Kerja dengan Rahmah
Mevy Eka Nurhalizah, M.Sos
CPNS Dosen Asisten Ahli
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Dunia kerja hari ini menuntut kecepatan. Target harus tercapai, laporan harus selesai, dan indikator kinerja harus terpenuhi. Pada situasi semacam ini, bekerja sering kali terasa melelahkan, bahkan kering akan makna. Kita sibuk mengejar angka, tetapi lupa pada manusia di balik proses kerja itu sendiri.
Bagi institusi pendidikan tinggi Islam seperti UIN Sunan Ampel Surabaya, bekerja seharusnya tidak berhenti pada urusan profesionalitas dan capaian administratif. Lebih dari itu, kerja adalah bagian dari ibadah dan pengabdian. Di sinilah nilai rahmah atau kasih sayang menjadi penting untuk dihadirkan dalam setiap aktivitas kerja. Kerja dengan rahmah bukan sekadar slogan, melainkan cara bekerja yang memanusiakan manusia, sekaligus menjaga marwah institusi.
Konsepsi Dasar Bekerja dengan Rahmah
Kerja dengan rahmah berarti menjalankan tugas dengan hati. Kasih sayang menjadi dasar dalam mengambil keputusan, berinteraksi, dan melayani. Rahmah bukan berarti bekerja tanpa aturan atau mengabaikan profesionalisme. Justru sebaliknya, rahmah membuat kerja menjadi lebih bertanggung jawab, adil, dan bermakna.
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. menegaskan bahwa rahmah merupakan inti ajaran Islam. Pada salah satu gagasannya, beliau menyampaikan bahwa Islam hadir untuk memuliakan manusia, bukan menambah beban kemanusiaannya. Pesan ini sangat relevan dengan dunia kerja kampus. Kebijakan, layanan, dan sistem kerja idealnya memudahkan, bukan mempersulit. Ketika rahmah hadir dalam kerja, yang dihasilkan bukan hanya target dan output, tetapi juga rasa saling percaya, kenyamanan bekerja, dan keberkahan dalam setiap proses.
Penerapan Kerja dengan Rahmah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya
Di lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya, kerja dengan rahmah sebenarnya bisa diwujudkan melalui hal-hal sederhana. Misalnya, ketika pimpinan membuka ruang dialog dan mendengarkan aspirasi sivitas akademika. Ketika dosen membimbing mahasiswa dengan sabar, tanpa kehilangan ketegasan akademik. Serta, ketika tenaga kependidikan melayani dengan sikap ramah dan empati, bukan sekadar menjalankan prosedur.
Kerja dengan rahmah juga tercermin dari keteladanan. Nilai ini tidak cukup disampaikan melalui slogan atau surat edaran, tetapi perlu ditunjukkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Sebagaimana ditekankan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag., keteladanan memiliki daya pengaruh yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Penerapan kerja dengan rahmah membawa dampak besar bagi citra dan marwah institusi. UINSA tidak hanya dikenal sebagai kampus unggul secara akademik, tetapi juga sebagai ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Setiap individu merasa dihargai, setiap peran dianggap penting, dan tidak ada yang merasa terpinggirkan.
Pentingnya Bekerja dengan Rahmah
Kerja dengan rahmah menyatukan kinerja dan nurani. Lingkungan kerja menjadi lebih sehat, kolaboratif, dan produktif. Hubungan antarsesama menjadi lebih hangat, sementara kepercayaan publik terhadap institusi semakin kuat. Pada konteks UINSA, kerja dengan rahmah bukan hanya identitas moral, tetapi juga kekuatan institusional. Inilah yang membedakan UINSA dari sekadar lembaga pendidikan yang mengejar peringkat dan prestasi. Ketika ilmu, teknologi, dan kebudayaan dikembangkan dengan semangat rahmah, hasilnya bukan hanya capaian akademik, tetapi juga kontribusi nyata bagi kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan.