Pesantren Cerdas Ekologi

UIN Sunan Ampel Surabaya
December 19, 2025

Pesantren Cerdas Ekologi

Oleh: Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

“Pesantren ini sudah lama menerapkan ecotheology,” bisik Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Prof. Arskal Salim kepadaku. Sore itu, Sabtu (13 Desember 2025). Kalimat itu dibisikkan begitu dia turun dari mobil dan menginjakkan kaki di area pelataran pesantren itu. Kala itu, aku sedang mendampinginya untuk menghadiri acara seminar dan launching alih bentuk kelembagaan. Dari Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nurul Qarnain menjadi Institut KH Yazid Karimullah. Nama yang dipakai sebagai nama baru kampus dimaksud adalah nama pendiri dan sekaligus pengasuh utama pesantren yang membawahi kampus itu.

Mendengar pesantren itu sudah sudah lama menerapkan ecotheology, aku pun langsung terpesona untuk menelisik lebih jauh. Bagaimana cerita pesantren yang berada di kaki gunung di area perbatasan Bondowoso-Jember itu menjalankan prinsip hidup yang keren itu. Langkah demi langkah kuayunkan. Sambil pada setiap langkah yang kuayunkan itu, kusorotkan mata ke setiap sisi dan sudut di lingkungan pesantren. Setiap kusorotkan mata, setiap itu pula kekaguman menggelayuti pikiran dan perasaanku. Tak ada secuil kertas pun berserakan di jalanan. Dedaunan pun tak kutemukan jatuh bertebaran. Semua sisi dan sudut pun clean and clear.

Bahkan, saat al-mukarram KH Yazid Karimullah, sang kyai pengasuh utama, mengajak Pak Sesdirjen bersamaku mengitari lingkungan pesantren itu, kekagumaknku makin membuncah. Dengan mengendarai mobil golf yang dikendarai sendiri oleh sang kyai, kami pun dipertunjukkan semua gedung dan fasilitas pesantren. Saat mendekat ke arah tempat wudlu’, tak kutemukan air bekas wudlu itu mengalir ke sana ke mari secara liar. Jangankan sampah bekas makanan-minuman, kotoran dari robekan kertas atau dedaunan pun tak kutemukan. Semua tertata dan tertangani secara rapi dan bersih. “Ya, beginilah sehari-hari kami,” dawuh sang kyai, menjelaskan bagaiman bersih dan rapi menjadi kebiasaan hidup warga pesantrennya.

Di tengah kekagumankau yang besar itu, tiba-tiba kalimat pertanyaan retorik kudengar dari sebelahku: “Tahu nggak rahasianya kenapa pesantren ini bisa sebegini bersih dan rapi?” Pertanyaan itu lalu kontan kujawab: “Tidak.” Lalu aku pun bertanya balik: “Kenapa kira-kira ya Prof?” Kalimat pertanyaan balik ini kulontarkan kepada lelaki yang melontarkan pertanyaan retorik itu. Kusebut kata “Prof” karena memang yang sedang membisikkan pertanyaan retorik itu adalah Prof. Babun Suharto. Sahabat seniorku. Kala itu, dia memang sedang bertugas bersamaku mendampingi Pak Sesdirjen. Untuk rangkaian kegiatan kunjungan kerja ke sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam swasta di wilayah Bondowoso-Jember.

Foto: Launching Alih Bentuk STIS Nurul Qarnain Menjadi Universitas KH Yazid Karimullah

Pertanyaan retorik Prof. Babun Suharto di atas membuatku makin penasaran. Tentu bikin aku makin tak tahan untuk segera mendapatkan jawaban atasnya. Sebab, rasa penasaran demi pensaaran itu langsung berkecamuk dalam pikiranku. Termasuk, pertanyaan langsung menggelayut dalam pikiranku kala itu, bagaimana pesantren ini menangani urusan kebersihan di lingkungannya? Bagaimana pesantren ini mengelola sampah? Dan seterusnya yang berkaitan dengan tata kelola lingkungan. Sebab, sebagai sebuah lembaga pendidikan yang secara 24 jam ditinggali oleh ribuan orang, dari santri hingga pengasuh, tentu urusan kebersihan lingkungan menjadi perkara serius. Minimal bukan remeh-temeh.

