Integrasi Falsafah Moh Limo dalam Perilaku Anti-Amoral
Oleh: Moch Dimas Maulana, M.A. (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UINSA)
Sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam negeri, UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga laboratorium penting dalam pembentukan karakter. Hal ini ditegaskan secara mendalam oleh Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., dalam kegiatan Internalisasi Ke-UINSA-an Seri 1 pada Selasa, 6 Januari 2025. Beliau mengingatkan bahwa kampus ini menyandang tiga nama besar yang sangat berat konsekuensi moralnya: Islam, Negeri, dan Sunan Ampel. Ketiga identitas ini menuntut setiap elemen di dalamnya untuk menjaga integritas, karena setiap tindakan amoral tidak hanya mencederai individu, tetapi juga mempertaruhkan nama agama, negara, dan Kanjeng Sunan Ampel.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Senat UINSA, Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag., pada acara yang sama menekankan pentingnya kesadaran kolektif bagi seluruh civitas akademika. Beliau menjelaskan bahwa setiap individu baik pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga besar UINSA. Sebagai satu kesatuan keluarga, perilaku setiap anggota akan berdampak pada citra seluruh rumah besar ini. Oleh karena itu, menjaga diri dari tindakan amoral adalah bentuk tanggung jawab yang mutlak harus dilaksanakan. Oleh karena itu tulisan menjadi penting sebagai pengingat kolektif bahwa prestasi intelektual setinggi apa pun akan kehilangan maknanya jika tidak disertai dengan keluhuran budi pekerti.
Secara filosofis, batasan etika di UINSA berakar kuat pada ajaran warisan luhur Kanjeng Sunan Ampel, yaitu Moh Limo (Bahasa Jawa yang berarti enggan melakukan lima hal). Falsafah ini menjadi kompas moral bagi masyarakat, lebih-lebih civitas akademika UINSA, dalam mencegah tindakan amoral di kampus melalui lima prinsip utama: Moh Main (tidak berjudi), Moh Ngombe (tidak mengonsumsi minuman keras), Moh Maling (tidak mencuri, dalam konteks akademik bisa diartikan anti-plagiasi dan korupsi), Moh Madat (tidak menggunakan narkoba), serta Moh Madon (tidak melakukan perzinaan atau tindakan pelecehan seksual).
Nilai-nilai ini diterjemahkan ke dalam kebijakan kampus yang nyata dan sistematis, di mana UINSA tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga menyediakan instrumen perlindungan yang kuat melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS UINSA). Didukung penuh oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA UINSA) di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), langkah ini memastikan setiap sudut kampus menjadi ruang aman yang menjunjung tinggi keadilan. Puncaknya, keseriusan ini membuahkan prestasi membanggakan di mana UINSA Surabaya pada tahun 2024 dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Tingkat Utama, sebuah pengakuan tertinggi yang membuktikan bahwa komitmen UINSA dalam menjaga moralitas dan kesetaraan telah diakui secara nasional.
Di era disrupsi informasi saat ini, penerapan Moh Limo juga harus bertransformasi menjadi benteng pertahanan dalam ruang-ruang digital. Tindakan amoral tidak lagi hanya terbatas pada interaksi fisik, melainkan juga perilaku di dunia maya seperti penyebaran konten asusila, judi online, hingga plagiasi digital yang mencederai nilai Moh Madon dan Moh Maling. Oleh karena itu, kesadaran civitas akademika untuk menjaga martabat institusi harus mewujud dalam cara berkomunikasi di dunia maya untuk memastikan bahwa jejak digital setiap warga UINSA senantiasa mencerminkan kesantunan dan integritas yang sejalan dengan marwah Kanjeng Sunan Ampel.
Transformasi ini menuntut setiap civitas akademika untuk memiliki “kesalehan digital” yang melampaui sekadar kemahiran teknis. Dalam konteks ini, Moh Limo menjadi filter etis dalam menyaring informasi dan berinteraksi di media sosial, di mana setiap jempol dan ketikan dianggap sebagai representasi dari moralitas Sunan Ampel. Menguatkan literasi digital bukan hanya soal kecerdasan membedakan fakta dan hoaks, melainkan tentang kesadaran bahwa ruang siber adalah medan dakwah kontemporer yang menuntut kejujuran intelektual dan kesantunan bahasa. Kesadaran akan kehadiran Tuhan (nilai ihsan) di ruang digital menjadi kunci agar falsafah Moh Limo tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma sebagai kendali diri yang kokoh di balik layar gawai.
Sebagai nilai tambah yang membedakan dari institusi lain, UINSA mengusung paradigma Integrated Twin Towers yang menyatukan sains dan agama dalam satu tarikan napas. Hal inilah yang menjadi jati diri UINSA sebagai sebuah institusi yang terus berupaya mencapai kecerdasan intelektual dengan kemuliaan akhlak. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebermanfaatan dan keislaman yang moderat, UINSA terus berkomitmen untuk menciptakan harmoni antara menara ilmu dan menara iman. Menjaga diri dari tindakan amoral adalah bentuk nyata dari rasa cinta kita terhadap almamater, memastikan bahwa cahaya Sunan Ampel tetap bersinar terang melalui karakter unggul yang kita tunjukkan kepada dunia.