
Pecah telor itu bahasa gaul, biasanya digunakan ketika seseorang melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Seperti dalam urusan ide bisnis, sukses pecah telor Tirto Utomo adalah menjadi pengusaha pertama yang “berjualan” air putih dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga bensin satu liter di akhir 70-an.
Dalam kancah politik nasional, Gus Dur sukses pecah telor, menjadi orang pertama dari kalangan santri, jebolan Pesantren yang menjadi Presiden Republik Indonesia. Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. pun meraih prestasi pecah telor, sebagai Sekretaris Jenderal Kemenag RI pertama dari civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya.
Setidaknya, setiap kita juga harus memiliki minimal satu prestasi pecah telor yang kelak bisa dibanggakan oleh generasi setelah kita. Sebagaimana teladan dalam doa Nabi Ibrahim yang diabadikan QS Asy Syuara ayat 84: “Dan jadikan aku buah tutur kata yang baik oleh generasi setelahku.”
Itulah alasan mengapa sebelum kita menerima amanah jabatan apapun, sebaiknya memastikan: apa potensi prestasi pecah telor yang bisa kita raih untuk amanah jabatan itu nanti?
Jangan sampai keberadaan kita di tempat yang baru hanya mengulang capaian prestasi yang sudah diraih oleh pejabat sebelumnya. Cak Nun bilang, “jangan jadi manusia mubah”, sama saja, tidak menjadi lebih baik.
Penulis ingat betul perjalanan forum Tabayun para tokoh masyarakat dengan Yayasan Masjid Peneleh Surabaya: mau dibawa kemana perahu besar (Masjid Peneleh) ke depan? Begitu keresahan mereka.
Ya, Masjid Peneleh ini seperti perahu besar, karena punya riwayat besar. Ia dibangun dan menjadi pusat dakwah Sunan Ampel dalam menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, menebar kasih sayang –tidak hanya kepada pemeluknya—tetapi kepada seluruh makhluk di alam semesta ini.
Para bapak bangsa, pendiri (founding fathers) Republik Indonesia berproses, belajar di kampung Peneleh ini. Mereka yang punya latar Kyai, santri, priyai, dan lain-lain dipastikan pernah “ngangsu kaweruh” dan/atau berdakwah disini. Sebut saja, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, dll (pendiri NU), bahkan mayoritas tokoh pergerakan – nasionalis (Hos Cokroaminoto, Bung Karno, Tan Malaka, dan lain-lain) memiliki rumah di Peneleh.
Dengan sederet nama besar yang pernah berjuang dari kampung Peneleh, tentu siapapun, termasuk abdi masjid harus “tawadhu” menyampaikan prestasi pecah telor apa yang akan ditoreh ke depannya disana.
Ya, abdi masjid. Sejak awal pengurus yayasan atau takmir membahasakan dirinya adalah “Abdi”. Karena komitmennya harus menjadi pelayan untuk Sang Pemilik masjid (Baitullah) dalam melayani tamu-tamuNya.
Belum genap satu tahun, satu persatu prestasi pecah telor abdi masjid baru akhirnya terwujud.
Pertama, menghadirkan pemerintah Kota Surabaya untuk ikut menjaga dan merawat bangunan Masjid melalui Keputusan Walikota Nomor: 100.3.3.3/287/436.1.2/2025 tentang Masjid Peneleh sebagai bangunan Cagar Budaya. Dengan begitu, pemerintah harus turun tangan dengan segala kewenangannya melestarikan warisan Raja “pertama” Surabaya, Sunan Ampel ini.
Jalan awalnya cukup berliku menghadirkan pemerintah menjadi bagian atau pihak yang merawat masjid. Sebagian tokoh sempat mengkhawatirkan ketulusan pemerintah. Tidak hanya merawat, tetapi ikut mengatur kegiatan ubudiyah di masjid. Itu yang perlu diklarifikasi (tabayun).
Kedua, mencetak 100 calon Mudin bersertifikat Kemenag Batch I untuk mengisi kekosongan Mudin di setiap RW se-Surabaya melalui Training Pemulasaran Jenazah bekerjasama dengan Kemenag Kota Surabaya, 21 Desember 2025 lalu.
Setelah kegiatan tersebut, tumbuh kepercayaan diri pada sebagian besar Abdi Masjid, bahwa Peneleh benar-benar punya nama besar. Peserta training hadir dari warga Surabaya barat, timur, selatan, dan Surabaya utara, merata hampir seluruh Kelurahan mengirimkan delegasinya.
Ketiga, program one month one viral tampak menuai hasil, hattrick tiga bulan terakhir. Berita Masjid Peneleh beruntun menghiasi laman media mainstream (koran, TV, Radio) ternama.
Capaian prestasi pecah telor di atas diharapkan mampu mewujudkan obsesi para abdi Masjid Peneleh, yaitu melejitkan kemakmuran masjid, baik dari kuantitas maupun kualitas jemaahnya melampaui capaian sesama Masjid (kampung) Jogokariyan. Siap fastabiqul khairat, semoga.