“Kyai Yazid itu setiap pagi jalan kaki muterin pesantren. Ke semua bagian. Lalu, kalau menemukan sobekan kertas atau daun sekalipun, beliau sendiri yang memungut. Lalu mengumpulkannya hingga menaruhnya ke bak sampah.” Demikian penjelasan Prof Babun Suharto kepadaku.  “Dan itu tiap hari beliau lakukan tanpa henti,” jelasnya menambahkan praktik kebiasaan mulia sang kyai pengasuh utama pesantren itu. Prof Babun pun lalu menimpali penjelasannya itu dengan uraian simpulan menarik berikut ini: “Lha bagaimana tidak bersih dan rapi, wong kyai sendiri yang memberi contoh hidup bersih dan rapi. Muteri lingkungan pesantren setiap pagi. Dan memungut sendiri jika ada kotoran kertas dan dedaunan yang dijumpai. Akhirnya, semua pun jadi segan jika tidak mengikuti pola hidup bersih dan rapi seperti yang dilakukan kyai.” 

Mendengar penjelasan demi penjelasan itu, rasa ingin tahuku makin meninggi dan tak terbendung lagi. Aku tak kuasa menyembunyikan kegelisahan intelektualku lebih lanjut. “Mengapa yang disebut-sebut oleh Prof Babun ini hanya sobean kertas dan dedaunan?” bisikku dalam hati. “Mengapa tak pernah disebut-sebut sampah dari makanan sisa atau makanan-minuman berat lainnya?” gumamku lebih lanjut dalam benakku.  Begitu mengitari sudut demi sudut lingkungan pesantren bersama sang kyai, Pak Sesdirjen, dan Prof Babun itu, aku akhirnya menemukan jawabannya. Ternyata, semua sampah yang masuk kategori sampah/kotoran berat dimaksud sudah dikanalisasi. Ada fasilitas yang disediakan oleh pesantren.

Apa fasilitas itu? Sambil menyetiri mobol golf untuk berkeliling di lingkungan pesantren itu, Kyai Yazid menunjukkan sejumlah fasilitas pengelolaan sampah. Ada stoom yang dibangun di setiap sudut terluar lingkungan pesantren. Di stoom itu, semua jenis sampah dikanal di dalamnya. Ada pembakaran atas kumpulan sampah itu jika dibutuhkan. Semua terkanal rapi di bawah stoom-stoom itu. Hingga tak akan pernah dijumpai sampah dalam kategori berat yang berserakan di semua sisi atau sudut pesantren. Lingkungan pesantren pun terlihat bersih dan rapi.

Foto: KH Yazid Karimullah Mengajak Tamu Berkeliling dengan Mobil Golf

“Sudah menjadi kebiasaan di sini praktik seperti ini. Ada atau tidak ada tamu yang datang, tetap praktik bersih dan rapi itu kami lakukan,” jelas sang kyai. “Di sini tidak boleh hanya sekadar hafal al-nadhafah minal iman,dawuh beliau lebih lanjut untuk menguraikan bagaimana praktik hidup bersih dan rapi itu menjadi kebiasaan warga pesantrennya. Substansi mulia dari hidup bersih yang berasal dari ajaran al-nadhafah minal iman dipraktikkan dalam keseharian seluruh santri dan pengasuh pesantren. Hidup bersih dan rapi yang diyakini sebagai bagian dari keimanan itu telah diterjemahkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Kesadaran Ekologis Itu Ada Di Sini!

Kisah yang kuceritakan di atas adalah sebuah kesadaran dan sekaligus terjemahannya di lembaga pendidikan Islam tertua di negeri ini. Yakni, pesantren. Kenyataan yang kuilustrasikan di atas menjadi bukti bahwa kesadaran ekologis itu bukan dominasi masyarakat negara maju seperti di Barat. Juga bukan dominasi masyarakat modern yang akrab dengan modernitas seperti di Barat pula. Pengalaman memberlakukan kesadaran ekologis dalam praktik keseharian di pesantren telah menjelaskan bahwa kesadaran dan praktik cerdas ekologi itu sangat dekat dengan kita. Bahkan boleh dibilang: Di sini! Ya, di lingkungan terdekat dengan kita. Yakni, pesantren. Khususnya Pesantren Nurul Qarnain di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Tentu saja masih ada pesantren lain yang memiliki perhatian serupa.

