Fakultas Ushuludin & Filsafat
January 7, 2026

Iblis : Otak Intelektual Tersebarnya Kemaksiatan

Iblis : Otak Intelektual Tersebarnya Kemaksiatan

Dr. Slamet Muliono Redjosari

Iblis merupakan musuh yang paling licik dan jahat bagi manusia. Dia telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dan membuatnya terjebak dalam dosa dan kejahatan. Salah satu cara iblis untuk menyesatkan manusia adalah dengan menumpulkan otak manusia sehingga tidak dapat membedakan antara baik dan buruk, serta mudah berbuat kemaksiatan dan kejahatan sosial. Dengan akalnya manusia seharusnya dapat membedakan antara baik dan buruk, serta membuat keputusan yang tepat. Namun, iblis telah berhasil memperdaya akal manusia dengan memperindah perbuatan buruknya, sehingga manusia terjerembab dalam kejahatan tanpa terasa.

Disfungsi Akal 

Akal berfungsi memberi pertimbangan kepada manusia untuk memilihkan mana yang memberi manfaat dan mudharat. Manusia juga diberikan kemampuan untuk memberi pilihan mana yang terbaik di antara beberapa pilihan. Namun Iblis berhasil  menutupi dan menghiasi kejahatan seolah-olah kebaikan. Dengan kata lain, Iblis tidak hanya menumpulkan akal manusia, tetapi juga menutupi dan menghiasi kejahatan sehingga manusia berpikir bahwa kejahatan itu baik dan indah. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَبْصِرُونَ

Artinya :

“Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Naml: 24)

Akal manusia mengalami disfungsi ketika setan berhasil menghiasi perbuatan buruknya. Contoh-contoh kejahatan yang dihiasi oleh iblis adalah seperti korupsi, penipuan, dan kekerasan. Manusia yang melakukan kejahatan ini sering kali berpikir bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang baik dan benar, padahal mereka sedang terjebak dalam tipu daya iblis.

Qarun merupakan contoh manusia yang berlimpah kekayaan. Kekayaannya bukan dimanfaatkan untuk membantu orang lain namun justru untuk pamer kesombongan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Artinya :

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah memberinya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu berbesar hati, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu berbesar hati.” (QS. Al-Qasas: 76)

Dengan harta melimpah bukan membuat manusia tunduk dan bersahaja atas kenikmatannya yang melimpah tetapi justru mendorongnay berbuat angkuh dan sombonh, seolah harta kekayaan sebagai hasil keringatnya sendiri.

Hilangnya akal

Hilangnya akal manusia telah mengubur seluruh potensi baiknya. Akal yang terbersit bisikan setan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang rasional atau tidak. Salah satu contoh kaum Nabi Nuh, yang menyembah berhala di tengah kenikmatan yang besar. akalnya hilang sehingga membiarkan penyembahan kepada berhala. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagai berikut :

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

 Artinya :

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan kepada tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuth, Ya’uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 23)

Demikian pula apa yang dialami oleh kaum Nabi. Mereka orang-orang yang kuat dan kaya, namun mereka menolak untuk mengikuti ajaran Nabi Hud, dan bahkan memperolok-oloknya. Mereka hidup dalam berlimpah fasilitas hingga hidup bermewah-mewahan. Hal ini diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ

Artinya :

“Apakah kamu mendirikan pada setiap tempat yang tinggi bangunan yang besar, dan kamu jadikan tempat-tempat yang kokoh untuk kamu bernaung?” (QS. Asy-Syu’araa: 128-129)

Hilangnya peran akal membuat manusia buta. Akal yang buta telah menyebabkan manusia melakukan perilaku jahat dan menolak untuk mengikuti ajaran yang benar. Akal  justru dipergunakan untuk menjustifikasi perbuatan buruk seolah baik dan mendatangkan kebahagiaan.

Iblis telah berjanji untuk mengerahkan seeluruh kekuatannya agar manusia menyimpang dari jala-Nya. Terlebih lagi di era digital kali ini, dimana sesuatu yang seharusnya dijauhi justru digandrungi manusia. Manusia tiap saat bergulat dengan alat komunikasi yang Namanya handphone dan gadget. Dengan alat ini bisa mengakses dengan mudah kejahatan, seperti perbuatan zina, judi online, serta praktek menipu orang lain lewat media ini.

Akal tidak lagi mampu memberi pertimbangan kepada hati manusia yang sudah terjerembab dalam kemaksiatan. Bahkana saat ini manusia bisa mengeruk harta lewat bermain game, atau memviralkan konten. Di sisi lain, mereka tidak lagi peduli kepada orang lain. Bahkan kewajiban agamanya ditinggalkan demi memperturutkan pemainan melalui handphonenya.

Banyak generasi yang tersatukan dengan handphone dan media sosial sudah tidak lagi peduli terhadap nasib akheratnya. Shalat berjamaah di masjid, membaca dan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, atau menyisihkan waktunya untuk mendengarkan nasehat-nasehat para ustadz yang mengingatkan pentingnya kehidupan abadi di akherat. akal mereka tertutup oleh bisikan iblis yang menjadikan perbuatan memburu dunia sebagai kebaikan dan memfokuskan kehidupan akherat sebagai fatamormaga.

Iblis sebagai otak intelektual benar-benar sukses mendisfungsi akal sehingga tersebar kemaksiatan. Dengan bisikan Iblis, akal benar-benar tak mampu mengendalikan manusia ketika dirinya dikuasai untuk serius mengejar dunia dan frustrasi terhadap kehidupan akheratnya. 

Surabaya, 7 Desember 2026

Spread the love

Tag Post :

Categories

Column, Column UINSA