
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Jangan dibayangkan itu terjadi di masjid. Atau gereja. Atau tempat ibadah lainnya. Juga jangan lamunkan itu muncul di majelis taklim. Pula jangan diangankan itu berlangsung di lembaga pendidikan. Apalagi di perguruan tinggi. Jangan! Karena memang itu tidak terjadi di tempat atau forum-forum nan mulia yang memang didesain untuk menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai kemuliaan itu. Sungguh tak terjadi di tempat-tempat atau forum-forum seperti itu. Melainkan tumbuh di warung. Ya, warung! Ada di warung makan. Tempat orang memuaskan perut. Tempat orang memenuhi rasa lapar. Tempat orang mengisi kebutuhan fisik lewat makanan dan minuman yang disajikan.
“Teruslah berbuat baik hingga keburukan lelah mengikutimu.” Demikian sebuah nilai itu ditumbuhkan. Bahkan ditampilkan di depan setiap mata yang sedang memandang ke depan. Oleh sebuah warung penjual kebutuhan keseharian. Wujudnya makanan dan minuman. Nilai itu sengaja ditebarkan. Di meja yang sudah disiapkan. Tepatnya di kotak tisu yang ditempatkan di hadapan pelanggan. Hingga, setiap kali pelanggan yang hendak menyantap yang dipesan, di hadapannya tak hanya sajian makanan yang diperjualkan. Melainkan juga pesan luhur yang dikirimkan.
Tentu kalimat itu adalah kata-kata mutiara yang mengagumkan. Mencolok sekali karena dituliskan di sebuah kotak tisu yang diletakkan di hadapan siapa saja yang datang sebagai pelanggan. Hingga setiap mata bisa dengan mudah menjadikannya sebagai asupan kemuliaan. Orang terkini menyebut kalimat itu dengan istilah quote. Kalimat yang isinya memang mengandung ajaran dan nilai kemuliaan. Dikemas dalam rumusan sederhana nan ringkas. Hingga pesan yang terkandung mudah dicerna dan disimpan dalam ingatan. Lalu pesan yang tersimpan dalam ingatan itu bisa memandu langkah kemuliaan.
Siang itu, Sabtu (18 Oktober 2025), aku dan anak isteriku sedang menyantap makan siang di warung itu. Namanya Warung Ijo. Warung dimaksud terletak di Jl. Kombes Pol. Moh. Duriyat di tengah Kota Sidoarja. Mudah dijangkau dan ditemukan. Karena letaknya persis di sebelahan Selatan dari kantor PLN di jalan utama kota yang terkenal dengan kota 1000 UMKM itu. Aku dan keluargaku sering sekali makan di situ. Karena memang masakannya enak sekali. Menu rumahan tapi nikmatnya tak recehan. Sekali datang tak membuat hati kapok untuk kembali datang. Alih-alih, kerap datang untuk mengulangi nikmatnya makan dan minuman yang disajikan.

Untaian kalimat “Teruslah berbuat baik hingga keburukan lelah mengikutimu” di atas seakan terngiang kembali di telinga. Hingga aku pun membuka kembali foto-foto yang kuabadikan sebagai hasil jepretan atas kalimat itu. Itu terutama saat ada fenomena yang selalu memenuhi cakupan materi yang disinggung oleh kalimat itu. Apalagi dalam keseharian yang lebih luas, cacian kerap tak pernah sepi meski pujian bukan sesuatu untuk dihindari. Minimal, sinisme tak selalu absen meski prestasi terus diraih. Tapi situasi itu harus disikapi. Dan ingatanku pada untaian kalimat di atas seakan mendorongku untuk melakukan sesuatu sebagai penyikapan.