Kita sering dikampanyekan tentang kesadaran ekologis. Yakni, kesadaran yang berangkat dari semangat untuk menjaga dan mengkonservasi lingkungan, serta sekaligus juga mempertahankan ketahanan lingkungan untuk kehidupan kini dan di masa mendatang. Dalam banyak diskursus, mungkin juga sudah banyak dijelaskan bahwa kesadaran ekologis ini begitu sangat kuat dalam perkembangan masyarakat modern yang disimbolkan dengan perkembangan maju teknologi bahkan juga peradaban material.

Tetapi, yang eksklusif dari pengalaman Pesantren Nurul Qarnain dimaksud adalah bahwa kesadaran dan praktik cerdas ekologi itu berangkat dari keimanan. Yakni, ajaran tentang al-nadhafah minal iman. Artinya, keimanan telah berkontribusi besar bagi lahirnya kesadaran dan praktik cerdas ekologi itu. Inilah yang menjadi bukti mengapa konsep ecotheology yang dikembangkan oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA begitu memiliki signifikansi akademik dan praktis yang tinggi. Dan kaum beragama pun bisa berkontribusi penting untuk lahirnya serta menguatnya konsep dan praktik ecotheology dimaksud.

Cerdas ekologi dalam praktik ecotheology di Pesantren Nurul Qarnain Jember di atas merupakan catatan tambahan yang bisa digunakan untuk menegaskan bahwa kesadaran ekologis itu sebetulnya bukan dominasi orang-orang yang lebih maju dari sisi peradaban material. Sebab, pesantren juga sudah memberikan bukti penting bahwa dari awal sekali sejak didirikan, pesantren ini dibangun di atas semangat dan kesadaran ekologis. Fakta ini kutemukan saat aku bertanya kepada al-mukarram K.H. Yazid Karimullah: “Ngapunten kyai, panjenengan ini generasi ke berapa di pesantren ini?” Sang kyai pun tegas menjawab: “Saya generasi pertama; saya membangun pesantren ini pada tahun 1968.”

Penjelasan dari al-mukarram K.H. Yazid Karimullah ini menjelaskan kepada kita semua bahwa kesadaran ekologis itu sebetulnya sudah cukup lama dimiliki oleh sejumlah komunitas tradisional kita, salah satu diantaranya diwakili oleh seorang kyai hebat seperti al-mukarram K.H. Yazid Karimullah ini. Bahkan jika bisa dibilang lebih lanjut, justru kesadaran ekologis itu dicontohkan oleh lembaga pendidikan pesantren. Artinya, apa yang menjadi diskursus masyarakat modern dengan istilah ekologi itu sudah dicontohkan oleh sebuah pesantren yang merupakan hasil usaha dari generasi pertama yang didirikan dan dikelola langsung oleh al-mukarram K.H. Yazid Karimullah.

Inilah yang disebut dengan eco-pesantren. Yakni, pesantren yang memiliki kesadaran dan praktik untuk menjaga kesadaran dan sekaligus praktik cerdas terhadap konservasi lingkungan. Tetapi sekali lagi, yang menarik dari eco-pesantren ini adalah bahwa praktek cerdas ekologi di pesantren ini berangkat dari kekuatan keyakinan atau keimanan. Beberapa kali al-mukarram K.H. Yazid Karimullah menjelaskan kepadaku bahwa tidak cukup memasang dan menghafal al-nadhafah minal iman. Kita harus mampu menurunkan ajaran itu, menurut sang kyai, ke dalam mental dan perilaku agar semangat keimanan itu bisa mengilhami langkah dalam kehidupan nyata.

Penjelasan di atas berarti bahwa eco-pesantren itu mengawali kesadaran dan praktik cerdas ekologi justru dari keimanan. Keimananlah yang kemudian mengantarkan pengasuh pesantren ini menjaga lingkungan, sehingga siapapun bisa melihat sendiri bagaimana tingkat kebersihan pesantren ini dalam praktik kesehariannya. Kerapian pun juga ada di sana. Dari sekian anggota rombongan kunjungan itu, mungkin aku seorang diri yang merasakan keterpesonaan yang tinggi sekali atas keberihan dan kerapian lingkungan pesantren ini. Itu tak lain karena aku baru pertama sekali berkunjung ke pesantren dimaksud.

