Column

Saat ini sedang terjadi trend sebagain besar perguruan tinggi, baik yang ada di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia hendak mengerek reputasi dan recognisi  sebagai world class university.  Dalam upaya mencapai status  tersebut terjadi berbagai dinamika, baik di intra universitas, antar universitas maupun antara universitas dengan berbagai pihak (stakeholder) di luar universitas. Jika diklasifikasi tipologi dinamika yang terjadi dapat dikategori menjadi tiga yakni, kooperasi, kompetisi dan konflik.

Pertama, kolaborasi merupakan keniscayaan dan tuntutan bagi setiap perguruan tinggi untuk mengakselerasi pencapaian reputasi dan recognisi  sebagai world class university. Tidak ada satupun Perguruan Tinggi berkelas dunia yang bekerja sendirian, monoton, tanpa berkolaborasi dengan berbagai pihak (stake holders). Kolaborasi perguruan tinggi dengan berbagai pihak dilakukan secara bertahap, mulai penjajagan kerjasama, penandatangan perjanjian kerjasama, implementasi kesepakatan kerjasama sampai mengevaluasi kerjasama. Kolaborasi Perguruan Tinggi dibangun dengan prinsip kesetaraan, kemitraan, kebersamaan, saling menguntungkan dan memberi manfaat. Para pihak yang bisa dijadikan mitra kerjasama antara lain dari unsur state/goverment seperti  lembaga eksekutif dan birokrasi, Lembaga legislative, maupun Lembaga yudikatif), dari unsur market seperti  pelaku bisnis, perusahaan/korporasi, maupun asosiasi pengusaha), dari unsur society  seperti ormas, LSM, pers, dst) baik dalam skala lokal, nasional, maupun global.

Semakin giat suatu perguruan tinggi dalam memperbanyak dan memperluas kerjasama dengan berbagai pihak yang penting dan strategis, akan memberikan added values keuntungan dan kemanfaatan, semakin mengakselerasi pencapaian status sebagai perguruan tinggi bereputasi dan terrecognisi dalam skala internasional.  Kata peribahasa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing“. “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak”.

Kedua, kompetisi (persaingan). Persaingan merupakan proses seleksi sosial yang dilakukan oleh individu/organisasi dalam membangun keunggulan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dan terbatas. Persaingan merupakan fenomena sosial yang kerap hadir. Perguruan Tinggi secara sukarela atau secara terpaksa bersaing dengan perguruan tinggi dan stake holders yang lain. Mulai bersaing mengerek status dari perguruan tinggi Satuan Kerja (Satker), ke Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (BLU), lalu ke Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH), rekrutmen mahasiswa baru, mendapatkan dana hibah dari pemerintah/Lembaga donor, mendapatkan projek yang akan berimplikasi pada income universitas dan sebagainya. Untuk memenangkan persaingan dibutuhkan daya saing yang kuat, baik SDM, tata Kelola, Jaringan, dukungan teknologi dsb. Kita harus siap bersaing di atas prinsip sportifitas, fairness, justice dan integrity. Persaingan yang sportif/sehat akan memacu dan memicu pihak-pihak yang terlibat dalam persaingan untuk memperkuat kapasitas, mengembangkan inovasi, mereproduksi kultur siap kalah dan siap menang, mengapresiasi keunggulan, dan mereproduksi kemaslahatan dan kemanfaatan (keberkahan). “Persaingan hebat tidak dibangun atas dasar kebencian. Justru persaingan hebat dibangun  di atas rasa hormat terhadap keunggulan.” – Mike Krzyzewski

Ketiga, konflik. Konflik terjadi biasanya dipicu oleh perbedaan pandangan dan kepentingan dalam memperebutkan sesuatu yang berharga dan langka. Konflik sebagai fenomena yang kerap hadir, memaksa pelaku terlibat dalam pertentangan, perseteruan dan permusuhan. Meskipun secara naluriah dan fitrah kerap tidak dikehendaki. Jika kita berada dalam situasi konflik yang sulit bahkan tidak bisa dihindari, maka Langkah bijak yang dilakukan adalah bagaimana mengelola konflik tersebut lebih dominan menunjukan sisi positif dan konstruktifnya (konflik fungsional), bukan dominan sisi negative destruktifnya (konflik disfungsional). Konflik fungsional  bisa memacu dan memicu integrasi di internal kelompok/organisasi (Lewis coser). Konflik yang fungsional bisa memacu dan memicu masing-masing pihak yang berkonflik memperkuat kapasitas dan mengembangkan kreatifitas dll. Konflik fungsional dapat diilustrasikan dalam falsafah Jawa “Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake”. Sedangkan konflik disfungsional dapat diilustrasikan dalam peribahasa “Menang jadi arang, Kalah jadi abu”.

* Dr. Andi Suwarko, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FUF UINSA