Lalu lahirlah tulisan ini. Judul kuberi dengan memodifikasi untaian kalimat mutiara yang ada di warung makan di atas. Bunyinya lalu menjadi seperti yang ada pada judul. Yakni, “Teruslah berprestasi meski ada yang tak henti mencaci.” Redaksinya mungkin ada bedanya. Tapi isinya tampak serupa. Bandingkan redaksi judul tulisan ini dengan kalimat utuh yang dipasang di kontak tisu warung makan di atas. “Teruslah berbuat baik hingga keburukan lelah mengikutimu,” begitu bunyinya. Modifikasi itu diambil untuk mewadahi kebutuhan yang lebih besar terhadap prinsip keteguhan diri dalam berprestasi dalam kemuliaan. Yakni, bahwa berprestasi sama dengan berbuat baik. Sedangkan mencaci setara dengan keburukan, dan bahkan keburukan itu sendiri.
Memaknai Tantangan Hidup
Silang sengkarut adalah romantika. Biasanya diiringi pro dan kontra. Dan itu berarti di situ ada dinamika. Ada proses pergerakan yang menandai adanya kehidupan. Itulah proses kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Bahkan, kata “sepasang” yang kerap terdengar dalam keseharian menunjuk kepada, serta menandai, dua hal yang berbeda namun bisa bersama. Karena itu, hidup lagi-lagi tak selalu bisa lepas dari pro dan kontra. Minimal, akan selalu ada penanda silangnya. Bahkan tak selalu semua serba bulat. Lonjong kerap hadir merapat. Di situ lalu muncul perbedaan. Walau kadang bersama perbedaan ada ketidaksepakatan. Bahkan juga hujatan.
Alam pun juga menunjukkan gejala yang tak selalu sama. Ada siang, ada malam. Ada panas, ada pula dingin. Ada hujan, ada pula kekeringan. Yang nonalam pun juga menunjukkan gejala ketidaksamaan serupa. Ada suka, ada duka. Ada cantik, ada jelek. Dan ada baik, ada pula buruk. Begitu beberapa contoh yang bisa diturunkan. Begitu pula dalam soal perilaku manusia. Ada perilaku baik, dan ada pula perilaku buruk. Ada perilaku bijak, dan ada juga perilaku jahat. Semua ketidaksamaan itu hadir mewarnai jagat raya. Kadang bersamaan, kadang pula bergantian.
Begitulah hidup di alam nyata. Dan begitu pula yang menjadi ilustrasi dari teori yang dalam Bahasa Arab dikenal dengan nadhariyat al-tadlad. Atau antonym, dalam Bahasa Inggris. Teori perlawanan kata. Dan dalam perspektif teori ini, yang berbeda itu tetap punya manfaat. Minimal, untuk bisa menjadi bukti yang menguatkan keberadaannya dan sekaligus juga menunjuk posisi yang dilawankan. Sebagai contoh, adanya malam menjadi bukti penguat betapa siang itu penting, dan sebaliknya. Juga, adanya buruk menjadi pengingat betapa menjadi baik itu penting. Adanya gelap menjadi bukti betapa terang itu dibutuhkan.
Jika ditarik ke dalam konteks tindak laku manusia, lalu apa manfaat perilaku buruk oleh seseorang? Apa manfaat perilaku jahat bagi kehidupan? Minimal, adanya perilaku buruk bisa menjadi bukti untuk menguatkan betapa pentingnya perilaku baik dalam hidup bersama. Jangan anggap remeh perilaku baik. Karena di seberangnya ada perilaku buruk yang menanti untuk mengancam kehidupan bersama. Juga, jangan anggap enteng perilaku bijak. Sebab, di sisi lainnya ada perilaku jahat yang akan siap menggantikan posisi perilaku bijak jika perilaku bijak itu tak menjadi ruh dalam hidup bersama.
