
SURABAYA – Sabtu pagi, 3 Januari 2026, halaman Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tampak khidmat. Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama menjadi momen emosional bagi 17 orang dosen dan tenaga kependidikan yang berbaris rapi. Di antara deretan penerima tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya, tampak sosok Dr. Moh. Syaeful Bahar, M.Si. yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UINSA.
Penganugerahan Satyalancana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Republik Indonesia ini menjadi pengakuan atas kesetiaan dan profesionalisme dalam menjalankan layanan pendidikan tinggi. Bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UINSA, pencapaian ini merupakan cerminan dari standar keunggulan yang dibangun oleh para pengajarnya, sekaligus menjadi bukti nyata kualitas sumber daya manusia yang dimiliki fakultas dalam mencetak lulusan yang kompeten.
Menautkan Tradisi Pesantren ke Dalam Cakrawala Sosial-Politik
Perjalanan karier Dr. Moh. Syaeful Bahar, M.Si., atau yang akrab disapa Pak Bahar, berakar dalam tradisi pesantren. Lahir di Bondowoso 47 tahun silam, beliau menempuh pendidikan awal di lingkungan religius. Inilah yang membentuk fondasi etika yang kuat dalam dirinya. Namun, pandangan intelektualnya tidak berhenti di tembok pesantren. Ia memiliki ketertarikan yang besar untuk membedah fenomena sosial dan dinamika politik melalui kacamata ilmiah.
Ketertarikan tersebut membawanya melintasi jalur pendidikan yang unik. Lulus dari Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel pada tahun 2001, ia melanjutkan langkah ke Universitas Airlangga (UNAIR) untuk mendalami ilmu-ilmu sosial. Di sana ia melakukan penelitian tentang budaya patriarki dalam masyarakat pesantren. Sejak resmi diangkat menjadi dosen tetap di UINSA pada tahun 2003, ia mendedikasikan diri untuk menjalankan amanat tridharma perguruan tinggi.
Di FISIP UINSA, Pak Bahar dikenal sebagai dosen interdisipliner yang mampu menjembatani disiplin hukum Islam dengan ilmu politik. Keahliannya dalam mengampu mata kuliah Sistem Politik dan Marketing Politik di Program Studi Ilmu Politik memberikan warna tersendiri. Ia berhasil menyajikan materi yang kompleks dengan perspektif sosiologis yang tajam, menjadikannya figur pengajar yang mampu memperluas cakrawala berpikir mahasiswa melampaui batas-batas tekstual.
Kontribusi Riset dan Penguatan Akar Keilmuan Politik Lokal
Reputasi seorang akademisi seringkali diukur dari kedalaman karya ilmiahnya. Berdasarkan penelusuran Google Scholar, Pak Bahar menunjukkan produktivitas yang konsisten dalam menghasilkan riset-riset berkualitas. Karya-karyanya banyak menyoroti relasi kekuasaan dan dinamika sosial masyarakat, yang menunjukkan komitmennya untuk terus memproduksi pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Salah satu kontribusi intelektual terpentingnya adalah penyelesaian studi doktoral di UNAIR pada tahun 2017. Disertasinya yang berjudul “Interaksi Antara Kiai dan Beijingan dalam Proses Pemilihan Kepala Desa (PILKADES) di Bondowoso” menjadi sebuah karya yang sangat identik dengan kekhasan Program Studi Ilmu Politik FISIP UINSA. Penelitian tersebut tidak hanya memberikan kontribusi teoritis bagi sosiologi politik, tetapi juga memperkuat posisi FISIP sebagai pusat studi yang unggul dalam menganalisis dinamika politik lokal di Indonesia.
Kehadiran sosok dengan kualitas riset seperti Pak Bahar memberikan dampak besar bagi kewibawaan akademik fakultas. Sebagai fakultas yang lahir pada tahun 2014, FISIP terus membangun kepercayaan publik melalui kualitas dosennya. Dedikasi Pak Bahar menjadi bukti bahwa layanan pendidikan di UINSA dikelola oleh tenaga ahli yang memiliki pemahaman teoritis yang mendalam sekaligus kepekaan terhadap realitas sosial di lapangan.
Makna Pengabdian bagi Pengembangan Pendidikan
Penerimaan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya 20 tahun ini membawa pesan yang mendalam bagi seluruh civitas akademika. Bagi rekan-rekan sejawat, capaian Pak Bahar dipandang sebagai pengingat akan pentingnya menjaga semangat dalam memberikan yang terbaik bagi pengembangan institusi. Masa pengabdian yang panjang tersebut menjadi simbol dari keteguhan hati dalam membimbing generasi muda meski di tengah berbagai tantangan zaman.
Kini, sebagai Ketua LPPM, tanggung jawab Pak Bahar semakin strategis dalam menentukan arah riset dan pengabdian masyarakat di tingkat universitas. Pengalaman dua dekade mengajar dan meneliti menjadi modal berharga untuk mendorong inovasi-inovasi akademik yang bermanfaat langsung bagi publik. Ia memastikan bahwa setiap riset yang dihasilkan memiliki keberpihakan pada kemajuan sosial.
Secara keseluruhan, penganugerahan ini menegaskan bahwa dedikasi Dr. Syaeful Bahar bukan sekadar tentang angka tahun pengabdian, melainkan tentang kualitas kontribusi yang telah diberikan kepada negara. Bagi FISIP UINSA, sosoknya adalah teladan bahwa integrasi nilai-nilai Islam dan ilmu sosial bukan hanya sebuah konsep di atas kertas, melainkan sebuah laku hidup yang konsisten dijalankan demi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Penghargaan ini menjadi lecutan semangat bagi seluruh keluarga besar UINSA untuk terus mengukir prestasi dan menjaga marwah pendidikan dengan integritas yang tinggi.(ASE)
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan program FISIP UINSA, silakan kunjungi dan ikuti media sosial kami di Instagram.