Hampir di semua sudut tidak ditemukan sampah berserakan. Atau juga bekas makanan dan minuman yang acak-acakan. Baik di jalanan, di lintasan jalan, maupun di area tempat wudlu. Semua terjaga dengan baik, rapi dan bersih. Maka eco-pesantren telah dicontohkan oleh Pesantren Nurul Qarnain di Jember itu. Ini menjadi bukti bahwa ekoteologi bukan sesuatu yang jauh dari kita. Alih-alih, ekoteologi itu sangat dekat dengan kita. Dan pesantren Nurul Qarnain telah mempraktikkan ekoteologi itu dalam bentuk dan konsep yang disebut dengan eco-pesantren. Jadi, eco-pesantren di Pesantren Nurul Qarnain ini adalah terjemahan langsung nan konkret dari konsep yang disebut dengan ekoteologi.

Lalu Apa Pelajarannya?

Ekoteologi memang soal cerdas lingkungan berbasis keyakinan. Tapi, pengalaman cerdas ekologi Pesantren Nurul Qarnain di atas bisa dijadikan sebagai pemantik pelajaran berharga yang tak hanya terbatas pada urusan cerdas ekologi semata. Melainkan, sejumlah kemuliaan bisa disingkap dari balik praktik cerdas sekologi yang dilakukan dalam kebiasaan keseharian pesantren itu. Mulai dari sejarah awalnya hingga perkembangan terkini. Nah, dalam catatanku, ada tiga pelajaran penting yang bisa dipetik dari keluasan kemuliaan pengalaman pesantren dimaksud. Masing-masingnya sebagaimana dalam uraian di bawah.

Pertama, jangan pernah terlewat untuk mendesain semua kebajikan secara matang dari sejak di awal perjalanan. Sebab ternyata, untuk sampai kepada cerita sukses, semua kebajikan itu didesain dari awalnya. Itu artinya bahwa kebajika itu diperjuangkan, atau diupayakan dengan penuh kesengajaan. Merujuk kepada pengalaman Pesantren Nurul Qarnain di atas, semangat dan praktik cerdas ekologi pesantren dimaksud tak terjadi begitu saja. sebaliknya, dilakukan dengan desain yang kuat dan ketat. Artinya di situ ada kesengajaan dari pengasuh dan pengelola pesantren untuk berlaku cerdas ekologi.

Kunjunganku ke pesantren dimaksud memberiku pelajaran konkret dan menarik soal itu. Betapa semua kebajikan dalam bentuk praktik cerdas ekologi itu didesain dari awal berdirinya pesantren itu. Ada visi yang telah dibangun dan terus dikembangkan oleh pendiri dan sekaligus pengasuh utama pesantren itu. Dengan begitu, praktik penyelenggaraan layanan pendidikan yang berlangsung selama 24 jam sebagai bagian dari tradisi pesantren itu tidak pernah terjadi dan berlangsung secara acak-acakan. Bersih dan rapi hanyalah akibat saja dari semangat dan praktik cerdas ekologi itu. Pengelolaan sampah yang baik adalah bagian dari ramah lingkungan yang terus diperjuangkan.

Dengan mata kepala sendiri, aku melihat bahwa tingkat kebersihan dan kerapian sangat terjaga di semua lingkungan pesantren itu. Bahkan, sampah dikelola dengan sangat baik. Juga terkanalisasi, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Untuk ukuran lembaga pendidikan yang semuanya serba mandiri karena pesantren ini jauh dari hingar-bingar di luar dari Pendidikan, termasuk juga politik di antaranya, Pesantren Nurul Qarnain dimaksud bisa dibilang sangat inovatif. Kemandirian kuat yang dimiliki bisa mengantarkannya melakukan pengelolaan yang baik atas semua resources yang ada di dalamnya. Ujungnya, terbangunlah praktik cerdas ekologi di semua lini pesantren dimaksud.

