UINSA Surabaya– Lebih dari seratus mahasiswa dari Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel Surabaya belajar sekolah pendamping desa dan sociopreneurship di lima dari tujuh titik Destinasi Wisata Komunitas Tanoker di Ledokombo Kabupaten Jember pada hari kelahiran Pancasila, 1 Juni 2023.

Program rutin tahunan ini mempelajari strategi pemberdayaan masyarakat dan entrepreneurship yang dilakukan komunitas Tanoker, mulai dari falsafah perjuangan, konsistensi, dan prestasi yang khas dari masing-masing titik destinasi sesuai objek yang telah dipilih.

Setiba di Ledokombo, Jember, seluruh peserta diminta berbaris untuk dibriefing dan diperkenalkan menenai strategi pemberdayaan masyarakat di Komunitas Tanoker, berikut  penjelasan agenda kegiatan harian. Nama komunitas Tanoker sendiri diambil dari bahasa Madura yang berarti “kepompong”. Komunitas ini diinisiasi oleh Cicik Farha dan Supo Raharjo. Komunitas Tanoker memiliki semboyan “bersahabat, bergembira, belajar, berkarya” yang berarti setiap aktivitas berorientasi pada pengembangan potensi manusia melalui proses pengorganisasian dan pendekatan budaya atau kearifan lokal.

Selanjut mahasiswa dibagi lima kelompok destinasi komunitas yang berbeda meliputi; 1) Sekolah Yang Eyang 2) Sekolah Bok Ibok dan Pak Bapak3) Pesantren Kopi 4) Elisa Rainbow, dan 5) SITI (Sistem Deteksi Dini Berbasis Desa), untuk selanjutnya menuju masing-masing destinasi yang jaraknya ditempuh sekitar 20-30 menit menggunakan truk/ pick up melewati bukit dan sawah di sekitar Ledokombo .

Sesampainya di masing-masing lokasi, para peserta melakukan diskusi dan  praktik sesuai arahan dari jajaran pengurus komunitas tersebut. Banyak pembelajaran menarik, edukatif, dan inspiratif yang bisa didapat dari hasil jajak masing-masing destinasi komunitas, yaitu 1) Elisa Rainbow, belajar “merangkai yang tercerai berai” dengan fokus utama pada Elisa sebagai pelopor yang berhasil melakukan pemberdayaan ekonomi perempuan setempat melalui kerajinan manik-manik dan mengekspornya ke berbagai negara, terlepas dari minimnya latar belakang pendidikan secara formal, 2) Sekolah Bok Ibok dan Pak Bapak, belajar terkait nilai gotong-royong dan kesetaraan antar sesama, 3) Sekolah Yang Eyang, belajar tentang menjadi bagaimana menjadi manusia yang bahagia di kala usia senja serta pendalaman atas nilai-nilai semangat, 4) Pesantren Kopi, belajar mengenai nilai keberanian dalam membangun perpaduan antara konsep pendidikan pesantren dan bisnis rumahan melalui praktik sangrai kopi, serta 5) SITI (Sistem Deteksi Dini Berbasis Desa), belajar tentang pedoman antisipatif lokal terhadap potensi kekerasan yang dimotori oleh para tokoh agama, masyarakat, hingga pemerintah setempat.

Setelah berkunjung ke lima destinasi komunitas, seluruh rombongan peserta dan DPL kembali ke Tanoker untuk melaksanakan istirahat, sholat, maupun makan siang. Kemudian dilanjut dengan penyelenggaraan diskusi reflektif diikuti presentasi selama kurun waktu 15 menit untuk masing-masing perwakilan kelompok. Perjalanan pulang menuju Kampus UINSA Ahmad Yani berlangsung menjelang pukul 16.30 WIB dan sampai lokasi hampir pukul 22.00 WIB.

(irena)