Fakultas Dakwah dan Komunikasi
January 7, 2026

Integrasi Twin Towers, Menjaga Arah Ilmu di Tengah Laju Teknologi

Integrasi Twin Towers, Menjaga Arah Ilmu di Tengah Laju Teknologi

Integrasi Twin Towers, Menjaga Arah Ilmu di Tengah Laju Teknologi

Oleh : Maulana Syarifudin
CPNS Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Pada hari ini kita disuguhkan dengan dunia yang bergerak sangat cepat. Teknologi juga berkembang tanpa jeda, diantaranya seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi contoh paling nyata. Berbagai perusahaan teknologi bahkan saat ini berlomba menghadirkan model AI yang semakin canggih, semakin efisien, dan semakin menentukan cara manusia bekerja serta berpikir. Namun di balik kecanggihan itu, muncul pertanyaan yang sering terlupa oleh kita, yaitu kearah mana perkembangan teknologi ini akan terus membawa manusia?

Pertanyaan ini tentu akan menghasilkan diskusi yang berseri, baik dari ruang akademis maupun sudut warung kopi,  lantaran tak bisa mudah  dijawab begitu saja dengan hanya mengandalkan nilai kecakapan teknis. Namun juga dibutuhkan pijakan nilai yang relavan dan kontekstual. Pada titik inilah Integrasi Twin Towers sebagai nilai dan filosofi yang dimiliki UIN Sunan Ampel Surabaya untuk menjawab berbagai kegelisahan dari kita bersama. Lantaran dari filosofi Twin Towers ini bisa menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu dan teknologi yang harus tetap berakar pada nilai kemanusiaan dan keislaman, bukan semata pada kecepatan dan keuntungan.

Secara fisik, integrasi Twin Towers dapat dikenali melalui dua menara yang saling terhubung di bagian depan Kampus I UIN Sunan Ampel di Ahmad Yani, Surabaya. Namun maknanya jauh melampaui bentuk bangunan. Twin Towers adalah ruh keilmuan yang menjadi ciri khas UINSA. Filosofi yang mulai dicetuskan sejak 2010 ini,  memandang jika ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu sosial, humaniora, serta sains sebagai dua bangunan yang berdiri sejajar. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi juga tidak dilebur hingga kehilangan jati diri. Dengan integrasi Twin Towers ini mampu membuat dialog yang hidup dengan pertukaran paradigma, termasuk cara pandang, jarak pandang, sudut pandang hingga metode dan nilai agar imu berkembang secara utuh dan bertanggung jawab. Dalam kerangka ini, agama tidak berhenti sebagai legitimasi normatif, dan ilmu umum tidak dipahami sebagai pengetahuan yang steril dari nilai. Keduanya saling mengingatkan bahwa setiap pengetahuan membawa konsekuensi moral.

Implementasi dalam Proses Pembelajaran

Integrasi Twin Towers di UINSA tidak dibiarkan tinggal sebagai wacana. Ia diterjemahkan secara nyata dalam proses akademik, salah satunya melalui mata kuliah Integrasi Twin Towers yang diberikan sejak semester awal. Mata kuliah ini menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu seharusnya bekerja tidak terpisah dari nilai, dan tidak abai pada realitas sosial.

Mahasiswa diajak mengenal dasar pemikiran Twin Towers serta tiga pola integrasi utama, yaitu  integrasi Tridharma Perguruan Tinggi, integrasi antara teori dan lapangan, serta integrasi lintas disiplin ilmu. Fokusnya bukan sekadar pada penguasaan konsep, tetapi pada pembentukan cara berpikir.

Seperti apa yang telah dikatakan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., Pembelajaran dirancang dengan pendekatan Experiential Learning. Mahasiswa didorong untuk mengalami, merefleksikan, dan mengaitkan pengetahuan dengan konteks nyata. Melalui pendekatan ini perlahan membentuk karakter akademik yang khas. Mahasiswa tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kesadaran moral. Terutama dalam menghadapi perkembangan AI dan teknologi digital, mereka tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi mampu bertanya, mengkritik, dan memberi arah.

Integrasi Twin Towers membantu mahasiswa memahami bahwa kemajuan teknologi selalu membawa konsekuensi. Dari sanalah peran nilai keislaman menjadi penting sebagai kompas, bukan penghambat inovasi. Melalui filosofi ini, UINSA menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan Ulul Albab: insan yang berpikir jernih, berjiwa matang, dan berkarakter luhur sesuai apa yang selalu digaungkan oleh civitas akademik UINSA serta Rektor UINSA. Terutama di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kehilangan arah, Twin Towers menjadi pengingat bahwa ilmu seharusnya tidak hanya membuat manusia pintar, tetapi juga bijak.

Spread the love

Tag Post :

Categories

Berita