Karena itu, kebaikan di tengah keburukan menjadi isu sentral dalam hidup bersama. Bagian penting dari isu sentral ini adalah bagaimana menjaga kebaikan meskipun harus berada di tengah berbagai keburukan. Maka, pesan di Warung Ijo seperti diuraikan di atas penting untuk semakin digelorakan. “Teruslah berbuat baik hingga keburukan lelah mengikutimu,” begitu pesan itu sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Daripada sibuk ngurusin keburukan yang ditimbulkan oleh yang lain, perkuat saja kebaikan. Daripada hidup disibukkan oleh keburukan yang dihembuskan orang lain, lebih baik melanjutkan kebajikan.
Begitu pulalah dengan pesan “teruslah berprestasi meski ada yang tak henti mencaci” yang kita hadirkan untuk menerjemahkan pesan di Warung Ijo di atas. Prestasi dalam kaitan ini bisa untuk konteks dan bentuk apa saja dalam hidup. Bisa prestasi untuk sekolah. Bisa prestasi di kuliah. Bisa pula prestasi di dunia usaha. Juga prestasi di tempat kerja lainnya. Janganlah diri disibukkan dengan keburukan-keburukan yang dihembuskan oleh orang lain. Janganlah diri direpotkan dengan keburukan-keburukan yang dilahirkan oleh perilaku orang lain. Daripada itu semua, perkuat saja prestasi diri. Lanjutkan saja kebaikan-kebaikan yang telah ditorehkan. Untuk kemajuan bersama di masa depan.
Keburukan-keburukan di atas bisa beragam wujud. Mulai hasudan. Hinaan. Cacian. Bahkan fitnah yang sengaja disebarkan. Baik dihadirkan in-person. Yakni dalam interaksi fisik. Bisa pula secara digital. Yakni interaksi di dunia maya. Semua ragam keburukan itu bisa saja terjadi. Dan siapapun tak akan bisa mencegah agar tak terjadi. Tapi meskipun begitu, perlu menjadi kesadaran dari awal, bahwa selalu ada yang baik walau yang buruk itu tak pernah sirna. Kadang hadirnya bersamaan, seperti dijelaskan di atas. Kadang pula hadir bergantian. Sekali lagi percayalah, bahwa yang baik selalu ada meskipun yang buruk bisa jadi juga tak akan pernah enyah.
Maka, hidup perlu mengambil sikap dalam kebajikan. Hidup harus memiliki keteguhan dalam kemuliaan. Jika tidak, engkau gampang terombang-ambingkan oleh keburukan yang ditimbulkan oleh sesama. Janganlah seperti dalam cerita di kitab Qira’atur Rasyidah. Cerita itu tentang bapak, anak, dan keledai. Di ujung lain dalam cerita itu adalah warga kampung. Saat sang bapak berjalan dengan menaiki keledai dan sang anak berjalan kaki di bawahnya, warga kampung komen: “Dasar bapak nggak punya belas kasih! Menaiki sendiri dan membiarkan anaknya jalan kaki.” Atas omelan ini, kuping sang bapak pun mulai teras panas. Tak tahan.
Karena tak tahan dengan omelan warga kampung itu, sang bapak itu pun meminta sang anak untuk menaiki keledai dan dia ganti berjalan kaki di sampingnya sambil menuntun keledai itu. Omelan pun keluar dari mulut warga: “Dasar anak nggak ada akhlak; masa, dia naik di atas keledai sementara membiarkan bapaknya berjalan kaki.” Sang bapak pun lalu mengambil langkah perubahan. Dia memutuskan untuk kembali menaiki keledai itu, tapi kali ini dia naik bersama sang anak. Warga kampung itu pun geleng-geleng kepala. Pertanda heran dan tak bisa mengerti atas keputusan sang bapak itu.
Sikap heran warga kampung itu tak lain karena pertimbangan peri-kehewanan. Sebab, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang manusia. “Itu bapak dan anak sama-sama tak punya rasa peri-kehewanan!” teriak warga kampung mengkritik keras sikap dan perilaku bapak dan anak tersebut. Sang bapak pun gatal juga telinganya. Dia kembali tak tahan dengan omelan warga kampung itu. Lalu dia kontan mengambil keputusan lanjutan: bersama sang anak sama-sama turun dari keledai dan menuntun keledai itu secara bersama. Warga kampung pun masih juga komen aneh. “Lha, terus buat apa bapak dan anak itu memiliki keledai kalau hanya untuk dituntut dan tak dinaiki,” begitu komen mereka.
