Berita

Tuesday, 22 November 2022

UINSA TUAN RUMAH MUNAS MUDIR MA'HAD DAN RIHLAH ILMIAH PTKIN SE-INDONESIA KE-IX TAHUN 2022

UINSA Newsrrom, Selasa (22/11/2022); Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menjadi tuan rumah kegiatan “Musyawarah Nasional Mudir Ma’had dan Rihlah Ilmiah” Tahun 2022. Kegiatan yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu, 21-23 November 2022 ini berlangsung di dua tempat, yakni di Hotel Swiss Bell In dan Greensa In Juanda. Musyawarah Nasional Mudir dan Rihlah Ilmiah tahun 2022 mengambil Tema “Posisi dan Peran Ma’had al-Jami’ah dalam Pengarusutamaan Moderasi Islam di Indonesia.”

Forum ini melibatkan Mudir/Pengelola Ma’had al-Jami’ah (Pesantren Kampus) PTKIN Se-Indonesia, dan dihadiri 39 Ma’had al-Jami’ah PTKIN Se-Indonesia. Total perwakilan Mudir dan Pengelola berjumlah 84 orang, serta 74 mahasiswa yang mengikuti Rihlah Ilmiah.

Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag., Kepala Pusat Ma’had al Jami’ah UINSA Surabaya selaku Ketua panitia pelaksana kegiatan dalam sambutannya menyampaikan ucapan rasa syukur atas dipilihnya UINSA Surabaya sebagai tuan rumah kegiatan ini. Bagi Prof. Jazil, kesempatan ini menjadi momen spesial dan perdana setelah ditunjuk sebagai Kepala Pusat Ma’had al Jami’ah UINSA Surabaya.

Disampaikan Prof. Jazil, bahwa Forum ini juga menjadi ajang Lomba antar mahasantri –sebutan mahasiswa yang tinggal di asrama Ma’had al-Jami’ah. Antara lain meliputi: Lomba Karya Tulis Ilmiah Pesantren (LTKIP), Musabaqah Hifdhil Qur’an (MHQ), dan Musabaqah Qiraatil Kitab (MQK). “Saya yakin bukan semata-mata juaranya, yang penting silaturahimnya. Sekaligus mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi dan menginspirasi bagi santri-santri kita untuk lebih giat belajar di masa yang akan datang,” ujar Prof. Jazil.

Dijelaskan pula, bahwa Munas ini menjadi ajang silaturahim tahunan dalam rangka membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan Ma’had al-Jami’ah di PTKIN SeIndonesia. Pasalnya, hingga hari ini keberadaan Ma’had al-Jami’ah belum memiliki pola yang sama dari setiap kampus. Walaupun semua kampus sepakat kaitan urgensi keberadaan Ma’had al-Jami’ah dalam membantu mewujudkan visi dan misi kampus masing-masing, khususnya dalam pembentukan karakter mahasiswa yang berakhlakul karimah.

Kapus Ma’had berharap, dalam forum Mudir/Pengelola Ma’had al-Jami’ah nantinya akan menghasilkan naskah rekomendasi kaitan dengan pengembangan Ma’had al-Jami’ah di Kampus yang akan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) dan Pimpinan PTKIN Seluruh Indonesia.

Sementara itu, Dr. Teguh, M.Ag., Ketua Forum Mudir Ma’had Se-Indonesia menegaskan silaturahim antar PTKIN sangat penting dalam rangka Pengarusutamaan Moderasi Islam di Indonesia sebagaimana tema kegiatan. “Jadi sepanjang mahasantri itu mau mengikuti Madin di PTKIN saya yakin semuanya sudah jadi moderat. Jadi sesungguhnya ini peran yang sangat urgen di PTKIN itu sendiri,” ujar Dr. Teguh.

Program Madin, menurut Dr. teguh, merupakan Hidden Kurikulum yang memiliki peran signifikan dalam rangka mempertahankan moderasi beragama di Indonesia. Dengan kata lain, sebuah metode mempertahankan tradisi syiar agama yang dilakukan para wali di Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UINSA Surabaya, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., mewakili Rektor dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran Ma’had al-Jami’ah dalam mencegah masuknya paham radikalisme di kalangan PTKIN. “Perlu kita memikirkan kembali tidak semata-mata tentang struktur Mah’had Al Jami’ah tapi juga reposisi,” ujar Prof. Inung, panggilan akrab Warek KK.

Repositioning Ma’had al-Jami’ah dalam hal pengarusutamaan moderasi Islam di Indonesia pun menjadi penting, menurut Prof. Inung, dalam rangka memastikan para generasi penerus bangsa memiliki figur yang tepat untuk belajar tentang agama. Kaitannya dengan hal ini, forum ini mengagendakan “Deklarasi Moderasi Islam” oleh Para Mudir/Pengelola Ma’had al-Jami’ah. Sebagai bentuk ajakan kepada publik untuk istiqamah menjadikan Moderasi Islam sebagai paradigma dalam memahami Islam agar Islam Rahmatan lil ‘Alamin benar-benar wujud dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. (Nur-Alf/Humas)