DI TUBUHMU (ADA) RIZKI DARI UINSA
Fina Wardani
CPNS Dosen Lektor Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Rizki dalam perspektif Islam tidak pernah dipahami secara sempit sebagai sekadar materi atau kekayaan finansial. Al-Qur’an menggunakan istilah rizq untuk menunjuk pada segala bentuk pemberian Allah yang menopang keberlangsungan hidup manusia, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Allah berfirman, “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya” (QS. Hūd [11]: 6). Ayat ini menegaskan dimensi teologis rizki sebagai jaminan ilahiah, sekaligus membantah anggapan bahwa nilai hidup manusia semata ditentukan oleh kemampuan ekonominya.
Namun, jaminan rizki tidak serta-merta melahirkan rasa syukur yang dimanifestasikan dalam ucapan Alhamdulillah ataupun berbagi dengan sesame. Lebih jauh lagi, rasa syukur bisa diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan rasa tanggungjawab yang lebih berdampak bagi masyarakat. Dosen dan karyawan di lingkungan UIN Sunan Ampel misalnya, mewujudkan rasa syukur dan terimakasih atas nikmat yang diberikan dapat diwujudkan dengan peningkatan kualitas pengajaran, pengabdian dan penelitian. Peningkatan pelayanan dan kerja keras demi terwujudnya visi-misi UIN Sunan Ampel Surabaya, baik di tingkat Prodi, Fakultas maupun Universitas. UINSA sebagai tempat kita bekerja sudah selayaknya menjadi salah satu wadah bagi manifesatasi rasa syukur terhadap rizki yang kita terima yang manfaatnya bisa kita rasakan dalam badan dan pikiran kita, lahir maupun batin.
Lebih jauh, syukur memiliki implikasi langsung terhadap keberlanjutan rizki itu sendiri. Allah menegaskan hukum spiritual yang bersifat kausal: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrāhīm [14]: 7). Penambahan di sini tidak selalu bermakna kuantitatif, melainkan juga kualitatif: ketenangan hati, keberkahan waktu, dan kejernihan dalam mengambil keputusan hidup. Jika kita bekerja dengan penuh rasa syukur, tentu akan menambah rasa ikhlas dan cinta bagi mahasiswa baik Ketika mengajar maupun saat memberikan pelayanan.
Pada akhirnya, relasi antara rizki dan rasa syukur menuntut pergeseran cara pandang: dari orientasi kepemilikan menuju kesadaran pengelolaan amanah. Dalam masyarakat yang kerap mengukur keberhasilan melalui akumulasi materi, Islam menghadirkan koreksi mendasar bahwa nilai manusia justru terletak pada kemampuannya mengenali, mensyukuri, dan memanfaatkan rizki secara bertanggung jawab. Dengan syukur, rizki tidak sekadar dinikmati, tetapi dimaknai; tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diorientasikan untuk kemaslahatan yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat dengan cara yang [aling tepat.