Itulah hidup. Itulah tantangan yang mungkin saja mengenai pengalaman siapa saja dalam hidupnya. Ke kiri, dikomentari orang. Ke kanan, kadang dimaki pula. Bahkan tak ngapa-ngapain, juga tetap digunjing orang. Artinya, bergerak dikritik. Diam pun juga digunjing. Maka, kalau sudah begitu, hidup tak boleh berhenti tanpa melakukan apa-apa. Sebab, sama-sama digunjing, mending bergerak daripada diam. Minimal, bergerak membuat tubuh menjadi sehat. Sama-sama digunjing, bergerak masih lebih baik untuk kesehatan tubuh daripada diam di tempat.
Lalu Apa Pelajarannya?
Ada sejumlah pelajaran penting dari kata-kata mutiara “teruslah berprestasi meski ada yang tak henti mencaci” dalam pembahasan dengan sejumlah ilustrasi di atas. Pertama, hiduplah di atas prestasi. Jangan hidup di atas kesia-siaan. Itu pesan dasar yang bisa ditarik dari kata-kata mutiara di atas. Sebab, kesempatan tak datang dua kali. Sekali mendapat kesempatan harus dimanfaatkan. Cara paling sederhana untuk memanfaatkannya adalah tak membiarkannya berlalu begitu saja. Karena itu, diam berarti menyiakan-nyiakan. Apalagi, menyalahgunakan adalah pengkhianatan. Sebab, semua praktik itu sama dengan menyia-nyiakan kesempatan yang diamanahkan.
Kedua, jadikan prestasi sebagai ruh hidup dalam kehidupan sebagai pribadi. Kebajikan bersama memang buah dari upaya kolektif sebagai warga. Tapi, Kebajikan kewargaan itu tak akan bisa diraih tanpa prestasi di masing-masing diri. Maka, tak akan pernah ada kebajikan bersama dalam kehidupan sebagai sebuah gugusan warga jika masing-masing diri tak pernah menyumbangkan kebajikan sesuai kapasitas dan latar belakang yang dimiliki. Tak harus prestasi itu mewujud dalam ukuran dan bentuk yang sama. Tapi, minimal masing-masing diri menjadikannya sebagai nilai sentral dalam berpikir dan bertindak di ruang bersama.
Ketiga, jangan pernah berhenti berprestasi. Karena prestasimu adalah bukti kesungguhanmu. Buahnya akan semerbak mewangi. Bukan dirimu saja yang akan menanti. Melainkan juga institusi yang menaungi. Teruslah menunaikan tugas dan amanah dengan baik sekali. Jangan pernah mengerut dan menyurut hanya karena ada yang mencaci. Dan, jangan pernah risau saat caci dan maki tak pernah sepi dilontarkan terhadap langkah prestasi diri. Karena caci dan maki tak akan bisa dihindari. Tapi pelakunya pasti dilandasi rasa isi. Minimal rendah kualitas diri akibat sulit untuk mengejar dan mengikuti.
Keempat, ikhlaslah dalam berprestasi dan berkinerja diri. Untuk sebuah mimpi institusi. Bahwa akan ada dampak balikan untuk diri sendiri itu bisa saja terjadi. Tetapi panggilan institusi adalah orientasi suci. Maka, saat institusi memanggil, tak ada kata yang bisa ditegaskan kecuali siap mentaati. Maka, saat ada cacian dan makian, ingatlah bahwa engkau sedang bertugas menjaga kemuliaan institusi. Maka, terimalah semua sebagai kesempatan untuk memperkuat kebaikan untuk institusi. Seberat apapun tugas dan tantangan itu datang dan mendekati.