Di ujung dan sudut pesantren, seperti yang dijelaskan sebelumnya, selalu terdapat stoom yang memang disediakan untuk berlangsungnya proses kanalisasi terakhir dari seluruh proses pengelolaan sampah yang ada di dalamnya. Dengan praktik cerdas ekologi itu, potensi terjadinya penumbukan sampah yang sangat mungkin terjadi akibat dihuni oleh ribuan santri dan pengasuh selama 24 jam tertangani dengan baik sekali. Maka pelajaran penting dari pesantren ini: semua harus didesain. Semua harus dikelola dengan manajemen yang baik. Agar kebaikan itu bisa langsung berkesinambungan di tengah-tengah tingginya tingkat populasi yang ada di lembaga pendidikan itu.

Sebagai pelajaran kedua, jangan pernah melewatkan momentum awal pembentukan dan atau perubahan sebuah institusi. Pengalaman Pesantren Nurul Qarnain memberi pelajaran penting, bagaimana momentum awal pendirian dimanfaatkan betul untuk mendesain dan membangun mental ekologis itu. Al-mukarram K.H. Yazid Karimullah sejak mendirikan pesantren itu di tahun 1968 sudah menjadikan momentum pendirian itu untuk membentuk mental dan perilaku cerdas ekologi itu. Karena itu, Pelajaran teknisnya, jangan pernah telat untuk membangun kebajikan. Jangan pernah terlambat untuk mendesain kemuliaan. Apapun jenis dan cakupan dari Kebajikan dna kemuliaan itu.

Semua desain kebajikan harus dilakukan sedari awal sekali. Termasuk sedari awal berdirinya sebuah institusi. Sebab jika tidak, maka telatnya memberlangsungkan sebuah nilai kebajikan akan berakibat kepada lambatnya mentalitas yang ada pada diri individu yang ada di dalam institusi itu, utamanya dalam membangun kebajikan itu secara bersama-sama. Maka catatan penting dari pengalaman Pesantren Nurul Qarnain di atas adalah jangan pernah telat untuk memberlangsungkan kebajikan sejak sebuah institusi didirikan atau dilakukan transformasi.

Sebagai pelajaran ketiga, jangan sepelekan setiap kesempatan kepemimpinan yang diamanahkan. Itu penting demi membangun dan memberlangsungkan kebajikan. Mental dan perilaku cerdas ekologi yang berlangsung secara berkelanjutan di Pesantren Nurul Qarnain itu dipimpin langsung oleh pendiri dan sekaligus pengasuh utama pesantren tersebut. Sosok KH Yazid Karimullah selaku pendiri dan pangasuh utama begitu sentral bagi pemberlangsungan semangat dan praktik cerdas ekologi di pesantren itu. Karena itu, pengalaman Pesantren Nurul Qarnain dimaksud memberikan sebuah pelajaran penting kepada kita semua dalam jabatan, profesi, dan jenis organisasi apapun. Yakni, bahwa sosok pemimpin begitu sentral bagi pengembangan Kebajikan di internal organisasi.

Amanah kepemimpinan, karena itu, harus diterjemahkan ke dalam kecerdasan bertata kelola. Dengan cara itu, lalu sebuah institusi akan bisa memasuki kebajikan dalam cakupan makna kinerja. Ini menjadi dasar penting bagi kecerdasan kepemimpinan. Karena itu, jangan pernah menyepelekan amanah. Tak cerdas bertata kelola adalah satu bagian saja dari contoh menyepelekan amanah itu. Kecakapan bertata kelola dari sosok yang bernama KH Yazid Karimullah untuk konteks kinerja ekoteologi di Pesantren Nurul Qarnain, seperti diuraikan di atas, memberi bukti penguat betapa kecerdasan bertata kelola itu sangat vital bagi suksesnya sebuah kepemimpinan organisasi.

Tiga pelajaran di atas menjadi catatan kemuliaan. Tapi, fasilitasi menjadi kata kunci untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan yang dikandung oleh tiga pelajaran itu. Pengalaman Pesantren Nurul Qarnain patut menjadi contoh. Betapa semangat dan praktik cerdas ekologi disempurnakan dengan fasilitasi, di antaranya dalam bentuk stoom-stoom sebagai kanal terakhir dari pengelolaan sampah yang sangat potensial mengalami penumpukan akibat banyaknya populasi yang tinggal di pesantren itu. Maka, pemimpin yang baik tak hanya berpikir prinsip, melainkan menyempurnakan prinsip itu dengan teknokrasi melalui fasilitasi yang memadai.

Tag Post :

Rector Insights

Categories