Karena Kuliah Berkualitas Tidak harus Mahal: UINSA Menjawab
Fenomena kenaikan biaya pendidikan di sejumlah pendidikan tinggi atau perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang semakin hari semakin masif. Akses masuk kuliah di perguruan tinggi yang berkualitas seringkali dianggap sebagai kemewahan dan diperuntukkan kepada keluarga yang tergolong berduit, sehingga banyak calon mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi akademik luar biasa terpaksa mengubur mimpinya karena terhalang dengan biaya uang pangkal serta uang semesteran yang tergolong tinggi. Dalam konteks inilah, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya hadir sebagai solusi terbaik untuk siapa saja (calon mahasiswa) yang memiliki harapan besar dalam meraih mimpinya.
UINSA bukan sekadar institusi pendidikan dengan label “Negeri” belaka, melainkan sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang mengemban misi untuk menjadi institusi yang inklusif. Topik mengenai “biaya terjangkau” di UINSA bukan sekadar strategi pemasaran perguruan tinggi semata agar laku di pasaran, melainkan implementasi nyata dari amanat konstitusi dan kepedulian kepada masyarakat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa memandang kasta ekonomi yang dalam hal ini sesuai dengan nilai Pancasila mengenai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Seperti yang kita ketahui bersama, regulasi keuangan di UINSA khususnya yang dibebankan kepada mahasiswa hanya bertumpu pada Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semesternya dan dalam hal ini juga ada pembagian kelompok kemampuan ekonomi. Pembayaran UKT yang dibebankan kepada mahasiswa sesuai dengan kelompok ekonomi mereka. Namun, yang paling membedakan UINSA dengan banyak PTN yang lain adalah keberaniannya untuk tidak mengadakan Uang Pangkal yang biasa dipungut di awal pendaftaran sebagai mahasiswa yang sudah sah diterima di kampus yang dituju. Sebuah keberaniaan yang dilakukan UINSA ini tidak lain atas dasar pengabdian kepada agama dan negara.
Implementasi tersebut didukung oleh pemerintah berupa subsidi dan pengelolaan BLU (Badan Layanan Umum) yang efisien, sehingga fasilitas modern yang sering mengalami kemajuan baik di kampus Ahmad Yani atau pun Gunung Anyar bisa dinikmati mahasiswa tanpa harus menguras kantong pribadi secara berlebihan.
Keberaniaan dalam mengambil kebijakan biaya yang terjangkau ini ternyata memberikan dampak yang masif secara sosial dan akademik. Dampak yang bisa lihat bersama diantaranya adalah: Heterogenitas Mahasiswa: UINSA menjadi tempat peleburan identitas pada latar ekonomi dan juga berbagai latar sosial mahasiswa, menciptakan lingkungan belajar yang kaya akan perspektif (ruang diskusi aktif). Penurunan Angka Putus Kuliah: Dengan biaya yang terukur dan relatif terjangkau, mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu atau lebih awal tanpa terbebani beban finansial yang memberatkan. Fokus pada Prestasi: Mahasiswa lebih terdorong untuk mengejar prestasi akademik atau non akademik dalam kancah nasional maupun internasional, hal itu dikarenakan energi mereka tidak tersita sepenuhnya untuk memikirkan tunggakan biaya kuliah.
Nilai utama UINSA adalah Agama Islam yang kemudian tidak meninggalkan dari ajaran Sunan Ampel, sehingga dalam konteks ini ajaran beliau mengenai Ilmu ingkang sidiq-sidiq ru’yah kang karu’yatan yang artinya Ilmu yang sesungguhnya tidak hanya diucapkan tapi juga diterapkan, dan ajaran ini selaras dengan nilai Hablum Minannas yang diwujudkan dalam bentuk pemberian peluang berkuliah di UINSA bagi calon mahasiswa dengan kelompok ekonomi menengah ke bawah. Mahasiswa yang sudah sah diterima mendapatkan standar pendidikan dengan Akreditasi Institusi “Unggul” dan fasilitas gedung modern, namun dengan biaya yang seringkali lebih murah dibanding biaya institusi lain.
UINSA membuktikan bahwa kualitas tidak selalu berbanding lurus dengan kemahalan. Nilai religiusitas yang diintegrasikan dengan sains (Integrated Twin Towers) menjadikan lulusannya tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga matang secara karakter islami.Memilih kuliah di UINSA adalah sebuah keputusan strategis bagi mahasiswa dan keluarga. Di sini, pendidikan tinggi dikembalikan pada marwahnya sebagai social lift untuk memperbaiki level hidup melalui ilmu pengetahuan, tanpa harus terjerat beban finansial yang memberatkan di awal perjuangan.