Tanda utama ikhlas dalam bertugas adalah tak pernah takut dicaci maki. Tentu di sisi lainnya, juga tak pernah berharap dipuji. Apalagi sampai gila pujian. Sebab, dicaci dan dipuji itu ibarat dua sisi mata uang (two sides of the same coin). Bisa dibedakan tapi sejatinya tak bisa dipisahkan. Keduanya hadir dekat kepada siapa saja. Maka, jadikanlah setiap caci dan maki yang datang sebagai vitamin untuk menyehatkan diri. Minimal, jangan engkau balas caci dengan caci. Jangan engkau ikuti makian sesama dengan makian serupa. “Jangan kotori hatimu dengan praktik buruk yang sama,” begitu dawuh seorang kyai sepuh yang selalu kuingat kuat sekali.
Maka, selalu belajar menjadi orang baik bisa dilakukan dengan tak ikut-ikutan mengotori hati dengan praktik rendah nilai. Jika tak bisa menyucikan hati, jangan sampai mengotori. Apalagi hingga harus mengotori hati publik. Ikut-ikutan atau bahkan terlibat aktif mengotori hati publik tentu bukanlah kemuliaan diri. Karena itu, ikhlas adalah sikap paling baik sejak dini. Membiasakan ikhlas juga menjadi awal untuk selalu menjaga kesucian hati. Sebaliknya, melarutkan ikhlas ke dalam kecamuk diri hanya akan membuat diri tak kuasa lagi menjaga kemuliaan insani.

Kemuliaan bisa datang dari mana saja. Apa yang dilukiskan oleh tulisan ini memberi bukti konkret bahwa warung makan pun bisa mengirim pesan kemuliaan itu. Pesan “Teruslah berbuat baik hingga keburukan lelah mengikutimu” yang ditempelkan pada kotak tisu di meja makan sajiannya bukanlah pesan biasa. Melainkan melampaui batas core business-nya sebagai tempat jualan makanan dan minuman. Alih-alih, warung makan itu ternyata memberi makanan dan minuman spiritual kepada siapa saja yang berkesempatan mampir untuk menikmati sajian yang dihidangkan. Tentu, makanan dan minuman spiritual itu adalah sebuah kemuliaan.
Jika warung makan saja sudah memberi perhatian pada pesan kemuliaan, tentu tempat-tempat yang memang menjadi sentrum bagi penumbuhan dan pengembangan nilai kemuliaan memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada tempat semacam warung makan itu. Sebut saja lembaga pendidikan sebagai contoh. Di semua jenjang. Termasuk pendidikan tinggi. Karena itu, sungguh ironis jika lembaga-lembaga pendidikan itu justru jauh dari nilai kemuliaan. Mencaci hanya salah satu contoh dari ketidakpantasan. Dan untaian “teruslah berprestasi meski ada yang tak henti mencaci” adalah jawaban dalam menghadapi setiap ketidakpantasan itu.
Di titik inilah, lembaga pendidikan harus berprestasi dalam kemuliaan. Lemah kinerja adalah kegelapan. Dan semua yang berada di dalam ruang pendidikan itu harus mampu menembus kegelapan. Membiasakan caci maki adalah kegelapan. Apalagi jika caci maki itu justeru untuk menghindari tuntutan kinerja tinggi. Tentu itu adalah super kegelapan. Maka, setiap diri dalam ruangan pendidikan sepatutnya merasa malu kepada warung makan yang mengajarkan nilai kemuliaan melalui dorongan berprestasi diri. karena itu, jangan kutuk kegelapan. Apalagi jika itu hanya untuk menghindar dari tuntutan kinerja yang diamanahkan. Jika Warung Ijo saja sudah memberi contoh melalui pesan untuk terus menjaga kemuliaan, lalu kita semua nunggu apalagi?