bahar (bentuk tunggal) disebut sebanyak 29 kali, sighat bahrani (dua lautan) disebut satu kali, sighat bahrain (dua lautan) disebut sebanyak empat kali, sighat bihar (jamak)  disebut dua kali. Selama ini, kata al-fulk (perahu) disebutkan sebanyak 23 kali.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang mengacu pada laut ditemukan dalam Surah an-Nur ayat 40. Selain menegaskan bahwa orang-orang kafir berada dalam kegelapan, Allah sebelumnya telah menunjukkan kondisi fatamorgana yang ada di antara orang-orang kafir dalam Surah an-Nur  ayat 39. Namun, setiap ayat Al-Qur’an masing-masing memiliki rahasia, termasuk tentang kegelapan lautan di atas (Ardiyantama, 2019)

MAKNA Q.S. AN-NUR AYAT 40

Menurut Qatadah dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa hampir tidak mungkin untuk melihatnya (dasar laut) karena sangat gelap. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa pada kedalaman dasar laut, kondisi alam yang diperoleh minim dari segi cahaya sehingga menyebabkan gelap gulita. Kondisi laut yang minim cahaya memaksa adaptasi organisme dasar laut untuk meniadakan kebutuhan akan cahaya dan menjaga mereka dalam kegelapan, sehingga jika organisme endemik ditemukan di dasar laut dekat perairan dangkal, mereka akan mengalami masalah fisik. . sifat dan bentuknya, berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa gelombang itu mirip dengan sesuatu (tipis) yang berlapis-lapis (Ibnu Abbas), yang berarti bahwa gelombang laut, yang kita sebut ombak, memiliki banyak lapisan, di banyak permukaan. Lapisan gelombang terjadi sebagai akibat dari perbedaan tekanan, suhu, dan perputaran arus air yang kemudian menimbulkan gelombang air dalam di dasar laut, fenomena serupa yang sering menyebabkan sungai di dasar laut, misalnya air yang mengalir dari dasar laut di satu arah. Agak bertentangan dengan logika kita bahwa di dasar air laut akan cenderung diam karena tidak ada gaya yang bekerja padanya kecuali tekanan hidrostatik yang memaksa segala sesuatu menempel ke permukaan (Wahid, 2019).

KEGELAPAN DASAR LAUT MENURUT Q.S. AN-NUR AYAT 40

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dasar laut di sini diartikan sebagai daratan terendah yang ditutupi oleh lapisan air laut, yang di dalamnya terdapat kegelapan permanen karena kurangnya cahaya yang dapat menembus area tersebut, atau bahkan tidak merata. Menurut sumber BBC, daratan terendah yang dikenal saat ini adalah Palung Mariana, yang diselami pada tahun 1960 oleh Don Walsh dan Jacques Piccard (Morelle, 2019). Mengutip BBC, pada kedalaman dasar laut ini, hampir tidak ada cahaya yang bisa menembus atau mencapai dasar laut, yang berarti sinar matahari telah diserap sepenuhnya dalam perjalanan ke dasar laut. Namun, dasar laut, terutama palung samudera, adalah batas akhir planet Bumi, bertindak sebagai penyerap karbon untuk menjaga stabilitas iklim Bumi. Berdasarkan hal tersebut, penulis menemukan hikmah dibalik kegelapan dasar laut yang digambarkan dalam Q.S. An Nur ayat 40 dalam bidang ilmu. Bagaimana Al-Qur’an secara ilmiah menjelaskan fenomena kegelapan di dasar laut? Juga, fenomena ilmiah macam apa yang ada di dasar laut?

Sumber: inet.detik.com

Dari buku Oceans karya Danny Elder dan John Pernetta, kegelapan lautan dan samudra ditemukan di kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak mungkin untuk menemukan cahaya. Sedangkan di bawah kedalaman seribu meter, tidak ada cahaya.

Penjelasan Harun Yahya tentang dunia bawah laut juga dapat menegaskan Kembali bahwa firman Allah tentang kegelapan. Pengukuran yang dilakukan dengan teknologi saat ini telah menunjukkan bahwa antara 3 dan 30% sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut. Dengan demikian, hampir semua dari tujuh warna yang membentuk spektrum sinar matahari diserap secara bergantian saat menembus permukaan laut pada kedalaman 200 meter, kecuali cahaya biru. Di bawah kedalaman seribu meter, tidak ada cahaya yang ditemukan. (Miyaqi et al., 2020)

Tak hanya itu, Harun Yahya yang dikutip dari buku Oceanography, a View of the Earth, juga mencoba mengecek frasa lain dalam kalimat di atas. Ketika ada gelombang lain pada gelombang. Apa yang telah disebutkan juga telah dibuktikan secara ilmiah oleh penelitian modern saat ini. Para ilmuwan telah menemukan bahwa keberadaan gelombang di dasar laut terjadi ketika lapisan air laut dengan kepadatan atau kepadatan yang berbeda bertemu.

Gelombang dalam ini menutupi perairan di kedalaman laut dan samudera. Pada kedalaman ini, air laut memiliki kerapatan yang lebih tinggi daripada air di atasnya. Ajaibnya, gelombang internal ini memiliki sifat gelombang permukaan. Itu bisa pecah seperti gelombang. Meski tidak terlihat dengan mata telanjang, keberadaannya dapat dikenali dari suhu atau perubahan konsentrasi garam di lokasi tertentu. Namun, kita tidak dapat memungkiri bahwa dunia Barat yang tidak mengenal Al-Qur’an memang sangat giat menggali ayat-ayat kauniyah yang bertebaran di seluruh alam semesta. Berbagai kajian justru membuka tabir kebenaran yang tertuang dalam kitab suci. Padahal, Allah SWT memberi kita perintah pertama untuk membaca. Atas nama Tuhan Sang Pencipta.

Sudah saatnya kita belajar dari ayat-ayat qauliyah yang tersebar di seluruh Al-Qur’an dan dari ayat-ayat kauniyah di alam semesta. Terutama tentang laut. Mengutip pernyataan dari Presiden Joko Widodo, sudah terlalu lama kita memunggungi laut, sudah terlalu lama kita mengabaikan ayat-ayat Allah tentang laut. Kita juga harus mengingat pesan Rasulullah yang mendukung para mujahidin yang berperang di laut Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Haram bahwa Nabi (SAW). Dia juga tertawa, maka Ummu Haram berkata, “Mengapa engkau tertawa wahai Rasulullah?” Nabi berkata, “Sebagian dari umatku telah menyeberangi laut biru (untuk jihad) di jalan Allah. Kemiripan mereka seperti raja-raja keluarga mereka.” Ummu Haram pun berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku salah satu dari mereka.” Kemudian dia berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah dia bagian dari mereka.” Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

Ardiyantama, M. (2019). Ayat-ayat Kauniyyah Dalam Tafsir Imam Tantowi Dan Ar-Razi. Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur’an Dan al-Hadits11(2), 187–208. https://doi.org/10.24042/al-dzikra.v11i2.4411

Miyaqi, I. A., Al-Hanani, Moh. L. S., & Rakh, adi, F. A. (2020). Kegelapan Dasar Laut dalam Perspektif Al-Qur’an2, 89–91.

Wahid, A. N. (2019). Gejala Dan Fenomena Bahr Dalam Al-Qur’an: Relasi I’jaz Al-Qur’an Terhadap Ilmu Pengetahuan. Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Qur’an Dan al-Hadits11(2), 209–238. https://doi.org/10.24042/al-dzikra.v11i2.4379